Dalam mimpi, aku berlari bersama Polly. Langkah berat dari sepatu kami adalah satu-satunya yang mengisi kesunyian lorong itu.
“Sam, apa pun yang terjadi—”
“Jangan ... berhenti. Paham?” kataku, terengah-engah.
Sebelum berbelok di tikungan, aku sempat menoleh ke belakang, dan terlihat jelas di mataku seseorang mengejar kami. Dia seorang pria pendek gemuk dengan kepala botak. Alisnya menukik marah. Wajahnya memerah. Dia seorang guru.
“Berhenti ... kalian! Atau ... bakal kutambah hukuman kalian. Lima kali lipat!” teriaknya, tetapi Polly yang di sebelahku malah terkikik gembira. Senang karena pelariannya berhasil sejauh itu. “Oke. Membersikan toilet ... di semua lantai! Sebulan penuh!”
Kami berdua terus berlari, dan Polly kini menyeringai lebar padaku. Satu alisnya terangkat, menunjukkan bahwa dia merasa tak perlu peduli untuk terpengaruh dengan ancaman bernada serius tadi.
Kami berdua masih berlari, dan ketika di belokan selanjutnya, tiba-tiba saja Polly menghilang dari sebelahku. Aku berhenti berlari secara mendadak hingga nyaris terjungkal, berputar di tempat, memandang sekeliling.
“Polly!” jeritku, panik mencari-carinya. Polly tak ada di mana-mana, dan teriakan serta bunyi derap langkah guru yang tadi mengejar ikut lenyap. Aku memutuskan kembali berlari dengan harapan menemukan Polly, tetapi tersandung sesuatu hingga tiba-tiba membuatku terjebur ke danau.
Aku berusaha keluar dari sana, berenang terus menuju tepian, tetapi percuma. Kakiku tak bisa kugerakkan.
“Samantha!” seru seseorang. Aku menengok, dan ternyata itu Ronald Waine. Aku berada tepat beberapa meter dari daratan—darinya. Jantungku seperti berhenti berdegup untuk sesaat. Penampilannya berbeda dengan yang kulihat di foto pada ponsel Sheriff tempo hari. Dia tampak hidup. Tak ada kekosongan di ekspresinya; matanya nyalang memandangku. Akan tetapi, tetap saja. Ronald Waine adalah Ronald Waine. Dan kata ngeri selalu mengikuti namanya tepat setelah bayangannya muncul di benakku.
Pria itu menyeringai. “Menikmati berenang di sana, eh? Di tempatku mati?” Dia berjongkok di tepian danau, terkekeh-kekeh. Tangannya terjulur untuk memainkan air. “Enak, kan, berada di sana? Aku sedang bertanya-tanya ....”
Dari arah belakangnya, mendadak seseorang muncul. Itu Jackson. Dia menyuruhku diam dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibir, berjalan mendekati ayahnya dengan tanpa suara. Sebuah botol kaca di genggamannya, terlihat mantap.
Mataku membola, tetapi lidahku yang terlalu kelu tak bisa mengatakan apa-apa. Kini tak hanya kakiku; seluruh tubuhku mendadak kaku. Dan ketika botol itu akhirnya mengayun kencang ke kepala Ronald Waine hingga membuatnya terjebur ke danau—hanya beberapa sentimeter di depanku—teriakanku lolos hingga membuat tenggorokanku sakit.
“Tidak!” jeritku, terduduk di ranjang.
Ibuku—yang entah sudah sejak kapan berada di sampingku—memelukku, kemudian mulai mengayun-ayunku pelan seperti bayi.
“Tak apa, Sam. Tak apa. Hanya mimpi,” bisiknya lirih, mengulangi kata-kata itu beberapa kali lagi.
“Hanya mimpi ...,” gumamku, memejamkan mata. Napasku pendek-pendek. Kurasakan setiap jengkal kulitku banjir oleh keringat. “Hanya mimpi ....”
“Ya. Kau aman sekarang. Di sini. Oke?”
Aku merasakan tiap sentuhan ibuku mulai menenangkanku, seakan menyuruhku untuk kembali tidur. Akan tetapi, tidak. Itu ide buruk. Satu-satunya pikiran yang belakangan ini membuatku risau saat hendak tidur adalah bayangan Ronald Waine yang menyusup masuk ke mimpiku.
“Bagaimana perasaanmu sekarang, Sayang?” tanya ibuku. Dia melepaskan pelukan hanya untuk menyingkirkan rambutku supaya tak menghalangi pandanganku.
“Apakah aku sudah membangunkan Ibu tadi?” tanyaku, merasa bersalah setiap menatap mata cemas itu. “Aku berteriak-teriak di tidurku?”
Ibuku membalasnya dengan senyuman tipis yang sama sekali tak akan terlihat jika tak kusadari kedutan samar di ujung bibirnya. “Ibu tak masalah dengan itu. Asal kau baik-baik saja. Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Baik. Jauh lebih baik. Terima kasih.”
“Tak perlu berterima kasih.”
Ibuku kembali memelukku, dan suasana menjadi hening untuk sejenak.
“Aku tadi bermimpi ...,” kataku mulai bercerita. Tanganku terangkat untuk menggaruk hidungku yang gatal. “Aku dan Polly dikejar oleh seorang guru di lorong sekolah. Dia marah sekali, meneriakiku dan Polly tentang hukuman ... dan kupikir itu ... bodoh sekali.” Ya, bodoh sekali. Tunggu sampai entah kapan waktunya ibuku tahu soal Ronald Waine yang terus menerobos masuk ke mimpiku. Apakah itu yang akan menjadi bodoh sekali? Dan, apakah aku akan menceritakan itu kepadanya? Jika saja aku tega untuk melihat kecemasan dan kekhawatiran di matanya tumbuh sepuluh kali lipat daripada yang kulihat selama ini, mungkin iya.
“Dia botak?” tanya ibuku tak terduga.
“Apa?”
“Pria itu—gurumu. Dia botak?”
Dahiku mengernyit.
“Jika iya, kurasa itu bukan mimpi. Itu salah satu memorimu.” Ibuku tertawa kecil saat tak mendapatkan responsku. “Sekitar setahun lalu, kau bercerita ada guru baru di sekolahmu yang mengajar kimia. Dia botak—satu hal yang langsung kautambahkan saat menceritakannya saat itu. Lalu sebulan kemudian, entah apa yang sudah terjadi, kau dan Polly membuatnya kesal hingga kalian berakhir mendapatkan hukuman ‘paling menyengsarakan’—begitulah waktu itu kau menyebutnya. Jadi, mungkin saja yang di mimpimu tadi adalah yang benar-benar kaualami waktu itu.”
“Jadi itu bukan mimpi,” gumamku menarik kesimpulan, dan segera menghubungkannya dengan sesuatu yang lain.
Jadi alam bawah sadarku mencoba mengatakan sesuatu, memberiku kilas balik tentang memori yang hilang melalui mimpiku? Dan yang barusan dikatakan ibuku adalah salah satunya? Aku tahu bahwa situasi ini tak akan bertahan selamanya—setidaknya itulah yang kucoba percayai selama ini—tetapi fakta bahwa beginilah caraku mendapatkan kembali secuil memoriku agak mengejutkanku.
Aku nyaris tertawa. Separuh karena senang, separuh lagi masih terkejut.
Jika alam bawah sadarku membantuku mengingat kepingan memoriku dengan cara demikian, apakah mimpi-mimpi tentang Ronald Waine itu juga berarti sesuatu? Namun, apa? Mimpi-mimpi itu berusaha memberitahuku jika aku tahu sesuatu tentang Ronald Waine selama ini? Akan tetapi, aku punya banyak versi tentang itu. Ronald Waine menceburkan dirinya dengan suka rela ke danau, Ronald Waine didorong Alana istrinya ke jalan raya hingga truk menabraknya, Ronald Waine yang kutabrak dengan sepeda, dan Ronald Waine yang dipukul oleh Jackson putranya.
Lalu, kalau memang benar bahwa mimpi-mimpiku ingin mengatakan sesuatu padaku, versi mana yang benar dari itu semua?
“Nah, Sayang, kalau begitu cobalah untuk tidur kembali, oke? Ini masih jam satu malam,” kata ibuku, yang segera membuat cabang-cabang pikiranku rontok ke lantai kegelapan yang pekat, membuyarkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Killed Ronald Waine?
Aksiyon[ thriller psikologis, drama keluarga ] [ sudah diterbitkan ] Ronald Waine bisa siapa saja. Dia bisa saja adalah jenis orang yang sekali namanya disebut di keramaian, semua akan langsung mengenalinya. Atau, bisa juga dia hanyalah orang biasa di ma...
