Selesai sudah rentetan acara ulang tahun Ayra hari ini. Gadis itu langsung menuju kamar dan menukar dress nya dengan piyama yang nyaman digunakan.
Sejenak, Ayra termenung menatap satu figura yang baru terletak diatas nakas kamarnya. Mengambil figura tersebut dan menatapnya lamat-lamat.
"Heksa," ucapnya terkekeh kecil ketika menyebut nama itu.
Mengelus bagian foto pada wajah anak laki-laki kecil yang ada disana. "Kita ketemunya kenapa gini banget sih?" Lagi-lagi cairan bening itu menetes dari pelupuk matanya.
"Gue udah cukup tersiksa setelah kita berjarak selama belasan tahun. Disaat gue udah putus asa karna kita gak bisa ketemu lagi, tapi tanpa sengaja kita bertemu dengan perasaan yang berbeda."
Ayra menegadah ke atas. Mencoba menghalau air mata yang akan jatuh ke pipi nya. "Kalau tau akan sesakit ini, gue lebih milih gak kenal lo sama sekali."
Gadis itu memejamkan mata. Membiarkan cairan bening itu jatuh sesuka hati. Memeluk figura yang baru diberikan Heksa tadi sore. "Demi Allah, gue gak punya niat sedikit pun buat merebut lo dari Nadya. Tapi kenapa lo nuduh gue? Kenapa lo keluarin kata-kata itu buat gue?"
Ayra terisak diatas kasurnya. Mengeluarkan semua sesak yang ia coba tahan sedari tadi. Setelah pulang tadi, pikirannya benar-benar kacau. Tapi Ayra mencoba baik-baik saja dengan menunjukkan senyuman manisnya pada anggota keluarganya yang ada di rumah. Terlebih di depan tante Rini dan Agil. Ia tidak mau orang lain mengetahui masalahnya. Apalagi karna seorang laki-laki.
"Kamu boleh nangis, Sayang. Tapi nangisnya jangan karna cowok ya? Papi gak suka. Kalau kamu nangis karna laki-laki, Papi merasa gagal untuk melindungi kamu dan merasa gagal menjadi Ayah yang baik buat kamu."
Kata-kata itu terus terngiang di benaknya. Membuat tangisannya semakin terisak.
"Maaf, Papi. Maaf karna Ayra gak bisa cerita." Pecah sudah tangisnya didalam kamar yang tidak kedap suara itu. Membuat siapa saja yang lewat bisa mendengar isakannya. Dan Ayra melupakan satu hal akan itu karna terlalu larut dalam kesedihannya.
Tanpa sadar ada seseorang yang berdiri di depan pintu kamar, untuk mengajaknya bakar-bakar bersama. Mendengar isakan Ayra, membuat Agil mengurungkan diri mengetuk pintu kamar dan langsung mengambil ponsel yang ada di saku celana.
yaya, gue tunggu di halaman depan ya.
ada yang mau gue bilang.
. . .
Ayra menuruni anak tangga rumahnya satu per satu. Tak lupa sebelum turun, ia membasuh muka terlebih dahulu.
Ruang keluarga dan ruang tamu kosong. Semuanya bbq an di halaman belakang rumah yang melewati connecting door di samping dapur.
Ayra mempercepat langkahnya untuk sampai ke tempat Agil menunggu. Bisa ia lihat, cowok itu sedang duduk di atas ayunan dan menatap kerlip bintang di langit.
"Lo mau ngomong apa?" Gadis berpiyama coklat tua itu memilih untuk duduk di salah satu kursi rotan teras.
Agil menoleh ke belakang. Menepuk tempat duduk ayunan di depan untuk mengajak Ayra bergabung bersamanya. "Sini."
Ayra menolak. "Gak. Gue lagi pusing."
Alhasil Agil mengalah dan menuruni ayunan untuk duduk di sebrang adik sepupunya yang dibatasi meja rotan kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Ayra: Cerita Cinta SMA
Novela JuvenilMasa SMA selalu identik dengan cerita cinta pertama-manis, sederhana, dan penuh harapan. Ayra tahu itu. Karena itu, ia memilih untuk tidak terlalu berharap pada kisah cintanya sendiri. Hingga kehadiran Heksa Albara Davendra perlahan mengubah cara Ay...
