Sane Enesta adalah seorang siswa SMA biasa. Ia tidak populer, tidak pula mencolok. Satu-satunya kelebihan yang ia miliki adalah selalu mendapatkan nilai bagus. Namun, bagi Sane yang pesimis, apalagi fakta bahwa SMA Pelajar Nasional adalah sekolah el...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah meyakinkan berulang kali bahwa Sane baik-baik saja, rombongan itu akhirnya berangkat.
Mitsuki menjadi pengemudi, duduk di depan kereta. Kedua tangannya memegang tali yang diikatkan ke punggung kuda.
Sementara itu, bagian dalam kereta diisi oleh Sane, Angelo, dan Kaguya. Ketiganya duduk bersimpuh di atas lantai kereta yang beralaskan jerami.
Sane menggosok hidungnya berulang kali, terasa gatal. Ia duduk bersebelahan dengan Angelo. Sementara Kaguya bersimpuh di hadapan mereka.
"Daijoubu¹ saja kah?" tanya gadis itu.
Ini adalah kali ke sepuluh dia bertanya. Sedari tadi, wajah Kaguya terlihat khawatir.
"A-aku gapapa," jawab Sane.
"Ah, gak mungkin." Kaguya cemberut.
"Dia bilang, dia baik-baik saja, kok." Angelo tersenyum.
"Ah ya–"
Dengan wajah datar, Kaguya meraih piring berisi manisan di tengah-tengah ruangan. Ujung jari jemarinya pun putih-putih. manisan itu kemudian disuapkannya ke mulut hingga penuh.
Lalu hening. Tiba-tiba Angelo mengulurkan tangan.
"Aku Angelo. Anak ini Sane. Kita belum perkenalan secara resmi."
"Ha-halo. Aku Sane." Sane menundukkan kepala.
Akhirnya, Kaguya pun menatap mereka. Entah apa yang merasuki gadis itu. Matanya berkaca-kaca.
Kedua tangannya ditepukkan berulang kali ke pakaiannya hingga pakaian itu bertaburan oleh gula.
Wajah Kaguya memerah. Dengan gemetar, dijabatnya tangan Angelo. Lalu, isi pikiran gadis itu pun melayang jauh.
"Kaguya?" Angelo mengibaskan tangan di depan wajah Kaguya yang melamun.
"Ah, gomen²."
Begitu tersadar, Kaguya memalingkan wajah. Pipinya cemberut.
Sane saling pandang dengan Angelo.
Ada apa dengannya? Sane berbisik. Angelo mengendikkan bahu.
Tiba-tiba Kaguya mengusap wajah. Butir-butir putih gula berserakan di atas wajahnya.
Dia berdiri, berjalan ke satu sudut kereta, lalu kembali dengan membawa gelas bambu berisi air.
Diteguknya gelas itu hingga isinya habis. Lalu Kaguya terbatuk-batuk.
Gadis itu meletakkan gelas bambu ke pangkuan dan tatapannya tertuju ke luar jendela kereta.
Dari jendela kereta, tampak bahwa perjalanan mereka tiba di pematang yang gersang.
Tiba-tiba, laju kereta terhenti. Gelas di pangkuan Kaguya terlempar ke depan, mengenai wajah Sane.