بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•
•
•
🌻🌻
Lanjutan...
"Assalamualaikum!" Ucap Gus Habibie.
Manna segera menundukkan wajahnya, bukan untuk menyembunyikan rasa gugup, melainkan untuk menghindari tatapan tajam yang dilemparkan oleh Gus Habibie.
Dalam hati, Manna mulai bertanya-tanya, adakah ia melakukan kesalahan? Tatapan itu mengingatkannya pada ayahnya ketika tengah marah, dan membuat suasana menjadi terasa canggung.
"Kamu tak menjawab salam saya. Saya akan ulangi, kemudian jawab!" Tegur Gus Habibie, suaranya terdengar dingin.
"Assalamualaikum!" Ucap Gus Habibie sekali lagi.
Manna menoleh pelan, sedikit ketakutan.
"Tata nna... Awab cayam nya om Abie," ucap Adam, cadelnya masih terdengar lucu.
Dengan penuh keberanian, Manna akhirnya menatap Gus Habibie. Namun, tepat pada saat yang sama, Gus Habibie mengalihkan pandangannya, dengan sengaja agar tetap menjaga adab, mengingat mereka belum menikah.
"Wa'alaikumsalam, G-Gus," jawab Manna dengan gugup.
"Sedang apa kamu di sini, Manna? Kenapa tidak langsung ke masjid? Ummah dan bunda menunggumu di sana," tanya Gus Habibie, sesekali menatap Manna dalam-dalam.
"Iya Gus, Manna akan ke sana. Tapi, Manna sedang menunggu Arina, Manna tidak tahu jalan ke masjid," jawab Manna sambil menoleh ke jalan yang mengarah ke ndalem.
"Tata nna... Adam au peyuk tata nna," kata Adam sambil mengulurkan tangannya ke arah Manna.
"Adam mau peluk kak Manna? Ayo sini, nak," jawab Manna dengan senang hati. Namun, saat Manna hendak meraih Adam, Gus Habibie dengan cepat menjauhkan Adam dari dirinya.
"Adam sama om saja. Nanti kak Manna capek," kata Gus Habibie dengan ekspresi yang tegas.
"Gak au om! Adam au ama tata nna!" kata Adam, mulai memberontak dalam gendongan Gus Habibie.
"Manna gak capek kok Gus. Lagian, Adam pengen banget dipeluk Manna," jawab Manna tanpa menyadari perasaan Gus Habibie, yang sebenarnya merasa cemburu. Jika saja ia tahu, Gus Habibie merasa tidak nyaman melihat calon istrinya berdekatan dengan pria lain. Termaksud keponakannya sendiri.
"Biar saya saja. Sekarang kamu ikut saya!" Gus Habibie menatap Manna sekilas, lalu melangkah pergi.
"Kemana Gus?" tanya Manna.
"Ke masjid."
"Jangan sampai ada orang lain yang melihat kita berlama-lama berdua di sini. Bisa menimbulkan fitnah. Lebih baik kita segera ke masjid," ujar Gus Habibie, sambil berjalan mendahului Manna.
Manna hanya terdiam, mengikuti Gus Habibie dari belakang, sambil berusaha menjaga jarak, agar tidak menimbulkan fitnah di mata orang lain.
"Tata nna... Ummah ana?" tanya Adam dari dalam gendongan Gus Habibie.
"Ummah nanti menyusul, ya nak? Kita duluan saja," jawab Manna lembut. Untungnya, Adam hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya lagi.
Namun, tiba-tiba dari belakang, terdengar suara seorang pria yang memanggil nama Manna. Manna segera menoleh, mencari sumber suara tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surga Allah Yang Ke-3
Romance[ISLAMI]-[ROMANCE]⚠️ Habibie Keenan Al-Baihaqi, atau yang akrab disapa Gus Habibie di lingkungan pesantren, adalah sosok yang dihormati karena ilmunya. Di kota besar seperti Jakarta, ia dikenal dengan sebutan Kiyai Keenan, bukan hanya karena kebijak...
