Sane Enesta adalah seorang siswa SMA biasa. Ia tidak populer, tidak pula mencolok. Satu-satunya kelebihan yang ia miliki adalah selalu mendapatkan nilai bagus. Namun, bagi Sane yang pesimis, apalagi fakta bahwa SMA Pelajar Nasional adalah sekolah el...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Begitu terbangun, Sane dan Angelo berada di tempat yang asing. Mereka duduk di atas tumpukan jerami. Memandang keramaian yang lalu lalang di sekeliling mereka.
"Di mana ini?" tanya Sane.
Sejauh mata memandang, berbaris rumah-rumah beratap kayu berbaris rapi. Pepohonan sakura tumbuh di halaman rumah-rumah itu, seakan lorong yang mengurung jalanan.
Orang-orang berpakaian yukata berlalu lalang di jalanan yang dinaungi bunga sakura.
Seperti di Jepang, pikirnya.
Angelo mengangguk. Bocah keriting itu pun menjawab, "Ini adalah Zaman Api."
Sane teringat perkataan Angelo sebelumnya, saat masih di dunia mereka.
Ada kemungkinan kalau kita akan berpencar sesampainya di sana.
Wajah Sane mendadak pucat. Dia menatap Angelo, lalu bergantian ke keramaian di jalanan.
"Tadi katamu kita akan berpencar, Angelo?" tanyanya dengan nafas menderu.
"Sepertinya, kebetulan kita muncul di tempat yang sama, Sane." Angelo tersenyum.
"Terus, sekarang kita ngapain?" Sane tak henti-hentinya bertanya.
"Tunggu saja."
"Tunggu apa?"
"Tunggu petunjuk dari Tuan Enesta."
Belum terjawab maksud dari Angelo, seorang samurai menghampiri mereka. Lelaki itu berusia dua puluh tahunan. Wajahnya yang tampan dihiasi janggut tipis.
Ia mengenakan zirah lengkap berwarna biru–mencolok memang. Di helmnya terdapat tanduk yang berbentuk melengkung setengah lingkaran.
"Kalian berdua!" panggilnya.
Melihat wajah samurai yang galak itu, Sane bergidik ngeri.
Namun, Angelo justru berjalan menghampirinya.
"Pakaian kalian aneh keliatannya. Kalian dari sini, bukan?" tanya samurai itu.
Ia berpikir betapa dua anak itu mengenakan pakaian yang aneh. Menurutnya, jaket Sane tampak seperti jubah abu-abu dan kaos putih Angelo tampak seperti pakaian pengemis.
Pakaian yang hanya dipakai oleh orang tak mampu, batinnya.
"Ya. Kami turis yang kebetulan mampir," jawab Angelo.
"Turis?"
"Oh, mungkin dari bahasa kalian, maksudnya pendatang," Angelo tersenyum.
Samurai itu berkacak pinggang, Ia mendengus kesal. "Harusnya kalian ke Yang Mulia Kaguya-sama untuk melapor."
"Bawa kami ke sana," ucap Angelo, dengan nada yang seolah memerintah.