Yang kini berdiri di hadapanku adalah seorang gadis seumuranku dengan rambut cokelat gelap sebahu yang terpotong rapi.
“Kalian tak apa, kan, kutinggalkan sendiri di rumah?” tanya ibuku, memastikan. Dia berdiri di belakangku, memandang bergantian antara sosok di pintu dan aku.
“Tak apa. Ibu sendiri yang bilang kalau aku akan bisa mengatasinya. Aku harus—”
“Berbaur. Benar.”
Gadis di pintu tampak sedikit meringis. Inilah Polly. Polly temanku.
“Baiklah. Kalau begitu, Gadis-Gadis, selamat bersenang-senang. Sam, ibu akan pulang jam tujuh malam seperti biasa. Pastikan kunci pintunya dengan benar, oke?” Aku dan Polly memberi ruang untuknya keluar melewati pintu, tetapi dia berbalik setelah tiga langkah meninggalkan rumah. “Dan, oh, ya, Polly. Bisa pastikan antara kalian tak ada yang membakar hangus rumah ini saat aku pergi? Aku tak mau ada mobil pemadam kebakaran atau sejenisnya di luar rumah ketika kembali.”
Aku tersenyum kecil, tahu maksud lelucon itu. Ibuku pernah mengatakan bahwa aku dan Polly hobi membuat rumah berantakan dengan entah apa pun tingkah yang kami lakukan. Dari meledakkan microwave, membuat mampat pipa saluran air, menyebarkan saus mustard ke lantai serta langit-langit dapur, hingga pernah saat kami dua belas tahun, tanpa sengaja merusak pintu kulkas sampai membuatnya copot dari engselnya.
Sorot jahil di mata Polly segera muncul, dan tangannya memberi hormat dengan gaya berlebihan. “Siap, Ma’am!”
Sebenarnya aku melihat keengganan ibuku saat menggelengkan kepalanya dan berlalu ke garasi, seakan dia akan pergi bekerja setelah mengantarkan putri kecilnya ke tempat penitipan anak.
Beberapa saat kemudian, mobil ibuku akhirnya pergi dengan klakson yang dibunyikan sekali olehnya, dan tertinggallah aku dan Polly yang melambaikan tangan kepadanya.
Polly kemudian berbalik yang membuatku berpandangan dengan tatapan bimbangnya. “Aku—”
“Kupikir kau tak perlu kusuruh masuk, kan, ya?” ucapku memotong perkataannya, tak mau berlama-lama merasakan atmosfer canggung yang menyiksa. Aku mundur beberapa langkah, memberikan ruang untuknya dan menyuruhnya masuk ke lorong dengan tatapan mataku.
“Ya. Aku bisa masuk sendiri kapan pun aku mau.”
Polly menutup pintunya, dan aku memutuskan untuk berhenti di dasar tangga setelah kupastikan dia mengikuti. Kini ruang tamu tepat di sebelah kananku, dapur dan ruang makan di sebelah kiri, dan lorong yang makin sempit di sebelah tangga menuju ruang cuci. Aku berbalik berhadapan dengan Polly setelah kurasakan tatapannya dari belakang yang seperti menembus hingga tengkorakku.
“Sejujurnya aku tak tahu apa yang akan kulakukan,” kata Polly. Dia menunduk, meringis. Gesturnya menunjukkan bahwa dia ingin sekali menghilang dari hadapanku.
“Begitu juga denganku,” ungkapku, menyerah menunjukkan sikap tabah. Jika saja seseorang bisa melihat hingga ke jiwaku, sudah dipastikan dia tahu bahwa aku bisa pecah berkeping-keping kapan saja.
“Oh, Sam.” Polly akhirnya memandangku dengan penuh rasa kasihan. Matanya berkaca-kaca, hendak menangis. “Bolehkah aku memelukmu?”
Ketika aku mengangguk sebagai jawaban, gadis itu menghambur dan segera meledakkan tangisnya. “Maaf,” isaknya di antara rambutku. “Maaf, maaf, maaf. Kau bodoh sekali! Kenapa memilih untuk menyimpan sendiri semua masalahmu selama ini? Kau tahu kau selalu bisa menceritakan semuanya padaku! Sekarang lihatlah, lihatlah ini. Kau malah menjebak dirimu sendiri dalam kondisi yang amat sangat menjengkelkan. Kau bahkan tak mengingatku! Berani-beraninya!”
Dia terus menangis di pelukanku, dan kurasakan pundakku basah karenanya. Aku makin mengeratkan pelukanku, ikut menangis bersamanya.
“Kau harusnya menceritakan apa pun itu padaku,” gumamnya di antara tangisan. “Aku bodoh sekali. Bodoh, bodoh, bodoh. Bagaimana mungkin aku tak pernah menyadari ada sesuatu yang sedang kausembunyikan selama ini dariku? Oh, harusnya aku tahu itu!”
“Ssst,” bisikku, berusaha menenangkannya, padahal aku nyaris tak bisa mengendalikan diriku sendiri.
Polly akhirnya melepaskan pelukan setelah tangisan kami mereda, dan memaksakan senyum yang membuat wajahnya terlihat konyol.
“Kau jelek sekali saat menangis,” katanya, mendengus geli saat mengusap air matanya.
“Kau juga,” kataku.
Kami berdua tertawa, tak yakin apakah itu karena ejekan yang saling kami lontarkan, atau karena situasi menyedihkan yang kami hadapi kini, yang mana memang patut untuk ditertawakan.
“Oke,” Polly memulai, “mungkin kita harus memulainya dari awal.”
“Dari awal?”
“Ya.” Gadis itu mengulurkan tangan setelah mengelap punggung tangannya ke ujung baju. Matanya merah sehabis menangis. “Aku Polly Walker, dan aku tidak suka sandwich selai kacang dan jeli. Itu rasanya aneh.”
Aku menyambut tangannya dan mengangguk. Mulanya aku tak yakin, tetapi kata-kata yang kemudian kuucapkan terasa begitu mantap saat keluar dari mulutku. “Aku Samantha Becker, dan aku tidak suka dipanggil ‘Sammy’ karena itu kedengaran seperti nama anjing.”
Polly terlihat mematung selama beberapa saat. “Kau mengingat itu?”
Aku memandangnya bingung. “Mengingat apa?”
“Itu adalah perkenalan yang persis kita lakukan dulu saat di TK! Kau mengingatnya?”
“Apa? Benarkah?”
“Ya!” Polly meletakkan masing-masing tangannya di bahuku, sedikit mengguncangnya disertai tawa bahagia. “Kupikir itu bagus. Itu sebuah pertanda, ya, kan? Kau akan mengingat semuanya, Sam! Semuanya! Jelas itu semua masih ada di suatu tempat di dalam otakmu. Kau tahu, kau hanya perlu mencari kunci yang tepat.”
Polly merasa tak perlu menunggu jawabanku dengan menarikku ke pelukannya sekali lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Killed Ronald Waine?
Action[ thriller psikologis, drama keluarga ] [ sudah diterbitkan ] Ronald Waine bisa siapa saja. Dia bisa saja adalah jenis orang yang sekali namanya disebut di keramaian, semua akan langsung mengenalinya. Atau, bisa juga dia hanyalah orang biasa di ma...
