Bab 7 - Dunia

26 6 3
                                        

Angelo muncul di ruangan tak berujung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Angelo muncul di ruangan tak berujung.

Seisi ruangan itu hitam, kecuali tanah yang menjadi tempat berpijak bocah itu. Disebut tanah pun tak cocok, sebab tanah itu melayang di tengah-tengah ruangan.

Tanah berwarna dominan emas dan berbentuk seperti jarum kompas. Di kedelapan jarumnya, berdiri singgasana yang berbeda bentuk.

Ada misi apa kali ini? pikir Angelo.

Bocah itu berjalan ke jarum kompas yang menunjukkan arah selatan. Sebuah singgasana yang serupa sofa menantinya di ujung.

Angelo merebahkan diri di atas singgasana. Dudukannya begitu empuk.

Tiba-tiba, dari langit-langit ruangan terdengar raungan galak bak petir. Asap pekat muncul dari ketiadaan, menyelimuti singgasana yang diduduki Angelo dan sebuah singgasana hitam di sisi timur.

Singgasana itu tampak menyeramkan, dengan kawat berduri melilitinya dan tengkorak manusia di dudukan tangannya. Dudukannya tak seempuk singgasana Angelo, karena terbuat dari kobaran api.

Kehadiran asap itu membuat kedua singgasana seolah terisolasi dari singgasana-singgasana lain. Keduanya tak lagi berpijak pada tanah ruangan yang seperti jarum kompas itu.

Kini, Angelo duduk berhadap-hadapan dengan senjata lain yang menantinya di atas singgasana hitam. Seorang remaja laki-laki berambut lancip.

"Yo, Angelo," sapanya.

"Frank!" Angelo berkata gusar.

Remaja itu menggertakkan gigi. "Apa lagi ulahmu kali ini?"

Sosok Frank membaur menjadi debu. Dia bukanlah Frank yang sesungguhnya. Hanya ilusi.

Kemudian, kepulan asap yang mengenai debu membiaskan cahaya ke segala arah. Seperti bioskop. Potongan-potongan video bermunculan di sekeliling Angelo.

Bocah itu menonton semuanya.

Reka adegan ketika Frank membantu Dio mencuri sepeda motor Coco. Akibatnya, Dio jadi sadar akan jati diri Sane dan Angelo yang sebenarnya. Hubungan pertemanan mereka takkan sama seperti dulu.

Angelo yakin, Frank masih belum selesai. Dia pasti kembali lagi suatu saat.

Misi kali ini adalah memperbaiki kekacauan yang dibuat Frank.

-

Kesadaran Sane hendak menguap dari tubuhnya ketika dering ponsel mengagetkannya.

Remaja itu tengah berbaring di atas tempat tidur. Bantal menimpa wajahnya. Nafasnya berat.

Ponsel Sane tergeletak tak jauh darinya.

Tangan remaja itu merayap, meraih ponselnya yang bergetar.

Alat itu didekatkan ke telinga.

"Halo?"

Monumen KubusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang