"Kau masih sedih?"
Sakura mengangkat kepalanya, menatap sang suami yang jelas jauh lebih tinggi. Sasuke membalas tatapan Sakura dengan senyuman tipis, tangannya bergerak mengelus pelan kepala dan rambut merah muda milik istrinya itu.
"Naruto pasti sudah membuat keputusan terbaik," ujar Sasuke. "Jangan sedih begitu..." sekali lagi, Sasuke mengelus dan mengusak rambut Sakura.
Sederhana, tapi Sakura berhasil dibuat berdebar karenanya.
Perihal Naruto, tadi pagi, pria berambut kuning itu datang ke toko roti Sakura dan mengungkapkan sesuatu yang membuat Sakura terkejut dan cukup bersedih.
"Sakura-chan, aku sudah memutuskan untuk tidak jadi membuka cabang baru di sini."
Jujur saja, Sakura sangat terkejut, terutama setelah mengingat-ingat betapa bersemangatnya Naruto dalam merencanakan pembukaan cabang baru untuk restoran ramennya selama ini. Sakura juga bersedih karena entah sudah berapa kali ia dan Naruto membicarakan banyak hal tentang wacana seandainya suatu hari nanti ia dan pria itu benar-benar bertetangga, baik itu sebagai teman maupun seorang pebisnis.
Ya, cabang baru restoran Naruto itu tadinya akan dibangun tak jauh dari toko roti Sakura. Sudah cukup lama Naruto bekerja keras untuk menyelesaikan beberapa hal, tetapi entah mengapa pria itu malah menyerah sekarang, padahal bisa dibilang usahanya sudah hampir berhasil.
Kebetulan, saat Naruto hendak bicara dengan Sakura tadi, Sasuke sedang mampir di toko roti, jadilah mereka bertiga mengobrol-ngobrol. Sasuke juga menyampaikan bahwa ia akan mendukung keputusan Naruto, apapun itu.
"Lagi pula, bukankah Naruto tetap akan mengunjungimu?" tanya Sasuke sambil merapikan piring-piring yang sudah dicuci oleh Sakura.
Sakura tersenyum, ia merasa senang karena Sasuke tahu dan paham perasaannya sekarang. Sasuke tahu kalau Sakura sedang bersedih, pria itu tahu kalau istrinya butuh hiburan. "Terima kasih, Sasuke-kun..." ucap Sakura pelan, tangannya bergerak memeras kanebo basah yang baru ia gunakan untuk mengelap air di sekitar wastafel cuci piring.
"Atau kita bisa mengunjungi rumah Naruto lain kali, dia pasti senang."
Mata Sakura berkedip-kedip, mulai mempertanyakan sejak kapan Sasuke akrab dengan Naruto? Seingatnya, dua pria dewasa itu baru bertemu beberapa kali. Apakah mereka bertukar pesan? Atau saling berhubungan tanpa sepengetahuan Sakura?
"Nah, tidurlah, pokoknya kau harus bangun dengan ceria besok pagi."
.
.
Ada yang berbeda dengan Sasuke.
Kalau dipikir-pikir, pria itu memang sudah menunjukkan perubahan tak lama setelah Sakura menjelaskan semua tentang penyakit yang ia derita, tapi kali ini.. perubahan yang lebih besar, perubahan yang pasti akan disadari oleh banyak orang.
Sakura bukanlah tipe manusia yang senang mengingat masa lalu, maka tak ingatlah dia bagaimana sikap Sasuke padanya dulu—sebelum pernyataan pria itu di kantornya; “aku tidak mencintai Sakura sedikitpun”.
Fakta itu sudah Sakura telan bulat-bulat, ia tidak ingin mengingat apa yang keluar dari mulut Sasuke malam itu. Cinta Sakura pada suaminya tidak berkurang sedikitpun, tidak ada rasa benci di hatinya meski pengorbanan dan perasannya jadi terkesan sia-sia.
Apa yang tersisa sekarang adalah sesuatu yang perlu Sakura jaga. Kini, satu-satunya fakta yang ada hanyalah, Sasuke membutuhkan Sakura dan begitu pula sebaliknya.
"Sakura, tarik resleting jaketmu hingga ke atas.. nah, seperti ini."
Sudah Sakura katakan, ia bukan orang yang senang mengingat masa lalu termasuk bagaimana sikap Sasuke padanya dulu, tapi apa saja yang ia rasakan belakangan ini membuatnya sadar bahwa.. Sasuke berubah, benar-benar berubah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SasuSaku: The Rest Days With You
FanfictionSakura yang mulai nyaman. Sasuke yang semakin tak nyaman. Lalu, bagaimana pernikahan yang dimulai dari perjodohan ini akan berakhir? [ SasuSaku Romance and Angst Fanfiction ] ©Masashi Kishimoto
