A Conversation

1K 91 1
                                        

Selamat pagi Sasuke-san, apa kau ada waktu luang hari ini atau besok? Aku ingin bertemu dan membicarakan sesuatu denganmu. Tolong balas pesan ini dan mari kita atur pertemuannya. Semoga aku tidak mengganggu waktumu, terima kasih.

Begitu isi pesan Naruto pada Sasuke yang dikirimnya tadi pagi. Langsung saja Sasuke membalas pesan itu dengan mengatakan bahwa dirinya akan pulang bekerja pada malam hari. Sekitar satu jam kemudian keduanya bercakap-cakap singkat guna mengatur pertemuan dan diambil kesepakatan bahwa mereka akan bertemu di sebuah restoran yang terletak tak jauh dari apartemen Sasuke.

Di restoran itulah Sasuke berada sekarang, menunggu Naruto yang tadi mengabari bahwa dirinya sedang terjebak macet. Setelah lima belas menit, batang hidung Naruto mulai terlihat, pria itu datang dengan kaos santai dan celana jeans, tangannya melambai pada Sasuke, ia tersenyum tipis.

"Maaf, kau jadi menunggu," ujar Naruto sambil mengangkat tangan guna memanggil pelayan dan memesan americano. "Kau benar-benar tidak sibuk kan, Sasuke-san?"

Sasuke menggeleng kecil, diam-diam dia menduga bahwa Naruto tahu kalau dirinya adalah orang kantoran dengan jadwal yang cukup padat. "Jangan khawatir soal itu, aku malah menghindari kegiatan saat hari libur," ucapnya. "Bagaimana kabarmu, Naruto-san?"

"Aku sehat, kuharap kau juga sehat," jawab Naruto. "Kita langsung saja, aku tidak mau memotong waktu istirahatmu."

"Tentu. Ada apa?"

"Ini tentang Sakura-chan."

Sasuke menghela napas, sebelum pertemuan ini terlaksa pun dirinya sudah punya firasat tentang apa yang akan menjadi bahan pembicaraan. Naruto adalah teman Sakura, sudah pasti pria itu ingin membahas apapun tentang sahabatnya.

"Kau keberatan? Aku tidak akan membahasnya kalau begitu," tanya Naruto pelan, jelas ada rasa khawatir yang sulit dijelaskan dalam pancaran matanya.

Setelah berdeham kecil, Sasuke membuka mulut. "Tidak sama sekali, Naruto-san, aku senang bisa membicarakan ini denganmu."

Memang benar, Sasuke ingin sekali membicarakan dan menanyakan beberapa hal pada Naruto, termasuk tentang Sakura dan penyakitnya yang tidak pernah Sasuke ketahui sebelumnya.

"Baiklah. Sebelumnya aku ingin minta maaf," ujar Naruto pelan, ia menunduk sebelum kembali mengangkat kepalanya. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan masalah Sakura-chan darimu."

"Soal itu tidak perlu kau permasalahkan, Naruto-san, aku paham kau pasti juga mengalami kesulitan selama menyimpannya sendirian. Sakura sudah mengatakan semua, dia bilang dialah yang memintamu untuk tetap diam."

"Kau benar, dia yang memintaku untuk merahasiakan semua, tapi aku tetap merasa bersalah, seharusnya kau adalah orang pertama yang mengetahui apapun tentang Sakura-chan karena kau adalah suaminya."

"Naruto-san..." Sasuke menghela napas berat. "Apa Sakura tidak mengatakan apapun soal alasan mengapa dia ingin kau tetap diam?" tanyanya datar. Sasuke memperhatikan raut wajah Naruto, pria itu mengerutkan keningnya dan menggeleng pelan, penuh kebingungan. Keduanya saling melempar tatapan.

"Sakura-chan hanya mengatakan dia tidak ingin membuatmu khawatir..."

Ah, begitu.. rupanya Naruto tidak tahu apa-apa tentang alasan mengapa Sakura memilih untuk diam saja sejak ia didiagnosis kanker otak. "Lebih dari itu, ini berkaitan dengan kehidupan pribadiku, jadi kau tidak perlu khawatir," ujar Sasuke pelan. "Aku yang seharusnya merasa bersalah karena tidak menyadari kondisi Sakura yang buruk, kau telah menjaganya saat aku tidak tau apa-apa, terima kasih banyak, Naruto-san."

Naruto terdiam sementara Sasuke dapat melihat mata pria itu siap menjatuhkan buliran air saat ini juga.

"Aku bersyukur Sakura-chan punya dirimu. Selama ini Sakura-chan selalu menyimpan semuanya seorang diri, bahkan mungkin aku tidak akan mengetahui apa-apa tentang penyakitnya jika aku tidak memintanya untuk periksa."

SasuSaku: The Rest Days With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang