CHAPTER SEVENTEEN

3 0 0
                                    

"SEMUA SISWA DAN SISWI SMA LIMA SILA DIHARAPKAN TURUN KE LAPANGAN, SEGERA!!"

Suara yang keluar dari speaker sekolah, terdengar begitu nyaring di seluruh bagian sekolah.

"Ada apa ini wehh..." ucap Alaska bingung.

"Udah ikutin aee," balas Raka tak mau banyak pikir.

Mereka semua pun turun untuk menuju ke lapangan, mengikuti perintah suara guru tadi.

Setelah selang beberapa menit, semua siswa dan siswi sudah baris sesuai kelasnya masing masing.

"Selamat pagi menjelang siang, Anak-anak! Hari ini memang sengaja saya mengadakan apel. Apel ini bertujuan untuk mendoakan sekaligus mengantar kedua murid SMA Lima Sila yang akan berangkat bertempur dengan logika untuk membanggakan nama besar sekolah kita yang tercinta ini."

"Untuk murid yang mengikuti OSN, yaitu Zia Naavaila dan Devano Narendra. Ayo nak maju kedepan!" Sambung Ibu kepala sekolah yang bernama Ibu Anjani, dengan tegas untuk memulai apel ini.

Pujian-pujian dan sambutan ditujukan kepada keduanya, tetapi tak sedikit pula ada yang mengumpat kesal dan tak suka pada mereka, biasalah orang pintar/ *haha.

"Hai! Dipilih juga?" Tanya Zia.

"Hai! Iya nih," balas Devan secukupnya.

Dibalik itu semua, ternyata juga ada beberapa siswa dan siswi yang menatap mereka tak suka. Menatap dengan tatapan penuh kebencian dan kesal.

"Lo gak akan bisa ngalahin gue, bitch." Seorang siswi tersenyum sinis menatap keduanya dari kejauhan.

Air hanya terdiam menatap dengan kesal tanpa berkata apapun.

"Oyy Air udah lah, gapapa mereka kan cuma mau OSN jangan cemburu haha." Ucap Reno yang mengerti terhadap perasaan teman satunya ini. Air tetap terdiam menatap mereka berdua di depan lapangan tanpa membalas ucapan Reno.

Yang ada di pandangan para murid sekolah kini adalah cowo yang selalu berprestasi di sekolah itu dan gadis yang belum lama pindah ke sekolah ini.

Lantas, mempukah mereka membawa nama besar SMA Lima Sila dengan bangga? Berhasilkah mereka membawa dan menjadi perebut 'mendali' kebanggan dalam olimpiade untuk sekolah mereka ini?

======================

Setelah pengantaran keberangkatan mereka untuk OSN, mereka kini telah berada di gedung besar tempat dimana acara OSN itu dilaksanakan. Mereka didampingi oleh Ibu Anjani, Ibu Rivta dan

"Kalian tenang aja, ya? Jangan terlalu takut atau tidak percaya diri, oke?" Tenang guru laki yang berkumis itu sejak tadi melihat raut wajah tak tenang dari keduanya.

"Kalian jangan takut ya, Zia dan Devan. Disini kalian akan bertempur bersama untuk membawa dan merebut 'mendali' itu. Jadi, jangan merasa tidak tenang dan grogi," lanjut Ibu Rivta itu seraya mengelus lembut pucuk kepala gadis dan cowo itu yang tak tenang, menggunakan kedua tangannya.

"Iya, kalian tenang aja. Lagi pula Devan, kan sudah berpengalaman banyak mengikuti olimpiade seperti ini dan ibu dengar Zia pas di sekolah dulunya sering ikut olimpiade seperti ini juga. Jadi, ibu harap kalian dapat mengerjakan soal-soal nanti dengan baik, ya?" Sambung Ibu Anjani.

Devan dan Zia memperhatikan raut wajah tak tenang dari teman olimpiadenya itu. Nampak jelas sekali dari raut wajah mereka berdua.

Devan dan Zia pun segera masuk menuju ke dalam tempat acara OSN itu dilaksanakan.

"Semangat!! Kalian pasti bisa!" Bu Anjani dan Bu Rivta memberi semangat pada Devan dan Zia.

"Terima kasih, Bu." Ujar Devan dan Zia dengan kompak seraya mengangguk lalu tersenyum, mereka segera memasuki gedung.

TWO WORLDS | Project_RATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang