Bab 11 - Berjuang

12 2 0
                                        

Sane mendengar keributan di halaman itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sane mendengar keributan di halaman itu.

Harimau yang tengah diamatinya tiba-tiba meloncat dan menggedor-gedor kandang. Harimau gemuk itu memukul-mukul jeruji.

Sane tersungkur ke belakang. Terkejut.

Ke-kenapa? Apa salahku?

Harimau mengaum. Mencakar-cakar.

Ibu-ibu yang tadi memberinya makan lari menjauh. Panik. Barulah terasa, manfaat dari papan pengumuman DILARANG MEMBERI MAKAN HEWAN itu.

Sane memalingkan pandangan dari kandang. Jangan menatap hewan buas, karena hewan itu akan menganggap kau sedang menantangnya. Bukankah itu sudah menjadi pengetahuan umum?

Sssttt.

Belum pulih dari rasa terkejut, suara mendesis berbunyi di telinganya.

Remaja itu mendapati seekor ular piton, duduk di pangkuannya. Kepalanya yang pipih menoleh ke arahnya.

Sane sudah tak sanggup. Cobaan ini terlalu berat untuknya.

"TI-TIDAAKKKKK!!!!"

Ia lari terbirit-birit.

Ular itu mendarat di tanah. Binatang melata itu kehilangan jejak Sane.

Sssttt, ia mendesis marah.

Sane terus berlari. Tak peduli pengunjung kebun menatapnya aneh.

Toh, orang-orang itu seketika ikut berlari, begitu melihat satu persatu hewan buas melepaskan diri dari jeruji yang membelenggu mereka.

Sane tak sempat merasakan kekacauan di halaman itu.

Semakin jauh ia berlari, pemandangan di sekelilingnya berubah. Tak terasa, Sane tiba di ruangan yang begitu asing.

Sejauh mata memandang, tak ada kandang maupun hewan buas. Hanya pengunjung yang tengah mengamati lukisan-lukisan di dinding.

Meski seorang petugas berseragam lengkap memperingatkan–dengan pengeras suara–agar pengunjung segera evakuasi, tak satupun dari mereka mendengarkan.

Ruangan apa ini?

Sama sekali tak terlihat sebagai kebun binatang.

Agaknya, kerusuhan hewan buas tak berdampak pada ruangan itu.

-

Kenapa ini harus terjadi padaku?

Remaja itu kini meringkuk di pojokan. Tersamarkan di antara dua pilar marmer, berukiran binatang buas tengah berburu.

Aku adalah pembawa kesialan.

Tangannya tak henti-henti menggaruk kepala. Helai rambut berguguran.

Korban bermunculan karena aku–

Ia membayangkan, betapa ganas hewan-hewan buas itu menerkam para pengunjung. Teriakan. Tangisan. Jeritan. Terdengar begitu jelas.

Monumen KubusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang