Be With You

1K 87 18
                                        

"Luar biasa, Sasuke benar-benar jatuh cinta padamu," Ino menggelengkan kepalanya sebelum mengambil satu potong keripik ubi dan memasukkannya ke dalam mulut.

Sakura mendengus. "Aku hanya bercerita saja, tidak perlu begitu," ujarnya. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar kekasihmu?"

Senyum Ino membentang di sepanjang bibir. "Kau tau," Ino membenarkan posisi duduknya. "Minggu lalu Sai bilang ingin segera menikah."

Jawaban itu lantas membuat Sakura memekik senang, ia tertawa dan bertepuk tangan seperti anak kecil yang tengah merayakan hari ulang tahun di depan kue tart. "Aku sangat menantikan itu! Aaah, Ino, dengar ini, pokoknya kau harus bahagia!" Sakura bangun dan merengkuh tubuh Ino.

"Sakura..." gumam Ino pelan, tangannya bergerak mengelus punggung sahabatnya. "Kalau begitu, kau harus lebih bahagia."

.
.

Sakura selalu menikmati waktunya di toko roti. Tentu saja, tak peduli berapa banyak kesulitan yang ia hadapi, Sakura tetap mensyukuri tiap detik yang ia jalani sebagai seorang baker, sebagai seorang wanita yang memulai bisnisnya dari nol.

Senyum Sakura selalu merekah tiap kali seorang pembeli datang ke kasir dan menyerahkan beberapa potong roti untuk dibungkus. Semua roti yang dijual di toko ini murni hasil dari percobaan Sakura sejak ia masih muda, bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah. Toko roti ini memang belum besar, menunya pun belum begitu banyak, tapi Sakura bersyukur bahwa salah satu mimpinya sudah tercapai.

"Selamat datang!" suara Tenten terdengar, tanda seorang pembeli baru telah datang. "Wah, kali ini Anda datang dengan cucu Anda!"

Sakura yang baru keluar dari belakang langsung dibuat sumringah akan kehadiran seorang nenek serta anak kecil di gandengannya. Dua orang pembeli itu berjalan menghampiri Sakura di depan etalase. "Selamat datang," ujar Sakura pelan, penuh perhatian.

"Aku mengajak si kecil ini karena dia tidak mau ditinggal sendirian di rumah, tumben sekali," si nenek menggelengkan kepalanya.

"Tidak masalah, kan? Aku senang sekali bisa bertemu dengan si kecil ini," Sakura terkekeh. "Halo, siapa namamu?" tanyanya pada anak kecil berusia tiga tahun yang masih menggandeng tangan neneknya itu.

"Yuuji..."

"Aah, Yuuji manis sekali. Ooh, lihat! Rambut kita sama!" Sakura menunjukkan rambutnya yang dicepol dan disembunyikan dalam topi atribut khas toko rotinya. Yuuji mengangguk dan tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat dari luar.

"Yuuji-chan, kau bilang mau minum susu dingin kan? Pergilah dan duduk bersama Onee-san itu," Yuuji mengangguk dan mulai berjalan menuju pojok cafe, kehadirannya disambut baik oleh Hinata yang kebetulan memang sedang melayani seorang pembeli di sana.

Usai memastikan Yuuji duduk dengan baik, Sakura mulai memfokuskan diri pada seorang wanita tua di hadapannya. "Apa yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan lembut.

Wanita itu mengangguk, matanya celingukan seperti tengah mencari kue mana yang enak untuk dibeli. "Aku mau Japanese cheesecake ini untuk Yuuji di rumah nanti," pesan si nenek. "Lalu.. apa ini? Oh, blackberry jam Swiss roll, terlihat lezat, aku mau satu yang utuh dan tolong dibungkus dengan cantik ya, Haruno-chan."

Kepala Sakura mengangguk. "Tentu," tangannya dengan lihai membungkus dua pesanan itu. Biasanya, ini adalah pekerjaan Tenten atau Hinata, tetapi khusus kali ini Sakura yang melakukannya. "Apakah kue ini untuk seseorang?"

"Iya, aku akan mengunjungi suatu tempat nanti sore," si nenek mengangguk. "Hari ini adalah peringatan setahun meninggalnya kedua orang tua Yuuji sekaligus hari ulang tahunnya."

SasuSaku: The Rest Days With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang