The Funeral

963 55 15
                                        

"Sakura, apa yang kau tulis sejak kemarin itu?"

Seorang wanita cantik memekik kecil, kemudian menggelengkan kepala sambil terkekeh-kekeh pada suaminya. "Bukan apa-apa, Sasuke-kun."

Sasuke menghela napas panjang sebelum berjalan menghampiri istrinya yang tengah duduk di meja kerja yang berada tak jauh dari kasur mereka. "Bagaimana perasaanmu? Masih sakit?"

"Uhm, iya, aku masih lemas sekali," jawab Sakura pelan. "Maaf, rencana piknik kita jadi tertunda, padahal Sasuke-kun sudah repot-repot meluangkan waktu."

"Apa yang kau katakan?" Sasuke mengernyitkan dahi. "Kesehatanmu jauh lebih penting daripada piknik itu," ia usak rambut istrinya dengan gemas.

Kemarin malam, Sasuke ditelepon oleh Tenten, rekan kerja Sakura di toko roti, perempuan berambut cokelat itu menyampaikan kabar yang langsung membuat Sasuke kalang kabut; Sakura sakit, hampir pingsan di tokonya.

Sasuke lantas menjemput Sakura, tak lupa membawa wanita itu pergi ke rumah sakit sebelum pulang ke apartment mereka. Dokter bilang, Sakura hanya kelelahan, dan sejujurnya itu wajar saja mengingat belakangan Sakura memang sedang disibukkan dengan bisnisnya.

"Sasuke-kun, kepalaku– kepalaku sakit sekali," keluh Sakura sambil mengibaskan tangan di udara, seperti berusaha memanggil Sasuke.

Tentu saja Sasuke langsung bergerak cepat menghampiri istrinya, membopong tubuh wanita itu berdiri dan berjalan menuju kasur. "Mau ke rumah sakit lagi?" tanya Sasuke pelan, rasa khawatir mulai menggerayangi dirinya. Tak kunjung mendapatkan respon, Sasuke pun menegur istrinya yang tengah bersandar pada headboard kasur. "Sakura?"

"Uhm, mungkin begitu," Sakura mengangguk kecil. "Sasuke-kun..."

"Hn?"

"Bisakah kita membicarakan ini dengan serius sekarang?"

"Apa maksudmu?"

"Ayo kita bicarakan penyakitku dengan serius dan realistis."

.
.

"Kau tidak perlu mengatakan itu! Kau tau aku membencinya!"

Itu adalah kali pertama Sasuke bicara dengan suara yang keras pada sang istri, di dalam kamarnya yang sunyi dan sepi.

Sakura berusaha meraih apapun dari Sasuke, mencoba untuk membuat tubuh sang suami berhadapan dengan dirinya, tapi sayangnya Sasuke terlalu lemah untuk itu, bahkan tak kuasa menatap Sakura barang sedetikpun.

Dalam lubuk hatinya, Sasuke paham mengapa Sakura terus menyinggung kematian, Sasuke mengerti mengapa Sakura terus mengatakan bahwa selalu ada kemungkinan operasinya tidak berhasil nanti, tapi, sungguh, Sasuke tidak ingin mendengar itu semua, ia membencinya, ia benci seluruh kalimat pengandaian yang keluar dari mulut Sakura.

Sasuke tidak siap bila takdir memang berkata bahwa ia dan Sakura harus berpisah.

Sasuke tidak mau jika suatu hari nanti harus kehilangan keluarganya lagi.

Dari sekian banyak hal yang bisa ia benci, Sasuke paling benci dengan kematian yang telah memisahkan ia dengan ibu serta ayahnya, yang telah membuatnya hidup dalam rasa takut dan bersalah sejak remaja.

Sasuke tidak suka perpisahan, ia benci fakta bahwa Tuhan berhak mengotak-atik suatu hubungan dengan menyisipkan sebuah kematian.

"Kalau kau membencinya, maka aku lebih membencinya, Sasuke-kun."

Sasuke benci kematian.

Tapi, ia tidak sadar bahwa Sakura—pasti—jauh lebih membencinya.

.
.

SasuSaku: The Rest Days With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang