Rumah sakit adalah tempat yang belakangan ini terasa akrab bagi Sakura, bahkan penjaga keamanan di sini pun sudah mengenal dan selalu menyapanya. Tak jarang mereka bercengkrama barang satu dua kalimat layaknya tetangga lama.
Dan hari ini, Sakura kembali ke rumah sakit untuk menemui seorang dokter yang sudah ia kenal dengan baik. Siapa sangka kalau ruangan dokter yang dulunya selalu Sakura hindari malah menjadi kunjungan wajibnya setiap sebulan sekali.
"Sesak napas?" seorang wanita berjubah putih menopang dagu dengan tangan kanannya, ia tampak sedang berpikir keras sambil menatap pasiennya dengan serius. "Sejak kapan kau sesak napas, Sakura?"
Sakura memiringkan kepalanya, berpikir sejenak sebelum menjawab. "Sudah satu bulan, saya kira itu adalah efek samping dari obat-obatan yang dokter beri," jawab Sakura. "Awalnya hanya sesak biasa, tapi semakin lama semakin memburuk."
Dokter Tsunade mengangguk-angguk. "Apakah ada anggota keluargamu yang punya riwayat penyakit tertentu?"
Ditanya begitu, Sakura memiringkan kepalanya tanda berpikir. "Ibu saya meninggal karena gagal jantung setelah malahirkan saya. Selain itu tidak ada lagi," jawab Sakura pelan. "Apakah saya harus menjalani tes lainnya?" tanyanya, ia mencoba untuk mencari jawaban di raut wajah dokternya, tapi dokter itu malah asik menulis sesuatu di atas kertas serta memasang raut wajah ambigu yang membuat Sakura jadi sedikit khawatir.
Setelah selesai menulis, Tsunade mengangkat kepalanya dan menatap Sakura. Dokter itu tersenyum, memperlihatkan sedikit kerutan di dekat bibirnya yang diolesi lipstik. "Kita pantau dulu, jika ada keluhan lain silakan datang kembali. Lalu untuk sementara waktu, ada beberapa obat yang tidak aku resepkan, pihak farmasi akan menjelaskannya nanti. Nah, apa kau punya pertanyaan terkait hal ini, Sakura-chan?" tanya Dokter Tsunade, penjelasannya tidak bertele-tele dan begitu mudah dimengerti.
Tahun lalu, seorang teman SMA mengenalkan Sakura pada Tsunade yang merupakan dokter spesialis di sebuah rumah sakit swasta. Meski jarak rumah sakitnya cukup jauh, tapi Sakura merasa cocok berkonsultasi dengan Tsunade sehingga sampai sekarang ia masih datang dan menemui Tsunade untuk memeriksakan diri.
"Kalau tidak ada pertanyaan, biar aku yang bertanya," Tsunade berdeham. "Kau tau kan kalau ini bukan sesuatu yang sepele? Aku rasa kau tau dan sadar akan hal itu."
Pertanyaan Tsunade membuat Sakura tertegun, dia tahu akan dibawa ke mana obrolan ini, dan sebenarnya dokternya itu sudah mencoba untuk menyinggung hal yang sama sejak bulan lalu, tapi mungkin Tsunade baru ingin membicarakannya secara lebih terbuka sekarang. Dan tentu saja Sakura tidak bisa menghindar sama sekali.
"Sejak awal aku sudah memintamu untuk mempertimbangkannya, ini bukan sesuatu yang bisa kau simpan dan urus sendirian, ada saatnya kau harus terbuka pada beberapa orang dan meminta bantuan mereka. Naruto pasti juga setuju padaku."
Tsunade memang benar, Sakura harus terbuka pada keluarga dan teman-temannya. Tapi hingga sekarang Sakura masih belum siap untuk jujur mengenai penyakit yang ia derita sejak tahun lalu, hanya Tsunade dan seorang teman bernama Naruto lah yang mengetahuinya.
Terdengar lagi suara dehaman dari mulut Tsunade. "Aku tau, ini sulit, kan? Kau pasti tidak ingin merepotkan orang lain, tapi Sakura, mereka juga harus tau tentang hal ini, terutama suamimu dan keluarganya."
Kepala Sakura terangkat sejajar dengan Tsunade. "Tidak," gumam Sakura refleks, ia lihat Tsunade tengah menatapnya bingung, seolah bertanya tentang alasannya.
Tidak akan. Sakura tidak akan membicarakan apapun dengan Sasuke tentang hal ini sekarang. Setelah apa yang ia ketahui tentang Sasuke dan sedikit kisah hidupnya, Sakura tentu tidak ingin membagikan sesuatu yang akan membuat pria itu kembali merasakan apa yang dia rasakan di masa lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SasuSaku: The Rest Days With You
FanfictionSakura yang mulai nyaman. Sasuke yang semakin tak nyaman. Lalu, bagaimana pernikahan yang dimulai dari perjodohan ini akan berakhir? [ SasuSaku Romance and Angst Fanfiction ] ©Masashi Kishimoto
