•
•
•
•
•
•
"Mas! Dengerin aku dulu, kamu salah paham, itu nggak ap___"Prata melemparkan puluhan foto Zarima dengan pria lain bahkan tidak dengan satu pria saja.
"Kamu pikir saya tidak tau apa yang kamu lakukan di belakang saya!! Hah! Sekarang juga kamu keluar dari rumah saya!" Kesabaran Prata sudah habis, ia sudah tidak tahan dengan Zarima,
"Jangan pernah muncul dihadapan saya, jika kamu berani muncul saat itu juga saya bunuh kamu! Mengerti!" Tegas Prata.
"Kamu saya talak!" Untuk sekian kali nya Prata talak Zarima, Seketika Zarima jatuh terduduk lemas tak berdaya.
Mereka menikah hanya sah dimata agama tidak dengan negara, sebenarnya Prata terpaksa menikahi Zarima untuk menjalankan kepalsuan atas kematian ibunda Callysta. Agar musuh nya percaya bahwa mereka telah berhasil membunuh istri Prata. Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Carlinta. Prata tidak pernah menyentuh Zarima, walaupun satu kamar namun tidak seranjang. Ia tidak mau tidur dengan wanita lain selain Carlinta, hanya Carlinta yang boleh melakukan apa saja padanya. Se-egois itu cintanya.
"Selamat siang! Dengan saudari Zarima Fatma?"
"Anda kami tahan atas tersangka Pembunuhan berencana dan atas korupsi sebesar 1 miliar, saudara Zarima silahkan ikut kami ke kantor polisi."
"Mas!" Prata memalingkan wajahnya.
°°°°°
Callysta duduk sendiri di balkon kamar, pandangan kosong. Ia tidak mau bertemu dengan Prata, Callysta tidak marah hanya kesel saja dengan dirinya sendiri kenapa ia hal itu tidak tau. Siapa yang harus disalahkan atas ini semua? Tidak ada jawaban. Callysta ingin meminta penjelasan dari atas semua yang terjadi, ia masih belum mengerti. Apa semudah itu mempermainkan perasaan seseorang, bertahun-tahun ia melewati masa sulit yang tidak bisa di jelas.
Dia juga manusia normal bisa merasakan sakit dan kecewa, Callysta tidak tau langkah mana yang harus ia lalui terlebih dahulu. Callysta tau bukan hanya diri nya yang kesulitan, tapi rasa sakit itu membuat nya egois untuk tidak mendengarkan siapa pun. Di saat ia sendiri, butuh seseorang tidak ada yang mendampinginya, ingin marah tapi tidak berhak karena bukan Callysta saja yang berada di posisi tersebut.
Apakah ia boleh egois sekali saja dalam situasi seperti ini? Callysta lelah. Ia selalu merindukan orang yang ia pikir tidak dapat bertemu lagi. Sekarang orang itu ada di dekatnya bahkan sangat dekat. Namun rasa kecewa dan kesel lebih besar dari pada rasa rindu itu, Callysta kesepian meski orang orang disekitarnya ramai.
"Kamu kenapa? Hm?" Arabian memeluk Callysta dari belakang,
"Are you okay baby?"
"Gak, aku rasa, aku jatuh cinta sama kamu." Kata Callysta menatap langit.
"Apa? kamu tau sayang, aku jatuh cinta setiap hari sama kamu, bahwa bertahun-tahun lamanya aku sudah cinta sama kamu." Ungkap Arabian.
"Hah!"
"Ayok keluar, anak anak udah nunggu di bawah."
"Mau kemana?"
"Nanti juga tau"
Jalanan kosong, tidak ada kendaraan lain selain anak anak Black Janson. Ini tempat ternyaman saat di bantai oleh masalah, bermotoran tengah malam tidak seburuk itu, malahan ini sangat menenangkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
CALLYSTA! |END|
RomanceFollow dulu sebelum baca! Selama dua tahun tinggal di Amerika, Callysta memutuskan untuk kembali ke indonesia dan sekolah disana. Callysta kembali untuk mencari tau penyebab kepergian sang bunda. Sebenarnya apa yang terjadi delapan tahun yang lalu...