Aku dan Polly kini berada di kamarku, duduk berhadapan di tempat tidur.
Tiga jam lalu setelah aku memutuskan membawanya kemari, secara mengejutkan dia bertepuk tangan sekali, seolah dia adalah guru olahraga yang menyuruh murid-muridnya bersiap untuk pemanasan.
Waktu itu aku sudah duduk dengan punggung bersandar pada kepala ranjang, mengernyit melihat Polly yang berdiri di tengah kamarku. Kesedihannya menguap, digantikan dengan optimisme yang membara di kedua matanya, yang mulanya tak kumengerti sama sekali apa maksudnya.
“Sam,” katanya tadi, “mungkin menurutmu bakal aneh, sebab kau tak mengenaliku sama sekali ….” Sebelum dia melanjutkan ucapannya, kugumamkan kata maaf yang dibalasi lambaian tangan olehnya. “Tak apa! Sungguh. Kita akan segera membenahinya, oke? Membenahi apa pun itu … di dalam otakmu sana.”
“Apa? Kau mau mengotak-atik otakku? Mengoperasiku?”
“Oh, Sam.” Kali ini senyum penuh rasa kasihan yang ditunjukkannya. “Mengapa harus semua ingatanmu yang hilang, bukan selera humor rendahanmu itu saja? Nah, jadi begini. Mungkin kau berpikir bahwa aku kemari hanya untuk mengucapkan halo padamu saja, kan?”
Aku mengerutkan dahi. Memangnya apa lagi? Tentu saja ibuku tak menyuruhnya kemari untuk menjagaku seperti pengasuh.
“Jika kau berpikir begitu, maka kau salah besar!” seru Polly setelah tak mendapatkan balasan dariku. Dia berjalan mundur sampai punggungnya bersandar pada meja belajarku. Di sana dia memasukkan tangan ke saku celana dan mengeluarkan sesuatu. “Tahu ini apa?”
“Kehilangan seluruh ingatanku tak lantas membuatku bodoh.” Aku meraih bantal dan memeluknya, memandang Polly dengan hidung berkerut. “Itu ponsel.”
“Anak pintar,” katanya, tampak tak terpengaruh dengan komentar tajamku sebelumnya. “Singkatnya, aku akan membantumu dengan ini. Kudengar kau kehilangan ponselmu, jadi kupikir kau butuh seseorang untuk memperkenalkanmu pada segala sesuatu tentang sekolah kita.”
“Maksudmu seperti tentang teman-teman dan guru-guru?”
“Gadis pintar. Tak cukup banyak foto yang ada di sini, tetapi kurasa cukup. Senin depan sekolah sudah masuk.”
“Ah,” gumamku. Tatapanku jatuh ke tempat sampah plastik di dekat kaki Polly. Sekolah akan mulai enam hari dari sekarang, dan aku tak tahu apa-apa tentang sekolahku seakan-akan aku adalah anak baru yang akan pindah ke sana.
“Jangan khawatir!” Polly kembali mengibaskan tangan. Dia berjalan pelan hingga duduk berhadapan denganku. “Beruntunglah sebab kau bukan Ginny Hayes. Kau adalah Samantha Becker! Karena jika kau Ginny—”Polly menunjukkan foto seorang gadis cantik bermata bulat dengan bibir menyeringai lebar di ponselnya“—yah, kupikir menakutkan sekali karena akan ada banyak orang yang terus membicarakanmu di sana-sini tentang Ginny ini, Ginny itu, yang sesekali akan menyetopmu di lorong, berbicara padamu. Dia salah satu anak populer, jadi akan sangat menakutkan jika kau adalah Ginny sementara kau memiliki nol pengetahuan tentang orang-orang yang terus mencoba membuat percakapan denganmu.” Polly menyentuh lenganku dan mengangguk. “Untung kau Samantha.”
“Ya. Untung aku Samantha,” gumamku, tetapi setelah mencerna penuh perkataan Polly, aku akhirnya sadar. “Tunggu sebentar. Jadi, secara tidak langsung, kau mengatakan bahwa aku ini anak menyedihkan yang sama sekali tak punya lingkaran sosial di sekolah, yang mana tak bakal jadi masalah jika aku pergi ke sekolah tanpa memakai pakaian sekalipun, sebab tak akan ada yang peduli padaku?”
Polly meringis. Dia menggaruk kepalanya. “Yah … tak ada kesimpulan yang lebih baik lagi selain itu. Akan tetapi, benar, kan, yang kukatakan? Kau harus bersyukur sebab kau adalah Samantha.”
Aku mengangkat bahu. “Ya, oke. Kau benar, kalau begitu.”
“Nah, akan tetapi, kau tidak juga sepenuhnya menyedihkan, kok. Kau—kita, maksudku—cukup dekat juga dengan beberapa anak. Misalnya seperti Evan, dan oh! Juga Janice.”
Jadi selama tiga jam itu, Polly menerangkan tentang ini dan itu. Dari Evan Finley si kutu buku yang berkacamata bulat tebal, Janice Wardle si penyuka serangga—Polly mengatakan bahwa tahun lalu saat ulang tahun Janice, gadis itu membawa sekotak sepatu berisi laba-laba yang disebar di kelas biologi karena menurutnya mereka lucu, dan dengan itu dia merasa jika ulang tahunnya merasa terberkati—Ginny Hayes si populer, hingga seorang anak bernama Leo si tukang kentut saat di kantin.
“Sam,” panggilnya. Kini Polly juga memeluk salah satu bantalku ke dekapannya. “Dengar, jika nanti ada yang berbasa-basi padamu apa yang kaulakukan selama musim panas ini, jawab saja, ‘Aku menghabiskan seluruh liburanku bersama Polly.’”
Boleh jadi aku baru mengenal Polly selama tiga jam ini, tetapi aku merasa luar biasa dekat dengannya. Perasaan ini sama halnya ketika aku merasa akrab dengan Sheriff saat dia datang pagi itu, bedanya yang ini terasa dua kali lipat lebih erat. Biarpun aku kehilangan seluruh ingatanku tentang semua hal yang sudah kulakukan bersama Polly, itu tak membuat ikatan yang sudah kami bangun ikut hancur.
Aku mengalihkan pandangan ketika mendengar bunyi ketukan di jendela. Seekor burung mematuk-matukkan paruh kecilnya di sana seolah meminta izin untuk masuk. “Oke,” balasku lambat-lambat, “dan mungkin harus kutambahkan jika pada akhir liburanku, aku suka lari.”
“Apa? Lari?”
Aku berpaling dari jendela ketika burung tadi terbang pergi, membuatku bertatapan dengan sepasang mata Polly yang penuh tanya. “Ya, lari. Lari dari masalahku, hingga membuatku melupakan semuanya.”
Polly meringis. “Oh, Tuhan, Sam. Selera humormu memang gelap sekali—tetapi, toh, itu memang ada benarnya. Jadi, okelah.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Killed Ronald Waine?
Acción[ thriller psikologis, drama keluarga ] [ sudah diterbitkan ] Ronald Waine bisa siapa saja. Dia bisa saja adalah jenis orang yang sekali namanya disebut di keramaian, semua akan langsung mengenalinya. Atau, bisa juga dia hanyalah orang biasa di ma...
