[ 3 ] Aku, bahagia?

782 108 54
                                        


"Harapan adalah tiang yang menyangga dunia."

ᜊᜊᜊ

Keesokan harinya. Seperti hari-hari sebelumnya. Dara akan bersiap untuk pergi ke sekolah menggunakan sepedanya. Sebelum itu, seperti biasa pula.. Dara akan menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri.

"Ibu.. Dara berangkat dulu ya"

Tidak ada balasan dari sang ibu, hal itu sudah biasa Dara dapat semenjak ayahnya meninggal dunia. Mungkin ibu Dara mengalami depresi setelah itu. Mereka bisa menjalani kehidupan sehari-hari berkat saudara dari ayah yang dengan senang hati membiayai mereka walau tidak seberapa.

Tapi, dengan itu saja Dara sudah senang. Ibu Dara tidak bekerja, bahkan mengurusi pekerjaan rumah saja tidak. Sifat sang ibu sangat berubah, tidak seperti ibu yang Dara kenal. Mungkin, hati ibu masih berat untuk mengakui bahwa suaminya telah tiada. Walaupun begitu, Dara mencoba mengerti kondisi beliau.

Kemudian, ia pun mulai mengayuh sepeda pemberian ayahnya saat ia masih kecil. Itu adalah salah satu hadiah yang sangat Dara sukai. Meski sepeda itu sudah tua, Dara tetap merawatnya agar sepeda itu masih bisa berfungsi.

*ilustrasi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*ilustrasi

Di pertigaan jalan, ia bertemu dengan Chandra yang ternyata sedari tadi menunggunya untuk berangkat sekolah bersama.

"Loh, kamu kenapa diem disini?" Tanya Dara keheranan melihat sahabatnya berdiam diri seperti sedang menunggu seseorang.

"Aku nungguin kamu, Dara" Jawabnya

"Tapi ini kan udah telat, kenapa engga duluan aja?"

"Biar dihukum barengan" Balasnya seraya tertawa kecil kearah Dara.

Setelah perbincangan yang singkat itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga menuju ke sekolah.

Sesampainya disekolah, ternyata gerbang sekolah sudah tertutup. Mereka terlambat. Satpam yang menjaga pun juga sedang tidak berada di posnya. Lalu, bagaimana ini? Apakah harus memanjat pagar sekolah?

"Yahh udah ditutup gerbangnya" Kata Chandra panik setelah mengetahui bahwa apel pagi itu juga telah berlangsung.

"Hmm.. " Ujar Dara berpikir sejenak.
"Gimana kalo kita manjat aja? Kebetulan tembok sebelah sekolah kan engga terlalu tinggi" Sambungnya.

Chandra pun menyetujui ide Dara. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi ke sebelah sekolah yang memang memiliki tembok tidak terlalu tinggi. Namun, terdapat kawat-kawat yang akan sedikit menghambat mereka.

Stalker -On GoingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang