"Bagaimana menurutmu?" tanya Suigetsu pada Sasuke yang tengah memperhatikan sebuah televisi berukuran besar di ruang tengah. Suigetsu baru saja membeli televisi itu, katanya akan sangat berguna jika teman-temannya datang berkunjung ke rumahnya.
Sasuke mengangguk kecil, temannya yang satu itu memang senang membeli barang-barang baru tanpa berpikir panjang. "Bagus. Kau pasti menghabiskan gajimu selama dua bulan," cicit Sasuke, dia duduk di sofa.
Jawaban Sasuke membuat Suigetsu tertawa lepas. "Gajiku tidak sekecil itu, loh..." sinisnya sambil bangun dari duduknya dan pergi ke dapur. "Jadi, katakan, ada apa? Kenapa tiba-tiba datang ke sini?" tanya Suigetsu dari dapur, apartemennya tidak begitu luas sehingga dia tidak perlu berteriak saat bicara.
Pertanyaan Suigetsu disambut Sasuke dengan helaan napas berat. Ia menyenderkan diri di sofa kemudian memejamkan matanya. Sasuke memekik kaget saat Suigetsu menempelkan kaleng dingin ke pipinya yang mulus. "Kau ini..." geram Sasuke. "Aku hanya ingin main," jawabnya pelan sambil menerima kaleng soda dari tangan temannya.
Sasuke dan Suigetsu sudah berteman sejak SMA. Pertemuan pertama keduanya terjadi di lapangan sekolah, saat itu Sasuke dihukum karena terlambat dan Suigetsu dihukum karena memukul lima teman sekelasnya. Mereka berdua berlari mengelilingi lapangan dan menjadi dekat sejak hari itu.
"Hanya ingin main? Seorang Uchiha hanya ingin main?" ejek Suigetsu, paham betul betapa sibuknya Sasuke sejak mulai bekerja di perusahaan keluarga Uchiha. "Jujur, Sasuke. Kau pasti ingin membicarakan sesuatu kan?"
Kepala Sasuke miring, pandangannya kosong menatap televisi yang baru menyala. Sebenarnya Suigetsu memang benar, ada yang ingin Sasuke katakan, makanya dia memutuskan untuk datang ke rumah pria itu. Tapi saat sudah sampai, keinginan Sasuke untuk bicara malah hilang. Sekarang dirinya tidak ingin melakukan apa-apa kecuali duduk dan minum soda.
"Pasti tentang istrimu," celetuk Suigetsu yang disambut oleh Sasuke yang terbatuk-batuk karena tersedak. "Benar kan... Kau ini memang cerdas dan misterius, tapi tidak bisa membohongiku," Suigetsu tertawa.
Sasuke memutar matanya malas. "Diam," gerutunya.
"Kalian bertengkar?" tanya Suigetsu yang sudah duduk di dekat Sasuke sambil mengocok minuman kalengannya.
"Tidak."
Kepala Suigetsu mengangguk kecil mendengar jawaban Sasuke. "Kalau begitu... Kalian terlilit masalah ekonomi dan mau meminjam uangku? Begitu?"
"Bukan, Suigetsu."
"Lalu kenapa?" tanya Suigetsu yang sudah sedikit gregetan. "Sasuke... Jangan bilang kau ketahuan selingkuh? Hei!" Suigetsu memukul pelan lengan Sasuke, pria dengan rambut yang dicat putih itu menutup mulutnya dengan dramatis.
Sasuke menepuk dahinya. "Mau menebak sampai seribu kali pun tetap akan salah," ujarnya malas. "Sudahlah, lupakan saja."
Keduanya terdiam selama beberapa menit. Sasuke fokus pada tayangan di televisi sementara Suigetsu fokus pada Sasuke dan menghela nafas.
"Sasuke, aku penasaran, apa kau bahagia sekarang?" tanya Suigetsu tiba-tiba dengan suaran pelan dan penuh keseriusan.
Yang ditanyakan Suigetsu sukses membuat Sasuke terkejut sementara tangannya meremas kaleng soda hingga sedikit rusak. Sasuke terdiam cukup lama hingga kepalanya menggeleng kecil, merespon pertanyaan temannya.
"Entahlah," jawab Sasuke singkat.
Tentu saja jawaban itu tidak membuat Suigetsu puas. "Belakangan ini aku menyadari ada yang berbeda darimu, jangan kau kira aku tidak mengetahui apa penyebabnya," ujar Suigetsu enteng. "Hm... Dan sejak awal aku sudah mengatakan bahwa kau tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
SasuSaku: The Rest Days With You
Fan-FictionSakura yang mulai nyaman. Sasuke yang semakin tak nyaman. Lalu, bagaimana pernikahan yang dimulai dari perjodohan ini akan berakhir? [ SasuSaku Romance and Angst Fanfiction ] ©Masashi Kishimoto
