Bab 18

10 2 0
                                        

Mitsuki berlari, menembus kerumunan demi kerumunan dan rumah demi rumah yang semakin padat saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mitsuki berlari, menembus kerumunan demi kerumunan dan rumah demi rumah yang semakin padat saja.

Dia berbelok tajam di tikungan, membangunkan seekor anjing yang tengah tidur di pojokan.

"Guk guk!"

"Gomen¹," ucap Mitsuki tanpa berbalik.

Samurai berzirah biru itu terjebak di tengah-tengah pemukiman penduduk yang bagai labirin.

Dikelilingi oleh orang-orang yang berlalu-lalang, kios penjual di setiap sudut pemukiman, dan jalanan buntu yang entah menyergap samurai itu melalui cara yang tak disangka-sangkanya.

Namun, Mitsuki harus terus bergerak.

Bunyi langkah tegap, khas sepatu tinggi, terdengar. Sahut menyahut. Semakin lama semakin banyak.

Mitsuki mengintip dari balik punggung.

Puluhan samurai mengejarnya.

Mereka mengejar terus. Sore dewa²–

Seorang samurai yang sudah dekat mengayun katana. Mitsuki menghindar dengan sigap.

Dia melihat celah di samurai yang menyerangnya. Ia melepas tendangan kuat.

Samurai itu menyilangkan katana, menangkis. Sepatu logam bertabrakan dengan bilah pedang, menghasilkan bunyi prang yang kencang.

Mitsuki berputar di udara. Sabetan kedua pedangnya menumbangkan samurai yang mengelilinginya.

Tiga tumbang. Masih sisa ratusan lagi.

Mitsuki mendarat di tanah. Melecutkan pedang, membelah angin. Segaris darah mencoret tanah.

Seorang samurai lain kembali mencoba untuk menyerang.

Sebuah sabetan katana dari atas tertuju ke kepala Mitsuki. Mitsuki mundur selangkah, menghindar.

Katana itu lantas bertabrakan dengan katana lain. Seorang samurai lain yang menyerangnya bersamaan dari belakang.

Mitsuki menekuk lutut, memutar badannya yang rendah, menebas perut samurai yang tengah linglung bercampur kaget itu.

Lima tumbang.

Mitsuki menyundulkan kepala, menabrakkan tanduk helmnya ke kepala samurai lain yang tengah mendekat.

Lawannya jatuh terhuyung-huyung.

Seluruh sosoknya lantas hilang diinjak-injak ratusan samurai lain yang terlalu sibuk menerjang tanpa berpikir.

Mikazuki

Mitsuki kembali memutar badan sekuat tenaga. Pusaran angin menyertai gerakan badan anggunnya.

Begitu terkena pusaran angin, kaki-kaki ratusan pasukan seakan kehilangan keseimbangannya.

Seperti domino, tubuh mereka yang diberatkan zirah terdorong jatuh, berdebum membanting tanah.

Monumen KubusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang