Nerve : Chapter 3

26 3 3
                                        

Di dalam apartmentnya Keira langsung masuk ke dalam kamar lalu membanting tasnya di atas kasur. Ia pun langsung melepas ripped skinny jeans dan jaket RANS Highschool Journalist-nya lalu menggantinya dengan kaus oversize putih dan celana jeans pendek putih.

Keira kembali membuka laptopnya dan masih terpampang Nerve di paling depan. Ia pun duduk di kursi gaming Rexus-nya dan mulai fokus dengan laptopnya.

Keira di hadapi oleh dua pilihan antara menjadi pemain (Player) atau seorang pengamat (Watcher). Ia pun akhirnya memilih menjadi seorang player mengikuti jejak Melly dan remaja lainnya.

Keira pun mendengar suara seorang pria dari dalam laptopnya.

"Hallo, selamat datang di Nerve. Kamu telah memilih sebagai seorang pemain. Nerve adalah demokrasi langsung. Watchers yang memutuskan tantangan kamu seperti apa. Dua pemain dengan penonton terbanyak pada akhirnya bermain pada babak grand final dimana pemenang akan memperoleh segalanya. Watchers bisa menonton dari manapun tetapi mereka akan memintamu untuk merekamnya secara langsung. Jangan khawatir. Ada tiga peraturan yang harus kamu taati sebagai seorang pemain. Pertama, semua yang ditantang harus merekamnya dengan ponsel miliknya sendiri. Kedua, ada dua cara untuk tersingkir. MENYERAH atau TAMAT. Ketiga, dilarang keras melapor kepada pihak berwajib. Terimakasih sudah menjaga kerahasiaan Nerve. Selamat berjuang, pemain."

Ponsel Keira tiba-tiba berbunyi ia pun melihat ada notifikasi dari Nerve. Ia disuruh untuk memasukkan ID lewat sidik jarinya. Ia pun memencet sidik jari tersebut di ponselnya. Ia kembali melihat ke arah layar laptop.

[APAKAH KAMU SIAP UNTUK TANTANGAN PERTAMAMU]

Di samping tulisan kuning terdapat tulisan setuju dengan font berwarna merah. Keira pun memencet tombol setuju.

Data-data pribadi Keira langsung terhisap oleh Nerve untuk dijadikan satu server. Keira pun mendengar suara saat memberikan voice note kepada seseorang.

"Hai, ini Kei. Sekarang lagi nggak ada ditempat."

Ia pun mendengar suara percakapannya dengan Melly tadi pagi lebih tepatnya sebelum sarapan.

"Kei! Lo harus sign up dan nonton gue baik-baik."

Ia juga melihat rekening bank yang ia buat bersama sang bunda bersama dengan rincian saldonya.

[Bank Daerah Bisnis Jakarta]

[Nama Pemilik Rekening : Indira Bhaskara & Keira Bhaskara]

[Saldo : Rp. 54.745.986,77]

Ia juga mendengarkan suara costumer service bank menelpon dirinya dulu.

"... Untuk informasi akun, tekan 1. Untuk telepon dan informasi kartu kredit... "

Nama akun Nerve Keira adalah Kei11May. Beberapa saat kemudian Keira pun menelepon Dean di lift sambil membawa tas ransel kecilnya.

"Dean!"

"Ada apa sih Kei. Gue lagi di luar beli liquid vape tau nggak? Ada yang darurat tah?"

"Kita harus ke Gacoan Ancol. Waktu kita cuma setengah jam."

"Kenapa, memangnya ada apa?"

Dean pun keluar dari toko vape yang dekat dengan apartemen Keira. Dean pun mengambil mobil honda civic R-2023 berwarna kuningnya yang terparkir di depan toko.

Keira pun keluar lift lalu berjalan menuju lobby sambil bicara dengan Dean melalui telepon.

"Gue udah sign-up Nerve dan di sanalah tantangan gue."

Keira pun melihat Dean ada di depan lobby apartemennya dan kaget bukan kepalang.

"Apa maksud lo? Lo sign-up sebagai player?! Udah gila lo emang."

Keira masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Dean.

"Ya, ampun Keira!" gumam Dean sambil mengacak-ngacak rambut panjangnya itu.

"Lo nggak percaya sama sekali?" ucap Keira sambil menutup ponselnya lalu menatap Dean.

Dean cuma mengetarkan bibirnya lalu ia memutar kunci mobil honda civic R 2023-nya itu lalu menyalakan mesinnya.

Di perjalanan menuju Ancol Dean pun menceritakan sesuatu tentang Nerve ke Keira.

"Lo tau kalau ada yang meninggal di Sungai Musi saat bermain Nerve?"

"Gue nggak paham. Seumpama kalau ada yang meninggal, permainan itu akan ditutup." jawab Keira.

"Nggak, mereka nggak akan menutupnya karena servernya nggak cuma satu." jelas Dean.

"Maksudnya?" tanya Keira bingung.

"Semua orang yang log in dalam permainan akan menjadi server baru. Jadi sangat mustahil untuk menghentikannya." jawab Dean yang lebih paham soal internet.

"Gimana lo bisa tau banyak tentang permainan ini? Lo bahkan nggak pernah main." tanya Keira.

Dean pun menatap Keira sejenak karena masih lampu merah.

"Lo perhatikan baik-baik, gue menghabiskan waktu gue buat mempelajari situs gelap oke." jelas Dean lalu menjalankan mobilnya kembali karena sudah lampu hijau.

"Ohhh, banyak waktu untuk situs gelap ya? Benar kan cowok hacker?" ucap Keira menaikkan nada bicaranya.

"Lo bener Kei. Dan lo hanya mengakses lima persen dari internet, Lo tau?!" ujar Dean santai.

Dean pun bertanya serius ke Keira karena khawatir dengan gadis berkacamata biru muda itu.

"Kenapa lo lakuin ini? Sungguh, ini benar-benar berbahaya apalagi udah menyangkut mental dan fisik. Apa cuma karena Melly?"

"Ini bukan karena Melly. Gue...." jawab Keira namun dipotong oleh Dean.

"Mestinya lo nggak seperti ini Kei." ucap Dean perhatian ke Keira.

"Itulah intinya." jawab Keira.

Mereka berdua pun saling diam-diaman sampai ke lokasi tempat Keira mendapatkan tantangan.

*To Be Continued*

NerveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang