Our Blue

945 69 4
                                        

Warning // Mentions of death, mental health issues

Song: With You by Fromm
Disarankankan untuk mengecilkan volume saat membaca sambil memutar musik agar tidak ter-distract dan jadi pusing. Kalau musiknya gak mau diputar juga gapapa~

.
.

"Maaf ya, kau jadi harus menginap di sini karena permintaan Sasuke," ujar Itachi dengan senyuman yang begitu lebar, sementara tangannya sedang sibuk menyusun bunga yang baru ia beli dari toko.

Menanggapi sang kakak ipar, Sakura menggeleng kecil, tanpa sadar tangannya pun ikut memegang bunga-bunga itu dan menyusunnya di dalam vas. "Aku malah senang bisa menemanimu di sini, Itachi-nii," kata Sakura pelan.

Malam ini, Sakura dan Sasuke menginap di rumah keluarga Uchiha. Setelah Fugaku meninggal, Sasuke terlihat seperti ingin lebih sering menemani sang kakak. Sebenarnya, Itachi sudah mengatakan bahwa tidak masalah jika ia tinggal sendirian, tetapi Sasuke tetap bersikeras ingin menemani si sulung itu untuk sementara waktu. Sasuke bilang, "Aku hanya tidak ingin kau kesepian di rumah." Kalau sudah begini, mau tak mau Itachi menerima bantuan adiknya.

Saat keduanya fokus pada apa yang ada di hadapan mereka, tiba-tiba Itachi bicara, "Sakura-chan, kau pasti tau kalau Ayah pernah menjalankan operasi jantung, sebenarnya operasi itu direncanakan untuk dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Sasuke, tetapi sayangnya kondisi Ayah sudah lebih dulu memburuk dan pada akhirnya Sasuke pun tau semuanya..." ujar Itachi, bahunya terangkat, ia mengambil napas sejenak. "Ayah tau bagaimana buruknya keadaan Sasuke setelah Ibu meninggal, makanya sebisa mungkin Ayah menyembunyikan penyakitnya dari Sasuke, yah, meskipun sebenarnya itu malah membuat Sasuke kecewa dan semakin tertekan..."

"Bahkan, Ayah juga tau kalau anak itu diam-diam pergi ke psikolog. Makanya, setelah didiagnosis sakit jantung, Ayah begitu bersikeras ingin Sasuke menikah denganmu, Ayah ingin ada sosok wanita di sisi Sasuke, yang mungkin bisa sedikit menggantikan posisi Ibu. Keluarga kami rumit, ya, Sakura-chan?"

Sakura terdiam, ia jelas tahu bahwa Fugaku adalah yang paling semangat saat malam perjodohan antara ia dan Sasuke, tetapi tidak Sakura sangka ternyata ada alasan yang cukup mengiris hati di balik semangat itu.

Rasanya, Sakura bisa membayangkan kembali bagaimana suasana pada malam itu, malam saat Sakura tiba-tiba diperintahkan ayahnya untuk datang ke sebuah restoran, pertemuan dengan dua orang pria, dan perjodohan yang awalnya ia tolak mentah-mentah. Sakura masih ingat betul betapa berseri dan cerahnya wajah Fugaku saat memperkenalkan Sasuke, terutama saat mengatakan bahwa ia ingin menjodohkan putranya dengan Sakura.

Dalam hatinya, Sakura meringis, andai saja hari itu ia tidak langsung menolak dan bahkan terkesan seperti membentak pria yang ternyata akan menjadi ayah mertuanya pada kemudian hari. Andai saja hari itu Sakura bisa lebih menghormati Fugaku.

Andai saja ...

"Kau tak akan sanggup mendengar bagaimana tangisan Sasuke saat Ibu meninggal dulu, sejak saat itu pula dia berubah menjadi pemurung dan pendiam, intinya kematian Ibu memberikan dampak yang luar biasa untuk anak itu," Itachi kembali bicara, kali ini dengan kepala tertunduk. "Lalu, sekarang, Ayah..."

"Itachi-nii..."

"Sejak dokter mengumumkan kematian Ayah, satu-satunya yang kupikirkan adalah Sasuke, sebagai kakak, rasanya menyakitkan jika aku harus melihatnya menangis seperti dulu lagi, tapi ternyata Sasuke terlihat lebih tegar, dan aku benar-benar senang melihatnya," lanjut Itachi, kepalanya terangkat, ia tersenyum, sementara matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Sakura-chan, aku tau semua ini berkat dirimu. Terima kasih telah masuk ke dalam keluarga kami dan menjaga Sasuke sejak awal pertemuan kalian."

.
.

Makam Uchiha Fugaku berada persis di samping makam sang istri yang telah lebih dulu meninggal dunia. Dua bulan setelah Fugaku tiada, makam itu masih cukup sering dikunjungi oleh orang-orang terdekatnya, entah itu sanak keluarga maupun rekan bisnis yang baru sempat datang untuk mendoakan.

Berbeda dengan Itachi yang hampir setiap minggu datang ke makam sang ayah, Sasuke tidak seperti itu, setiap kali diajak, pria itu selalu menolak dengan berbagai alasan.

Minggu lalu, Sakura bertanya dengan serius pada Sasuke, apa alasan pria itu tidak mau berkunjung ke makam sang ayah? Dan Sasuke menjawab bahwa ia pun tak mengerti, yang jelas, Sasuke belum siap berdiri di depan makam Fugaku untuk kedua kalinya setelah hari pemakaman.

"Sasuke-kun, apa kau sedang menahan sesuatu?" begitu tanya Sakura.

Rupanya pertanyaan itu bisa langsung dimengerti oleh Sasuke, pria itu menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum. "Aku hanya berusaha menjadi lebih kuat," jawabnya lemah.

Maka keesokan harinya, Sakura memaksa Sasuke ikut pergi dengannya, tentu saja mengunjungi makan Fugaku.

Dengan setelan hitam, Sasuke berdiri di hadapan makam sang ayah, menatap nisannya lurus-lurus sementara tangannya menggenggam erat beberapa tangkai bunga yang baru dibeli di perjalanan tadi.

Angin sore mulai berhembus, pun dengan sinar matahari yang mulai berubah menjadi oren kemerahan tanda malam akan segera tiba, Sakura menepuk bahu suaminya, memberikan senyuman tipis dan sebuah anggukan kepala. Sasuke membalasnya dengan senyuman, bunga-bunga di tangannya ia letakkan di depan nisan sang ayah. Sasuke menunduk, berdoa dengan khusuk.

"Sasuke-kun, kau tau, ada kalanya kita harus menangis..." gumam Sakura begitu pelan. "Ayah pasti senang melihatmu berusaha untuk tetap kuat, tapi ayah akan lebih senang kalau kau yang sudah kuat ini menangisi kepergiannya dan datang untuk berdoa."

"Aku..."

"Sasuke-kun, berubah menjadi lebih kuat itu baik, tapi bukan berarti kau harus menahan kesedihanmu."

"Sakura... Sebenarnya ada sesuatu yang aneh di dadaku sejak kemarin."

Bibir Sakura melengkung membentuk senyuman, ia melangkah ke depan, menyentuh pinggang sang suami dengan kedua tangan dan memeluknya hangat.

Detik itu juga, tangis Sasuke pecah.

Tangisannya tidak heboh, tapi benar-benar terdengar pilu dan menyedihkan. Sasuke menggenggam tangan Sakura di pinggangnya, meremasnya kuat-kuat sembari berusaha menahan isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.

"Aku... Lagi-lagi kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupku... Sakura, kau... Apa kau tau apa alasannya?"

"Tidak ada alasannya, mereka pergi karena takdir sudah menjemput."

"Setelah ini, apa kau juga akan meninggalkan aku?"

Sakura tersentak, sementara Sasuke masih menangis.

Kepala Sakura langsung terasa pening, pertanyaan itu membuat tubuhnya membeku di tempatnya; di belakang tubuh Sasuke, di pelukan Sasuke. Tak ada yang mampu Sakura lontarkan dari mulutnya, ia hanya mampu menggigit bibir dan mengeratkan pelukan di pinggang sang suami.

"Aku tidak sedih, aku hanya takut. Bagaimana kalau kau juga ikut meninggalkanku? Bagaimana jika setelah itu adalah Itachi-nii? Bagaimana jika Tuhan memang mau menghukumku karena suatu kesalahan?"

"Sakura... Ada apa denganku?"

Lagi dan lagi, tidak ada yang mampu Sakura katakan. Ia hanya bisa memeluk Sasuke, menguatkan pria yang sedang bermonolog sendiri sambil berusaha untuk menghentikan tangisannya.

Apa yang dihadapi keluarga Uchiha sekarang adalah duka.

Duka mereka semua.

SasuSaku: The Rest Days With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang