بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
انظر ما قال ولا تنظر من قال
(lihatlah apa yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan)
•
•
•
Assalamualaikum.. Hai guys!, Alhamdulillah, hari ini kita masih diberikan Allah ta'ala kesempatan, kesehatan sampai bisa kembali berjumpa kembali:))
Maaf ya up nya lama. Saya benar-benar sibuk Minggu ini. Tapi Alhamdulillah nya waktu untuk merevisi bab baru saya tidak pernah absen, ya meskipun sedikit-sedikit waktunya kepotong untuk hal yang lainnya, tapi pada akhirnya atas izin Allah saya menyelesaikan revisinya. Sekali lagi saya ucapkan maaf ya buat para readers..😊🙏🙏
Oh iya, gimana nih puasanya?? Wahh pasti pada bahagia kann karena besok lebaran😍 hehe. Minal aidzin ya guys, jika dari bab pertama sampai bab sekarang saya memiliki kata yang kurang mengenakkan saya mohon sebesar-besarnya untuk memaafkan saya. Ataupun kata-kata saya saat membalas komentar kalian:)) tolong maafkan saya ya guys❤️
Nahh pasti kalian udah ga sabar buat baca cerita selanjutnya kan hehe. Monggo guys.. tapii.. Jangan lupa follow dulu ya buat yang belum follow. Kasih Vote dan komentar positif kalian.
Tolong ingatkan juga ya, kalau ada kalimat yang typo/membingungkan. Nanti biar saya revisi lagi❤️
Vote tidak berbayar kok guys. Kok pada gamau mencet bintangnya sih:) di pencet ya sayang. Suatu kebahagiaan yang kalian berikan kepada orang lain akan kembali menyertai kalian juga..
🌻🌻
Saat ini, Manna dan keluarganya tengah berkumpul di meja makan. Setelah menyelesaikan sarapan, mereka sepakat untuk membicarakan bersama mengenai kepergian Manna yang akan mengurus bisnisnya di Italia.
Hari ini, Manna memutuskan untuk tetap berada di rumah, mengingat bahwa hari ini adalah hari terakhirnya di rumah sebelum ia berangkat ke Italia untuk menyelesaikan pekerjaannya selama kurang lebih sebulan.
Namun, sebelum dirinya pergi, Manna ingin memastikan bahwa keluarga yang ia tinggalkan berada dalam keadaan yang stabil secara ekonomi. Dalam hatinya, meskipun keluarga dari suaminya selalu mengatakan bahwa kebutuhan ekonomi mereka cukup, Manna tidak begitu saja mempercayainya. Setiap kali ia punya waktu senggang, dirinya sering kali menangkap Ummah yang menangis sendirian, begitu juga dengan Arina. Manna tentu mengerti alasan kesedihan mertua dan adik iparnya itu.
Faktor ekonomi keluarga suaminya menjadi masalah besar yang menghalangi mereka untuk berkumpul bersama, karena setiap orang harus sibuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Belakangan ini, Arina terlihat begitu bekerja keras, membuat kue dan menjualnya di pasar. Manna sudah beberapa kali menawarkan diri untuk membantu, namun adiknya itu selalu menolaknya.
Seiring berjalannya waktu, kehidupan Manna semakin terasa gelisah. Ia ingin kehidupan semua orang yang ia sayangi berada dalam kondisi yang cukup dan bahagia. Ia tidak ingin orang-orang terdekatnya hidup susah, sementara dirinya selalu dikelilingi harta dan kebahagiaan.
Manna merasa bahwa ia telah gagal menjalankan amanah dari Allah, yang menyuruhnya untuk membahagiakan orang-orang di sekitarnya, terutama keluarga yang tengah berjuang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surga Allah Yang Ke-3
Romance[ISLAMI]-[ROMANCE]⚠️ Habibie Keenan Al-Baihaqi, atau yang akrab disapa Gus Habibie di lingkungan pesantren, adalah sosok yang dihormati karena ilmunya. Di kota besar seperti Jakarta, ia dikenal dengan sebutan Kiyai Keenan, bukan hanya karena kebijak...
