22. The Invitation

903 82 28
                                        

TRRIIING TRRIIING

Alarm dari sebuah ponsel berbunyi. Memberitahukan siapapun pemiliknya untuk segera bangun. Sepasang manik lavender terlihat begitu kelopaknya telah terbuka sambil meraih ponsel tersebut untuk memeriksa waktu yang tertera di sana.

Pukul 06.03 pagi.

Gadis itu mengerang dan meregangkan tubuhnya di kasur untuk mengumpulkan kembali semua kesadarannya. Ia mengerjapkan netranya perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke kamarnya.

Masih ada dua hari lagi menuju ke akhir pekan. Hinata benar-benar tidak berniat untuk masuk kerja beberapa hari ini. Kejadian beberapa waktu lalu sangat merusak moodnya mungkin hingga sepanjang minggu ini. Tapi mau semalas apapun ia masuk kerja, Hinata harus melakukan kewajibannya sebagai karyawati biasa. Bisa-bisa gajinya dipotong karena tidak masuk kerja tanpa alasan, sedangkan untuk mengajukan cuti hanya karena masalah patah hati begitu merepotkan. Mau tidak mau gadis itu tetap bekerja meskipun dengan kondisi yang berantakan. Hinata ingat ketika Tenten masih menatapnya dengan pandangan prihatin hingga kemarin. Gadis bercepol dua itu juga tidak mengatakan apapun padanya meski ia biasanya selalu mengomentari ini dan itu. Di satu sisi Hinata sedikit kesepian karena Tenten tidak secerewet biasanya, tapi di sisi lain Hinata bersyukur karena Tenten yang seolah mengerti ia tidak ingin membahas apapun tentang masalah itu.

Setelah selesai membersihkan dirinya dan bersiap-siap berangkat kerja, Hinata memutuskan untuk langsung menunggu bus tanpa mampir dulu ke cafe langganannya untuk membeli teh susu hangat favoritnya. Bahkan menunggu bus untuk bekerja saja rasanya sudah melelahkan. Bukan tubuhnya yang lelah, namun mentalnya yang lelah. Tiga menit menunggu akhirnya bus yang ia tunggu pun datang.

*****

Suasana di kantor seperti biasa cukup ramai, namun terlihat lebih sibuk. Ulangtahun perusahaan dua minggu lagi akan di adakan dan undangan sudah mulai disebar. Para karyawan juga heboh membicarakan tentang undangan-undangan tersebut. Berharap salah satunya akan sampai ke meja mereka. Namun seperti yang sudah di rumorkan, karyawan biasa tidak mendapat undangan karena kebanyakan orang-orang yang hadir hanyalah mereka yang memiliki jabatan tinggi atau yang memiliki peran vital di perusahaan, kecuali bagi mereka yang diajak sebagai partner tamu undangan tersebut.

Hinata tidak mau dipusingkan atau ikut dalam kehebohan yang dibuat oleh para karyawan lain. Kepalanya sudah cukup pusing dengan tabel, angka dan tulisan yang kecil-kecil itu.

Tuk tuk

Suara ketukan pelan di mejanya sedikit membuyarkan konsentrasinya. Di lihatnya Sai sudah berdiri di sampingnya dengan senyum sumringah. Tenten memundurkan kursinya penasaran siapa yg menghampiri Hinata.

"Ada apa?" Tanya Hinata heran tidak biasanya pria itu mendatangi ruangannya.

"Ini." Pria itu menyerahkan sesuatu pada Hinata.

"Ini kan... " Diambilnya benda itu yang ternyata adalah undangan dari perusahaan. "Kenapa kau memberikannya padaku?" Tanya Hinata heran.

"Sebenarnya aku ingin mengajak Ino, tapi dia menolaknya karena tidak ada yang akan menjaga Inojin dan cukup merepotkan jika membawanya. Apalagi ini adalah acara formal. Dia takut ada yang tidak menyukainya jika membawanya bersama kami di acara itu." Sai menjelaskan panjang lebar.

"Lalu kenapa memberikannya padaku?"

"Ino menyuruhku memberikannya padamu. Sayang kalau tidak digunakan."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

COMMITMENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang