Sane Enesta adalah seorang siswa SMA biasa. Ia tidak populer, tidak pula mencolok. Satu-satunya kelebihan yang ia miliki adalah selalu mendapatkan nilai bagus. Namun, bagi Sane yang pesimis, apalagi fakta bahwa SMA Pelajar Nasional adalah sekolah el...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sane dan Takayuki berdiri saling berhadap-hadapan. Sane mengepalkan kedua tangan. Takayuki meluruskan katana.
Namun, tatapan Takayuki kosong. Mengisyaratkan pikirannya sedang tidak terpusat pada pertarungan di tempat itu.
Yang dilihat oleh lelaki itu di hadapannya adalah neraka.
Sekeliling tempat itu terbakar.
Kelambu merah berkibar-kibar digerogoti bara api. Bebatuan menghujani lantai kayu yang semakin retak.
Satu-satunya yang tersisa adalah tempat tidur di tengah-tengah ruangan.
Seorang gadis berselimutkan kain putih berbaring di atas tempat tidur. Kulitnya keriput. Rambutnya telah memutih seluruhnya.
"Takayuki," ucapnya lemah, "Tasukete¹."
"Kau!" ucapan Takayuki terhenti. "Harusnya kau sudah mati!"
"Tolonglah. Dari tempat ini, keluarkan aku."
"A-aku!"
"Aku percaya, kau bukanlah pengkhianat."
"AAAAAAARRRRRRGHHHHHH!!!"
Takayuki menghunuskan katana menuju gadis itu.
"Enyahlah!"
Gadis kecil itu berubah menjadi sosok Sane yang tengah bersiap dengan kuda-kuda. Katana yang dihunuskan Takayuki tertuju pada remaja itu.
Sane menangkap bilah katana dengan sarung tangan. Tangannya yang satu lagi balas memukul. Takayuki melompat mundur.
Angin pukulan Sane membekaskan lubang di tanah.
Sane bersiap maju. Tetapi langkahnya terhenti. Telinganya menangkap bunyi gemerisik
Ada apa, Sane? tanya Angelo di benaknya.
Sane tak menjawab. Ia justru memalingkan pandangan dari lawannya.
Merasa mendapat celah, Takayuki maju.
"Perhatian dari lawan jangan dipalingkan. Itulah aturan utama dalam duel!"
Dari langit, seekor elang hitam melesat. Menyambar Sane dengan begitu cepat. Sane menghujamkan tinju menuju elang itu, namun si binatang meliuk menghindar.
Elang itu kemudian gantian melesat menuju sang samurai bertopeng.
Perhatian Takayuki pecah. Kuda-kuda Takayuki mulai goyah. Samurai itu melompat ke belakang. Genggaman katana-nya gemetar.
Giliran Sane yang maju.
Takayuki menghunuskan ujung katana menuju Wajah Sane. Gerakan Sane terhenti sebelum wajahnya menjadi korban.
-
Mata samurai bertopeng menyipit. Ia memperhatikan Sane, kemudian bergeser ke Mitsuki, terakhir ke kereta kuda di belakang mereka.