What Does This Mean?

1.2K 110 6
                                        

Flashback!

Kizashi menyeruput kopi hitamnya sebelum kembali membuka mulut, "Sakura itu anak yang aneh."

Entah apa yang harus Sasuke berikan sebagai respon atas ucapan pria tua itu, dia hanya tersenyum dan mengangguk kecil seolah menyetujuinya.

Sasuke dan Kizashi, ayahnya Sakura, sedang berbincang empat mata di rumah pria bermarga Haruno itu. Setelah membahas beberapa hal yang berkaitan dengan pernikahan, Sasuke memutuskan untuk menerima ajakan Kizashi untuk minum kopi bersama dan berbincang-bincang layaknya keluarga. Sedangkan Sakura tidak ada di rumah, sedang mengerjakan sesuatu di toko roti, katanya.

Sejak tadi, tidak banyak yang mereka berdua bicarakan, Sasuke sendiri masih merasa canggung ketika berhadapan dengan Kizashi, jadilah dia hanya mendengar apa yang pria itu katakan, kebanyakan hanya tentang Sakura, anak semata wayangnya. Cerita Kizashi menambah pengetahuan Sasuke tentang Sakura, ternyata banyak sekali hal yang tidak dia ketahui tentang wanita itu, padahal Sasuke yakin kalau Sakura pasti sudah mengetahui seluk-beluk tentang dirinya.

"Meski tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, dia tetap menjadi anak yang baik hati. Di saat teman sebayanya pergi liburan bersama keluarga mereka yang utuh, Sakura hanya menjadi pendengar cerita dan menanggapi cerita temannya dengan antusias," dapat Sasuke lihat mata Kizashi berbinar, air mata mungkin siap jatuh ke pipinya kapan saja. 

"Dia benar-benar kuat, ya..." hanya itu yang keluar dari mulut Sasuke, itu pun dia ucapkan tanpa sadar. Setelah mendengar cerita Kizashi, memang tak ada yang dapat Sasuke katakan. Dan lagi, tak ia sangka kalau Sakura yang ceria itu menyimpan banyak hal dalam hidupnya. Tak Sasuke sangka kalau wanita yang selalu membantunya sejak hari pertama mereka berteman itu punya setumpuk masalah yang mungkin tak pernah ia ceritakan pada siapa-siapa.

"Begitulah," Kizashi tersenyum simpul, menatap Sasuke dengan matanya yang sipit. "Sasuke, tentang perjodohan kalian, pada awalnya paman juga tidak menyetujuinya, tapi pikiran paman berubah usai mendengar alasan Fukagu-san. Tentu saja paman tidak berharap banyak karena keputusan ada di tangan kalian, kalau saat itu kau menolaknya mentah-mentah pun paman pasti akan menerimanya." 

Sasuke berdeham, ingin bicara. "Sejujurnya aku pun terkejut dengan apa yang ayah katakan, tapi aku tidak bisa menolak detik itu juga demi kehormatannya," kata Sasuke, ia menghela napas. "Paman, aku sungguh minta maaf untuk segalanya."

"Eh? Untuk apa?" Kizashi yang sedang mengangkat cangkir kopi menoleh cepat dan memasang raut wajah bingung, persis seperti Sakura ketika wanita itu terkejut karena suatu pernyataan atau pertanyaan.

Sasuke menarik napas sebelum kembali membuka mulut. "Paman tahu, baik aku maupun Sakura sudah memutuskan berteman saja, tapi tiba-tiba saja aku melamarnya karena alasan pribadi dan kami akan menikah dalam waktu dekat. Jika paman memikirkan sesuatu yang buruk tentang aku atau keluargaku, maka aku akan menerimanya."

Tak disangka-sangka, Kizashi malah tertawa lepas hingga terbatuk-batuk. Usai menyeruput kopinya, Kizashi bicara, "Dari pada berpikir buruk lebih baik paman percayakan semua padamu. Melamar Sakura berarti kau bersedia menjaganya, kan? Menikahi Sakura berarti kau siap untuk membawa putriku ke rumahmu dan hidup bersamanya. Itu saja. Kalau ada hal lain di depan sana, itu urusan nanti, kau bisa membicarakannya dengan paman."

Kini, mata Sasuke yang berbinar, jawaban yang Kizashi berikan bukanlah sesuatu yang dia sangka akan keluar dari mulut seorang ayah tunggal yang merawat putrinya dengan susah payah. Hati kecil Sasuke terasa sakit begitu menyadari bahwa tak lama lagi dirinya akan merebut Sakura dari ayahnya yang begitu menyayanginya. Terlebih lagi, Sasuke tidak yakin apakah ia dapat membahagiakan putri dari pria tua yang kini duduk di dekatnya itu. Jika suatu hari nanti Sasuke mengkhianati Sakura, maka bukan hanya hati wanita itu saja yang terluka, ada satu hati lagi yang akan terkoyak bak daging yang sedang dimangsa hewan buas.

Memikirkan itu membuat kepala Sasuke terasa pening.

"Nah, mulai hari ini sampai nanti, paman titipkan Sakura padamu, ya. Tolong jaga dia seperti kau menjaga keluargamu yang lain. Paman berjanji Sakura juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang paman minta padamu, Sasuke," Kizashi tersenyum, garis-garis tanda penuaan di wajahnya semakin terlihat jelas. 

Sementara itu, Sasuke mengangguk mantap, berjanji pada Kizashi untuk menjaga wanita berambut pink yang dalam beberapa hari akan menjadi istrinya.

"Aku akan menjaga Sakura, aku berjanji untuk itu."

Flashback end.

.
.

Kondisi jalan raya benar-benar dipenuhi oleh kendaraan. Sasuke menggigit bibir dan sesekali berdecak kesal, berkali-kali ia mengecek jam tangannya, terhitung sudah sekitar dua puluh menit mobilnya terjebak di tengah kemacetan, semua terjadi karena adanya kecelakaan lalu lintas di depan sana.

Begitu pulang kerja, Sasuke langsung pergi menuju toko roti Sakura, sudah dua hari wanita itu tidak pulang ke rumah mereka, alasannya karena menginap di luar untuk mengurus sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya. Dan malam ini, Sasuke ingin menjemput Sakura di tokonya karena ia merasa ada sesuatu yang mengganjal.

Ada sesuatu yang membuat Sasuke khawatir, mungkin karena sudah dua hari Sakura tidak mengabarinya, atau mungkin karena Sasuke merasa bersalah atas perkataannya tentang wanita itu tiga hari lalu, meski Sasuke sendiri yakin bahwa Sakura tidak mendengar percakapan antara ia dan Itachi pada malam itu.

Yang jelas, sekarang ini Sasuke ingin bertemu Sakura, apapun yang terjadi.

Tanpa aba-aba berupa petir atau langit mendung, gerimis mulai turun dan airnya membasahi kaca mobil. Sasuke menyalakan wiper dan memfokuskan mata ke jalanan. Pikiran Sasuke berjalan, seketika teringat bahwa dia lupa membawa payung, semoga saja Sakura tidak masalah kalau harus sedikit kehujanan saat masuk ke mobil nanti.

Toko roti Sakura sudah mulai terlihat dari kejauhan, tapi mata Sasuke dibuat salah fokus pada keramaian yang ada di sekitarnya. Tidak biasanya jalanan ini ramai pada malam hari, apalagi di tengah gerimis seperti sekarang. Saat mobil Sasuke mendekat, tampak orang-orang berkerumun di sekitar toko roti Sakura.

Sasuke segera memarkirkan mobilnya, ia masih melongok memperhatikan keadaan. Apakah toko roti itu sedang mengadakan diskon besar-besaran? Atau jangan-jangan ada keributan di sana? Sasuke mulai berjalan ke toko, matanya yang awalnya memicing jadi membelalak begitu melihat seorang wanita berambut pink sedang tak sadarkan diri di dalam sebuah ambulans yang entah sejak kapan ada di sana. Sasuke berjalan cepat, tapi langkahnya terhenti karena mendengar suara keras yang sudah pernah ia dengar sekali dua kali sebelumnya, pemilik suara itu berjalan menuju ambulans, mengikuti paramedis yang sedang bekerja.

"Apakah anda suaminya? Bisa tolong kami dengan menyebutkan identitas pasien dan riwayat kesehatannya?"

"Namanya Sakura Haruno, dia penderita kanker otak stadium dua, tolong pastikan kondisinya terlebih dahulu." 

Sasuke mematung.

Sakura Haruno...

Penderita kanker otak stadium dua...

Tubuh Sasuke mulai lemas.

Apa artinya ini?




























Apa artinya ini? Ya betul [sebagai teks menghilang]

SasuSaku: The Rest Days With YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang