BAB 13: Ingin Bertemu dengan Polly?

124 46 12
                                        

“Adakah sesuatu yang sedang kaupikirkan?” tanya ibuku saat kami di ruang makan malam harinya. Dia mengernyit samar menatapku.

Aku memotong steik di piringku sebelum menyuapkannya ke mulutku kemudian menggeleng. Jika saja ibuku tahu aku tengah berbohong, dia memilih untuk pura-pura percaya dan mulai memakan makanannya.

Seperti sebuah video yang dipercepat dua kali, rasa-rasanya aku melihat ibuku menua dengan waktu yang mengejutkan. Dia tampak begitu lelah dan aku melihat kantung matanya menghitam. Itu membuatku berpikir bahwa yang kuhadapi beberapa hari belakangan ini tak ada apa-apanya dengan apa pun yang dilalui perempuan itu.

Apakah jangan-jangan keinginanku untuk meminta ayahku kembali sangat membebani pikirannya? Dugaan itu muncul dan berhasil membuatku merasa bersalah kepada ibuku. Jika rencanaku meminta ayahku kembali adalah benar, itu berarti yang dikatakan ibuku jugalah benar. Namun, tak tahu keraguan tentang itu muncul dari otak bagian mana, yang jelas aku merasa jika itu sangat tak masuk akal. Oh, Tuhan. Laki-laki itu pergi dengan perempuan lain! Dia meninggalkan putrinya yang berumur sepuluh tahun, juga seorang istri yang kemudian harus berjuang hingga kini memiliki toko kue sendiri di persimpangan jalan pusat kota Cornery sana. Lalu, apa yang membuatku percaya bahwa dia akan mau kembali lagi, setelah dia memilih untuk pergi?

Aku memandangi potongan-potongan steik di piringku yang belum kumakan, seakan-akan jawabannya akan kudapatkan di sana. Mengapa aku tak langsung menanyakannya saja pada ibuku? Pertanyaan seperti, “Bu, apa kau berbohong padaku?”

Kemudian dia akan menjawab, sambil mengernyit, “Berbohong soal apa, Sayang?”

“Soal pertengkaran kita waktu itu. Apakah benar itu karena aku ingin meminta ayahku kembali?”

Akan ada dua reaksi setelah itu.

Pertama, garpu di tangan ibuku akan terjatuh ke piring, dan wajahnya akan berubah tegang. Dia berkata, dengan sedikit terbata, “Mengapa kau bertanya begitu? Tentu saja itu benar.” Itu akan terjadi jika ibuku memang berbohong padaku.

Dan yang kedua, ibuku bakal meletakkan garpunya setelah menyuapkan steiknya, mengunyahnya lambat-lambat kemudian menelannya seolah itu akan menjadi makanan terakhir yang masuk ke tenggorokannya. Setelah itu dia akan meraih gelas, minum beberapa teguk air, kemudian menautkan tangan di atas meja dan menatapku sedih. “Ya, Sam. Maaf. Maaf karena ibu tak menghentikan pertengkaran itu selagi ibu bisa.” Dia meringis. “Dan … oh, Tuhan, semuanya sudah terlanjur sekarang. Tak ada yang bisa dilakukan. Ibu minta maaf, Sam. Ibu minta maaf.” Dengan begitu, dia akan mulai menangis, dan itu akan terjadi jika dia tak berbohong padaku.

Nyatanya, aku tak melakukannya. Aku tak ingin menanyakan itu kepadanya. Kami berdua tak pernah membicarakan tentang hal-hal mengenai itu selama ini. Setelah kepulanganku dari rumah sakit dengan tanpa ingatan hari itu, kami berusaha untuk membicarakan hal-hal yang mendekati normal seperti yang dilakukan para anak dan ibu di luar sana. Percakapan ringan seperti bagaimana hari ini berjalan, apa menu sarapan besok, dan sejenisnya, dan seterusnya.

Biarpun terasa sulit untukku pada mulanya, tetapi akhirnya aku bisa. Waktu itu dokter Lynn meresepkan obat padaku untuk rutin kuminum, dan itu cukup membantuku. Kecemasan yang timbul akibat seluruh ketidaktahuan dan ketidakfamilieran ini berangsur berkurang.

“Sam?” panggil ibuku. Kini kernyitan di dahinya menjadi lima kali lipat begitu kentara. “Ada apa? Ada yang ingin kaubicarakan?”

Dia memandangi piringku yang isinya tinggal separuh, kemudian beralih untuk menatapku.

Aku kembali menggeleng. “Tidak. Aku hanya … berpikir.”

Aku menatap mata ibuku lama. Mata itu penuh kecemasan yang teramat, membuat perasaan bersalahku yang sudah memikirkan dugaan bahwa dia berbohong padaku tak dapat terelakkan. Menyuap dan menelan potongan steik dengan cepat, aku berkata, yang nyaris tanpa berpikir sebelumnya, “Kupikir aku ingin bertemu dengan Polly.”

Kejutan. Aku malah mengucapkan itu, padahal sama sekali bukan itu yang ingin kukatakan. Namun, kupikir bukan masalah juga. Barangkali ibuku akan menyetujuinya, ya, kan? Bagaimanapun juga, sebenarnya aku ingin bertemu dengan Polly. Seperti apa orangnya, dan bagaimana reaksinya nanti saat akhirnya bertatapan muka denganku?

Kecemasan pada kedua netra itu berangsur menghilang. “Ah, begitukah? Itukah yang kaucoba bicarakan?” Ibuku tertawa kecil. “Kau boleh saja bertemu dengannya kalau memang begitu maumu. Ibu sudah melihatmu tadi bersama temanmu, eh? Jackson? Bagaimana jika Polly kuminta datang besok?”

“Ah … besok?” Pertama, aku sedikit gugup karena ibuku tiba-tiba menyebutkan nama Jackson. Kedua, aku gugup karena tak menyangka akan secepat itu dia akan meminta Polly datang kemari. Besok, katanya? Benarkah aku akan siap menghadapinya? Namun, bedanya dengan pertemuan tak terdugaku dengan Jackson tadi pagi, Polly sepenuhnya tahu dengan kondisiku, jadi kupikir itu akan jauh lebih baik. “Ya. Besok.”

“Bagus. Sebenarnya sepanjang hari ini ibu sudah memikirkannya. Kau kelihatan begitu senang tadi setelah bertemu Jackson, dan itu membuatku berpikir jika mungkin memang sebaiknya kau mencoba berbaur. Bertemu dengan Polly, mungkin mulai mengobrol dengan Tuan Butler? Jadi besok kau tak usah ke toko, bersenang-senanglah bersama Polly, ya?”

“Ibu tak masalah dengan itu?”

Ibuku beranjak dari kursinya, membawa serta piring dan gelasnya yang sudah kosong mengitari meja menujuku. Dia mencium puncak kepalaku. “Apa pun untukmu, Sam,” katanya. Kemudian, ketika dia lanjut berjalan menuju mesin pencuci piring, samar-samar kudengar bisikannya yang mengulangi itu, tetapi kuasumsikan dia tak sadar bahwa aku masih bisa mendengarnya.

“Apa pun untukmu, Sam.”

Who Killed Ronald Waine?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang