Mentari berdiri di tepi balkon, menatap langit senja yang mulai berubah gelap. Warna jingga di cakrawala berangsur pudar, tergantikan oleh keremangan malam yang menyelimuti bumi. Hembusan angin lembut memainkan helaian rambutnya, ia menggenggam erat pagar balkon, matanya terpaku pada kerlip bintang di kejauhan. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung usai.
Dari sudut ruangan yang temaram, suara lembut Bulan menggema. Tidak seperti suara manusia biasa, suaranya menyelusup langsung ke dalam benak Mentari, menghadirkan percakapan yang hanya mereka berdua yang tahu.
“Mentari, apa yang tengah kau pikirkan?” tanya Bulan dengan nada penuh rasa ingin tahu, suaranya hampir terdengar seperti bisikan angin malam.
Mentari tidak langsung menjawab, ia hanya mendesah panjang, matanya tetap terpaku pada langit malam yang mulai dihiasi bintang-bintang kecil. "Kenapa kau bertanya padaku, Bulan?" jawabnya akhirnya, suaranya terdengar samar. "Bukankah kau sendiri bisa mengetahui isi pikiranku?"
Bulan tersenyum tipis, matanya yang tenang tetap memandang Mentari tanpa tekanan. “Aku bisa,” katanya pelan. “Tapi rasanya lebih baik jika kau sendiri yang mengungkapkannya.”
Mentari tersenyum tipis, meski wajahnya tetap memancarkan keraguan. "Aku ingin menemui Kenzy," ujarnya, akhirnya mengutarakan apa yang mengganjal di pikirannya.
Bulan bergeming sesaat sebelum akhirnya bertanya, “Kenapa kau ingin menemui Kenzy?”
Mentari mengalihkan pandangan kembali ke langit malam, seolah mencoba menyusun jawaban yang tepat. “Ada hal yang harus kubicarakan dengannya,” katanya dengan nada yang terdengar dingin. “Tapi itu tidak termasuk membantumu untuk kembali hidup.”
Bulan tampak sedikit terkejut, meski suaranya tetap lembut ketika menjawabmenjawab, tapi penuh dengan rasa keingintahuan. “Kenapa?”
Mentari memalingkan wajahnya dari langit, tatapannya kini tertuju pada lantai balkon yang dingin. “Aku tidak percaya padanya," jawabnya tanpa ragu, suaranya terdengar dingin dan terkesan datar. "Tentu saja aku menginginkanmu untuk hidup, Bulan. Namun, tidak melalui Kenzy.”
Bulan terdengar menghela napas panjang. Ia tetap tenang, meski tatapannya menjadi sedikit lebih dalam. “Sebelumnya kau bermasalah dengan Langit, lalu sekarang dengan Kenzy,” katanya, mencoba menelisik lebih jauh jalan pikiran Mentari.
Mentari tertawa kecil, tawa yang penuh rasa getir. "Soal Langit ....” Mentari menggantungkan kalimatnya, lalu tersenyum samar. “Aku akan mengucapkan terima kasih padanya," katanya, suaranya sedikit melunak.
“Lantas, karena itu kau akhirnya memutuskan memusuhi Kenzy?” desak Bulan, tanpa menuduh. Hanya saja, ia masih tak puas dengan jawaban Mentari.
“Tidak!" jawab Mentari cepat, suaranya terdengar tegas. "Aku tidak pernah memusuhinya. Dia tampak aneh. Dulu aku bisa menerima keanehannya, tapi setelah bertemu kembali, dia sangat temperamental.”
Mentari akhirnya menoleh pada Bulan, matanya menunjukkan keraguan sekaligus kekhawatiran. “Sebelum bertemu denganmu, aku sudah lebih dulu mengenalnya,” lanjutnya, suaranya lebih pelan namun penuh makna. “Bahkan aku merasa sedikit terkejut karena sekarang berada di satu sekolah kembali dengannya. Bukannya merasa senang, malah Kenzy menjadi pemarah.”
Mentari mengalihkan pandangannya ke rerumputan di bawah balkon, menimbang-nimbang sesuatu. "Ada gosip dari teman satu kelasnya," katanya sambil memandang jauh ke depan. "Waktu itu Kenzy sering mengamuk, tapi belakangan gosip itu juga menguap begitu saja.”
Bulan tetap diam, mendengarkan dengan penuh perhatian. Ekspresinya tetap tenang, seperti pantulan bulan di atas permukaan air yang tidak terusik angin.
“Lalu, kenapa kau melarangku berdekatan dengannya?” tanya Bulan pada akhirnya, nadanya lembut dan terkesan datar.
Mentari menggigit bibir bawahnya, tampak ragu untuk menjawab. Namun, setelah sejenak terdiam seolah tengah mencoba merangkai kata, ia akhirnya berkata, “dari sorot matanya, aku bisa menangkap amarah yang begitu besar, Bulan. Aku tidak tahu dari mana asalnya, hanya saja seperti dorongan kuat untuk memberitahumu agar menjauh darinya.”
Bulan tersenyum kecil, senyumnya menenangkan seperti bias sinar bulan di malam yang sunyi. “Jangan mencari masalah, Mentari," ujarnya penuh peringatan. "Sudahilah rasa penasaranmu itu. Lagipula, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa padaku. Aku adalah jiwa. Kaum kalian tidak akan bisa menyentuhku kecuali aku mengizinkannya.”
Mentari mendengus pelan, pandangannya kembali mengarah pada langit malam. “Aku tahu, Bulan,” katanya, suaranya melembut. “Tapi aku tetap tidak bisa mengabaikan firasat ini.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya ditemani gemerisik daun yang diterpa angin. Bulan tetap diam, membiarkan Mentari bergulat dengan pikirannya sendiri.
“Mungkin, kau terlalu keras terhadap Kenzy,” kata Bulan akhirnya, suaranya tetap lembut namun sarat makna. “Bagaimana jika amarah yang kau lihat darinya bukan ditujukan kepadamu, atau siapapun, melainkan kepada dirinya sendiri?”
Mentari menoleh dengan alis mengerut. “Apa maksudmu, Bulan? Kau pikir dia marah pada dirinya sendiri?”
Bulan mengangguk pelan. “Manusia memiliki banyak cara untuk menunjukkan rasa sakit. Amarah, terutama yang tampak tanpa sebab, sering kali berasal dari luka yang tak mereka tunjukkan. Mungkin itu yang kau lihat dalam sorot matanya.”
Mentari terdiam. Kata-kata Bulan membuatnya berpikir. Ia memang melihat amarah dalam diri Kenzy, tetapi apakah ia terlalu cepat menyimpulkan? Mungkinkah ada sisi lain dari pria itu yang tidak ia pahami?
“Aku tidak tahu, Bulan,” jawab Mentari akhirnya, nada suaranya lebih lembut. “Aku hanya merasa… ada sesuatu yang salah.”
Bulan tersenyum kecil, lalu berjalan mendekati Mentari, langkahnya ringan seperti bayangan. “Kau terlalu banyak memikirkan hal yang belum terjadi, Mentari. Kenzy mungkin memiliki amarahnya sendiri, tapi itu bukan tugasmu untuk menyelesaikannya. Kau hanya perlu menjaga jarak jika kau merasa ada bahaya.”
“Tapi bagaimana jika bahaya itu sudah di depan mata?” balas Mentari cepat. Ada nada khawatir dalam suaranya yang sulit disembunyikan. “Bagaimana jika aku salah dan Kenzy benar-benar berbahaya?”
Bulan menatapnya dengan sorot mata yang lembut tetapi tegas. “Kalaupun itu benar, kau tidak akan sendirian. Aku di sini, selalu bersamamu,” katanya dengan suara yang tenang, memberikan rasa nyaman yang di butuhkan Mentari.
Mentari menundukkan kepala, merasa sedikit tenang mendengar kata-kata Bulan. Tetapi ada sesuatu dalam pikirannya yang tetap mengganjal. “Kau yakin, Bulan? Kau yakin bahwa Kenzy bukan ancaman bagimu?”
Bulan kembali tersenyum, kali ini lebih dalam. “Aku tidak yakin,” jawabnya jujur. “Tapi aku percaya pada instingmu. Jika kau merasa ada yang salah, maka aku akan bersamamu, apa pun yang terjadi.”
Mentari terdiam, kata-kata Bulan bergema dalam benaknya. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu ada sesuatu yang salah. Ia akhirnya mengangguk pelan, meski keraguan itu belum sepenuhnya hilang. “Terima kasih, Bulan,” gumamnya pelan.
Bulan mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi. Ia tahu, tidak semua pertanyaan harus dijawab saat itu juga. Terkadang, waktu yang akan membawa jawaban. Dan untuk malam ini, cukup bagi mereka untuk berbagi keheningan, bersama-sama menatap langit yang penuh misteri.
Angin malam berhembus lebih kencang, membuat bayang-bayang pohon di sekitar balkon menari di bawah sinar rembulan. Langit malam semakin gelap, seolah menyimpan rahasia yang tak terkatakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TEA-AMO
Teen FictionKisah tentang dua insan yang berkeinginan sama, tapi berada di dunia yang berbeda. Takdir mempertemukan mereka tanpa sebuah rencana dan takdir pula yang memisahkan mereka tanpa wacana. Waktu membuat mereka terbiasa, tapi waktu pula yang membuat kede...
