Selama hidupnya, Sasuke sadar bahwa ia menyayangi dan mencintai banyak orang.
Kedua orangtuanya, kakaknya, rekan-rekannya.
Sasuke menyayangi mereka, menghargai dan mensyukuri eksistensi mereka dalam hidupnya. Sasuke bersedia melakukan apapun untuk mereka yang ia sayangi, terutama kedua orangtuanya—yah, hal itu terbukti dari keseriusannya dalam menerima permintaan sang ayah untuk segera menikah.
Selama hidupnya, Sasuke tumbuh dalam balutan kasih sayang banyak orang, ia sadar bahwa dirinya dicintai dan dikasihi oleh semua orang terdekat. Tak hanya itu, setelah Sasuke bekerja dan punya jabatan di kantornya, ia menerima banyak sekali rasa hormat dari rekan kerjanya, Sasuke disegani, tak pernah sekalipun ia merasa direndahkan, semua orang juga tampak seperti mensyukuri keberadaannya.
Mencintai dan dicintai.
Sasuke merasakan itu semua, bahkan setelah ia kehilangan sang ibu, Sasuke tetap tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun.
Bukankah seharusnya ia bahagia? Bukankah seharusnya Sasuke merasa cukup? Tapi mengapa selalu ada rasa kosong dalam hatinya? Mengapa Sasuke merasa seperti ada sesuatu yang kurang, sedangkan ia sudah memiliki segalanya dalam kehidupan?
Perasaan hampa itu Sasuke simpan dan genggam erat-erat—lagi pula, dirinya sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan. Sasuke berjalan membawa kehampaan itu, hidup beriringan dengan kebingungan yang semu, hingga seorang wanita datang dan mengajarkan banyak hal padanya.
Mengajarkan kasih.
Mengajarkan yang manis maupun yang perih.
Satu persatu warna putih dalam hidup Sasuke dilukis oleh wanita itu, warna hitam dalam dirinya luntur, digantikan oleh warna-warni yang indah. Bak seorang pelukis, wanita itu berhasil mengubah kanvas putih hidup Sasuke menjadi lukisan yang begitu mempesona, menarik untuk dilihat, menyenangkan untuk dijalani. Sasuke tidak menyadarinya hingga hembusan cinta datang menerpa, Sasuke tidak mampu mensyukurinya hingga Tuhan menegurnya dalam waktu yang singkat.
Bertahun-tahun bersama si wanita membuat Sasuke sadar apa maksud dari kehampaan di hatinya; ia tidak cukup mencintai dirinya sendiri, Sasuke tidak cukup mengasihi dirinya seperti ia mengasihi orang lain. Hidup bersama wanita itu membuat Sasuke menyadari satu hal; sebanyak apapun cinta yang kau peroleh, tak akan ada maknanya jika kau tidak mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu.
Wanita itu bukan hanya warna dalam hidup Sasuke, tapi juga sinar, cahaya yang begitu berkilau. Saat Sasuke menyadari betapa berharganya cahaya itu, ia bersumpah akan menjaganya dengan cara apapun, Sasuke akan memberikan banyak cinta dan kasih sebanyak yang ia terima dari orang lain, sebanyak yang ia berikan pada dirinya sendiri.
Sasuke tidak mampu berbuat banyak saat cahaya itu redup tanpa peringatan.
Lukisan indah yang sudah digambar oleh wanita itu habis dilahap kegelapan.
Dan Sasuke berharap andai saja dirinyalah yang dipilih oleh kematian.
.
.
"Jadi... Apakah ada kabar baik minggu ini?"
Seorang wanita berusia kira-kira 40 tahun menyatukan jari jemarinya di atas meja, bibirnya melengkung membentuk senyum simpul. Wanita yang berprofesi sebagai psikolog itu menatap Sasuke, pasiennya lamat-lamat.
"Bukan berita yang penting tapi..." Sasuke menggantungkan ucapannya sebelum kembali bicara, "saya sudah tidak sulit tidur belakangan ini, mungkin, yah, insomnia saya mulai membaik."
Shizune, psikolog itu tersenyum lebar. "Tetap saja, itu kabar baik, loh, Anda berproses," ujarnya penuh kebahagiaan, dan entah bagaimana kebahagiaan itu turut merasuki hati kecil Sasuke. "Saya yakin Sasuke-san pasti menjalani hidup dengan baik."
KAMU SEDANG MEMBACA
SasuSaku: The Rest Days With You
FanficSakura yang mulai nyaman. Sasuke yang semakin tak nyaman. Lalu, bagaimana pernikahan yang dimulai dari perjodohan ini akan berakhir? [ SasuSaku Romance and Angst Fanfiction ] ©Masashi Kishimoto
