Bab 19

6 0 0
                                        

Sane dan Frank masih saling membalas serangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sane dan Frank masih saling membalas serangan.

Sane menendang. Frank menghindar.

Frank balas menyabet. Sane memukul dengan sarung tangan.

Bekas goresan di sarung tangan Sane semakin membesar.

"Angelo–" Wajah Sane semakin murung.

Jangan khawatirkan aku, Sane. Aku baik-baik saja, ucap Angelo di benaknya.

Sane menggertakkan gigi.

Sarung tangan berubah menjadi sepatu boots. Sane menendang dengan disertai angin.

Frank menebas angin itu. Lalu, ujung katananya seakan memanjang menuju Sane.

Sane menggeser badan. Serangan Frank menyisakan retakan di tanah.

Frank tiba di hadapan Sane. Katana mengayun. Sane menangkis dengan Angelo kembali berwujud sarung tangan.

"Hentikan, Sane! Kau tidak sadar dengan yang terjadi pada Angelo," Frank memprovokasi.

"Diam! Angelo bilang dia baik-baik saja!"

"Daijobu¹ apanya."

Tebasan Frank semakin galak. Sebaliknya, Sane kewalahan menahan setiap serangan yang tertuju padanya.

Sebuah ayunan pedang tertuju pada wajah Sane. Sane mengepalkan tangan, bersiap membalas.

Saat kedua serangan itu bertabrakan, sarung tangan yang dikenakan Sane pecah berkeping-keping.

Sosok Angelo mewujud dari keping-kepingan itu.

"A-apa yang terjadi?" Sane kaget.

"Inilah akibatnya jika memaksa senjata-mu," jawab Frank.

Angelo berlutut. Keadaannya parah. Sebagian rambut keritingnya memutih. Wajahnya penuh bekas luka.

"A-ku ba-ik-ba-ik sa-ja–" kata bocah itu dengan tertatih-tatih.

"Angelo?" Sane menghampiri Angelo.

"Kau kenapa?" rengeknya seraya mengguncangkan tubuh Angelo.

Angelo terbatuk-batuk.

Frank menghunuskan katana menuju wajah Sane. "Misi selesai. Aku menang."

Sane gemetar.

"Tapi, ayah bilang–"

Angelo berdiri meski oleng. "Tuan Enesta berpihak pada kita. Kita takkan kalah."

"Tidak!" teriak Frank. "Pada akhirnya, Tuan Enesta-lah yang salah."

"Benarkah begitu?"

"Kita akan menang, kan?" tanya Sane ragu-ragu.

Angelo mengangguk. Tangannya menyentuh pundak remaja di sampingnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Monumen KubusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang