And Now, They Know

1.3K 103 1
                                        

Sepi.

Satu kata yang bisa menggambarkan suasana di ruangan rawat inap tempat Sakura berbaring saat ini. Jika saja tidak ada suara nafas Naruto yang tengah duduk di sisinya, mungkin Sakura akan dibuat merinding dengan suasana yang ada.

Ruangan serba putih ini memang bukanlah sesuatu yang asing bagi Sakura, tapi berbaring lemah di atas ranjang di sini adalah hal yang tidak pernah terpikirkan sama sekali olehnya. Sakura melihat ke sekeliling—sudah berkali-kali dia melakukannya-dan mendapati hanya ada dirinya, Naruto, dan beberapa furniture khas rumah sakit.

"Sakura-chan, dia menjagamu semalaman dan bahkan tertidur di kursi ini hingga pagi hari," Naruto menghela nafas.

Sakura meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Dadanya terasa sesak saat membayangkan tentang apa yang Naruto ceritakan padanya barusan.

Bukankah Sakura sudah bertekad untuk mengatakan segalanya dengan jujur? Tapi mengapa jadi seperti ini? Mengapa semuanya terungkap tapi bukan dari mulutnya sendiri? Sakura kecewa pada dirinya, jika saja tidak ada keraguan, jika saja tidak banyak pertimbangan, mungkin orang-orang terdekatnya tidak akan terluka sebanyak yang mereka rasakan sekarang dan mungkin saat ini Sakura tidak akan merasa bersalah.

"Sasuke berpesan padaku untuk menjagamu hingga nanti siang, dia tidak mengatakan apapun lagi selain itu, bahkan pertanyaanku tidak dijawab satupun olehnya."

Benar kata Tsunade hari itu, ini memang hanya tentang waktu.

"Gadis Yamanaka itu juga sudah mengetahuinya, dia tidak berhenti menangis dan entah di mana dia sekarang."

Pada akhirnya, yang Sakura lakukan hanyalah menyakiti semua orang.

"Sakura-chan," panggil Naruto dengan suaranya yang serak. Seluruh badan Sakura masih sangat lemas, kepalanya pun terasa begitu berat, dia hanya bisa melirik Naruto sementara pria itu sudah menatapnya sejak awal pembicaraan. "Setelah semua ini, maukah kau berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun lagi dari mereka?"

"Naruto..." tanpa sadar, suara Sakura bergetar.

"Aku keluar, Sasuke pasti akan segera datang."

Naruto berdiri dari duduknya, kemudian mulai berjalan menjauh dari Sakura yang hanya bisa menatap punggungnya dengan lemah. Pintu ruangan sudah Naruto buka dengan tangannya yang kekar tapi langkah kakinya terhenti karena seorang pria berambut hitam legam berdiri di depannya sambil membawa tas jinjing berukuran sedang.

Sakura tersentak.

Pria itu menatap Naruto lurus-lurus, sorot matanya memantulkan kekosongan.

.
.

Sudah beberapa jam sejak Sakura dikabarkan siuman, Ino masih berada di taman rumah sakit, menangis sendirian. Gadis berambut panjang itu menunduk, membiarkan air matanya menetes membasahi celananya. Tidak ada seorang pun yang melihat dia menangis, kali ini Ino pandai menyembunyikan suaranya.

Semalam, saat hendak pulang bekerja, seseorang bernama Naruto—yang syukurnya masih Ino ingat dengan baik—menelepon dan mengatakan bahwa dia ingin bertemu. Gaya bicaranya yang berbelit-belit dan tidak jelas membuat Ino mengira bahwa Naruto sedang mabuk, tapi begitu pria itu menyebut nama Sakura, barulah Ino sadar bahwa yang dikatakan pria itu adalah sebuah keseriusan.

Ino diminta untuk datang ke sebuah rumah sakit yang letaknya sangat jauh dari tempatnya bekerja. Di sana sudah ada Naruto dan Sasuke, sedang duduk berjauhan di depan ruangan rawat inap. Ino menghampiri keduanya dan Naruto lah yang pertama kali mengatakan bahwa Sakura sedang sakit.

Kanker otak, katanya.

Ino terjatuh dalam lamunan selama sepersekian detik, ketika Naruto mengatakan, "sudah stadium dua" barulah Ino meringis, panik tak karuan, dia berusaha untuk meminta penjelasan baik dari Naruto yang sedang berdiri maupun Sasuke yang sejak tadi hanya diam tanpa suara.

SasuSaku: The Rest Days With YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang