Bab 16

7 1 0
                                        

Debur ombak menghantam karang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Debur ombak menghantam karang.

Seekor burung pelikan berdiri di karang tertinggi. Unggas itu menyendok air laut dengan paruhnya yang lebar.

Sirip keperakan terjepit di paruh itu. Seekor ikan yang bernasib malang.

Burung pelikan mengepakkan sayap, membumbung ke langit biru.

Di ujung langit biru itu, sebuah dinding raksasa berdiri. Terbuat dari bata yang dicat biru, sebiru langit dan lautan yang terhampar di hadapannya.

Itu adalah kastil Klan Fujimoto, kediaman Sang Kepala Klan.

Seorang remaja berkulit putih berdiri di menara tertinggi dari bangunan itu. Mata merahnya menyipit.

Ia mencibir.

Sebuah kereta kuda terlihat di kejauhan, meniti jalan setapak yang memandunya menuju kastil itu.

Remaja itu tahu apa yang harus dilakukannya.

-

Pintu bergagang emas membuka dengan disertai decitan.

Remaja berkulit putih itu masuk dengan tergesa-gesa. Mata merahnya berkedip cepat. Rambut yang sama merahnya mengkilat oleh keringat.

Frank berlutut.

Di hadapan remaja itu, tiga sosok manusia dewasa duduk di atas singgasana. Tatapan mereka tajam, mengisyaratkan mereka tak punya waktu untuk bermain-main.

"Aitsu ra¹ datang, Yang Mulia," kata Frank dengan suara bergetar.

"Huh, bukannya mereka bisa kau lawan, seperti yang biasa kau lakukan?" jawab sosok paling besar di ruangan itu.

Besar–dikata tepat juga tidak benar. Sosok itu berbadan tambun.

Zirahnya yang kekecilan membuat sosok itu bagai kurcaci terjepit di dalam botol keramik. Di dadanya terpampang simbol bunga teratai.

Ia duduk di singgasana yang paling besar di tengah.

Di sampingnya duduk seorang lelaki berwajah kasar yang seluruh rambutnya telah beruban.

"Ah, tanpa partner-mu itu, kau tak bisa apa-apa. Siapa namanya?" tanyanya seraya mengusap janggut putihnya.

"Dasar pelupa!" komentar satu-satunya wanita di ruangan itu.

Frank menyeringai. Ia tak tahan dipermalukan.

"Ini beda–"

Pintu ruangan kembali membuka. Berdebum kencang

Seorang samurai berzirah perak dengan sebagian wajah tertutup masker berdiri di mulut pintu.

Takayuki, geram Frank.

"Kau menipuku!" Meski tertutup masker, suara Takayuki begitu nyaring.

Samurai itu melempar sebuah gulungan kertas lusuh ke tengah-tengah ruangan. Begitu mendarat, gulungan itu terbuka.

Monumen KubusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang