بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•
•
•
🌻🌻
Lanjutan...
"MasyaAllah tabarakallah, Manna. Kamu sangat cantik dengan cadar ini. Sungguh sangat cocok, Allahumma barik," kata Ummah, menatap dengan penuh kekaguman pada calon menantunya.
Manna segera menundukkan wajahnya, merasa canggung dan malu jika ada yang memujinya. Bahkan, ia merasakan pipinya memanas. Pasti di balik cadarnya, wajahnya memerah.
"Alhamdulillah, Ummah," jawab Manna dengan suara malu.
"Mbak Manna kok malu-malu sih? Gemes Arina lihatnya," Arina berkomentar sambil tertawa pelan.
Manna semakin merasa malu setelah mendengar itu.
Bunda pun tersenyum melihat tingkah Manna.
"Pertahankan rasa malu dan harga dirimu, Manna. Jika kamu tidak bisa meniru kehidupan Sayyidah Fatimah, setidaknya coba meniru salah satu sifat mulianya, yakni rasa malu yang luar biasa. Ada sebuah kisah yang menceritakan bagaimana Sayyidah Fatimah pun merasa malu."
"Diriwayatkan dari Anas ra, bahwa Rasulullah SAW datang menemui Fatimah sambil membawa seorang budak yang beliau berikan kepadanya. Saat itu, Fatimah mengenakan baju yang jika dipakai untuk menutupi kepala, maka kakinya terbuka, dan jika dipakai untuk menutupi kaki, kepalanya terbuka. Melihat itu, Nabi SAW bersabda, 'Tidak mengapa bagimu, yang ada hanya ayah dan budak milikmu.' (HR. Abu Dawud dan Baihaqi. Dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa (VI/206))"
"Begitu mulianya Sayyidah Fatimah, kan? Beliau adalah sosok wanita yang sangat indah, baik dari segi rupa maupun hatinya."
"Perlu diingat, putri-putri Ummah sekalian, bahwa bagi seorang wanita, yang terbaik adalah yang tidak dilihat oleh lelaki dan tidak melihat lelaki. Begitu pun bagi seorang lelaki, yang terbaik adalah yang tidak dilihat oleh wanita dan tidak melihat wanita. Semoga putri-putri Ummah ini bisa meniru setidaknya sebagian sifat mulia yang dimiliki oleh Sayyidah Fatimah," ujar Ummah sambil memandang Arina dan Manna.
"MasyaAllah..." Manna mengucapkan dengan hati yang terharu mendengar kisah dari Ummah.
"Aamiin, Ummah," jawab Arina dengan senyum tulus.
Tak lama kemudian, terdengar gema sholawat dan hadrah yang menandakan bahwa acara telah dimulai.
"Alhamdulillah, sudah dimulai. Mari kita bersama-sama ke pesantren," kata Ummah sambil berdiri dari duduknya.
"Ummah, maaf. Apakah Arina dan Mbak Manna boleh menyusul saja? Ada sesuatu yang ingin Arina tunjukkan pada Mbak Manna," ujar Arina dengan penuh harap.
Ummah tersenyum dan mengangguk.
"Tentu, putriku... Tapi ingat, setelah selesai, kalian harus segera menyusul ke masjid. Ummah dan bunda menunggu kalian di sana. Mengerti?" kata Ummah tegas namun penuh kasih.
"Mengerti, Ummah," jawab Arina dengan senyum manis.
"Adam... Ayo nak, ikut nenek," Ummah memanggil Adam yang masih asyik memeluk tubuh Manna.
"Adam au itut tata nna nek," kata Adam sambil menatap neneknya dengan tatapan bingung.
"Adam ikut nenek sebentar ya nak? Ummah ingin berbicara sebentar dengan kak Manna. Nanti kak Manna akan menyusul Adam ke masjid," ujar Arina, mengusap lembut rambut Adam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surga Allah Yang Ke-3
Romance[ISLAMI]-[ROMANCE]⚠️ Habibie Keenan Al-Baihaqi, atau yang akrab disapa Gus Habibie di lingkungan pesantren, adalah sosok yang dihormati karena ilmunya. Di kota besar seperti Jakarta, ia dikenal dengan sebutan Kiyai Keenan, bukan hanya karena kebijak...
