It All Feels Like a Dream

843 48 5
                                        

Trigger or content warning // car accident, ada konten 18+ dikit banget

So, be wise ya! Happy reading, semoga selalu happy :D

.
.

Sejauh yang Sakura pikirkan, rumah sakit adalah tempat di mana ada banyak hal terjadi dalam satu waktu; kau bisa melihat orang-orang menangis karena duka, pun bisa mendengar tawa canda yang penuh rasa syukur.

Di rumah sakit, beberapa orang menggantungkan nasib mereka maupun orang terdekat.

Sudah lebih dari tiga tahun Sakura rutin mengunjungi rumah sakit, ia paham betul bahwa tempat ini menyimpan banyak sekali duka, yang sialnya harus dihadapi oleh banyak orang yang tidak mengharapkannya sama sekali.

Di rumah sakit, satu dua hal dalam hidup banyak orang akan berubah, mungkin bisa jadi adalah sesuatu yang tidak diharapkan, dan sialnya harus tetap dihadapi meski dengan banyak air mata.

Sakura tahu itu semua, ia paham bagaimana rasanya. Ruangan dalam rumah sakit tidak selalu mencekam, tetapi seringnya membuat banyak orang merasa waspada.

Di bawah meja, Sakura menggenggam tangan suaminya erat-erat, menyembunyikan kebahagiaannya yang siap meletup kapan saja. Tatapan Sakura tertuju pada seorang dokter yang selama ini sudah banyak sekali membantunya.

"Jadi.. hanya itu yang dapat aku sampaikan," Tsunade berujar dengan lembut sejak lima belas menit lalu. "Aku tidak mengatakan bahwa operasi ini belum tentu berhasil, yang jelas memang ada risiko dan tentunya tim medis akan berusaha sebaik mungkin untuk mencegahnya. Kau tidak perlu khawatir, Sakura-chan, aku yakin semua akan baik-baik saja."

Jantung Sakura berdebar sangat kencang, ia mengangguk, penuh kehati-hatian. Mata Sakura melirik Sasuke di sampingnya, pria itu tengah tersenyum begitu cerah dan lebar. Ada kilatan semangat di mata Sasuke yang indah, begitu Sakura terkekeh kecil, pria itu menoleh dan membalas tatapannya dengan sebuah senyuman.

Pandangan Tsunade beralih kepada sasuke. "Dia wanita yang kuat, bukan?" tanya dokter itu.

"Tentu, wanita terkuat yang saya kenal," jawab Sasuke dengan tegas. "Terima kasih telah menjaga Sakura selama ini, Tsunade-san."

"Jangan begitu," Tsunade mengibaskan tangannya di udara. "Selain seorang dokter yang punya kewajiban, saya sudah memposisikan diri sebagai ibunya Sakura, Anda bahkan bisa memanggil saya ‘ibu’ kalau Anda mau," canda wanita berambut pirang itu.

Sasuke tertawa, ia terlihat sangat bahagia.

.
.

Sakura meregangkan tubuhnya sebelum merebahkan diri di atas kasur yang tampak empuk dan hangat, ia juga mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang berwarna kuning di meja kecil dekat kasurnya.

Tak lama setelah Sakura duduk di kasur, Sasuke masuk ke dalam kamar, tangannya memegang ponsel. Sasuke menatap Sakura dan tersenyum tipis, kemudian bergabung di atas kasur.

"Kau pasti lelah ya hari ini, tidurlah," ujar Sasuke.

Sebagai jawaban, Sakura menggeleng pelan. "Aku tidak lelah sama sekali," katanya. "Tapi hari ini memang cukup.. menegangkan."

"Benar," ucap Sasuke pelan, seperti Sakura, ia juga sudah bersembunyi di balik selimut, keduanya berbicara sambil tiduran, saling menatap dengan posisi menyamping. "Tapi Tsunade-san sudah bilang kan? Tim dokter akan berusaha agar operasinya berhasil dan aku yakin pasti berhasil."

"Menurutmu begitu?"

Sasuke menghela napas dan mengangguk. "Tentu..." jawabnya. "Aku tau kau mungkin takut–"

SasuSaku: The Rest Days With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang