EPILOG

111 36 18
                                        

Sehari setelah pesta ulang tahun Chloe


Sore ini aku membiarkan udara dingin danau menyapu kulitku. Aku baru menyadarinya sekarang bahwa aku belum benar-benar pernah sedekat ini dengan danau yang selalu menjadi favoritku selama seminggu ini kehilangan seluruh ingatanku.

Semuanya masih sama seperti yang terakhir kali kuingat, dan aku membiarkan kakiku berdiri di pinggir danau ini setidaknya sudah selama setengah jam tanpa melakukan apa-apa.

Langit mulai menampakkan perubahan warna spektakulernya di cakrawala, dan aku membiarkan diriku tersenyum. Tersenyum pada apa yang kulihat, tersenyum pada apa yang sudah berlalu.

Kemarin setelah akhirnya tersadar dari kenangan mengenai hari itu yang membuatku segera kewalahan, tak ada yang benar-benar kupikirkan selain ibuku serta fakta bahwa akulah penyebab Ronald Waine tiada.

Aku sempat meminta maaf kepada Maggie serta Chloe sebelum pergi dari sana kemarin karena mengacaukan pestanya dengan membuat sedikit keributan, dan Jackson segera mengantarku kembali ke rumah karena aku memintanya begitu alih-alih membawaku kembali ke toko.

Selama perjalanan itu aku sama sekali tak berani memandang Jackson, yang mana harus kutahan kuat-kuat kedua kepalan tanganku di pangkuan supaya dia tak menyadari tanganku yang tengah gemetar hebat. Namun, setidaknya kurasa dia menyadari keanehan sikapku yang mendadak ingin sekali pergi dari sana—mengingat bagaimana aku begitu bersemangat saat di perjalanan berangkat karena ingin mengejutkan Chloe dengan kado yang kubawa—tetapi untunglah dia tak bertanya apa-apa.

Sampai di rumah, aku menunggu ibuku hingga pulang sambil menangis tertahan di ruang tamu. Lalu, ketika akhirnya dia pulang, pada saat itulah aku memberi tahunya semuanya. Kami sempat bertengkar, menangis, berpelukan, saling menenangkan, kemudian menangis lagi sepanjang malam, dan hari ini pun aku masih merasa secampur aduk seperti kemarin.

Astaga, apa yang sudah kulakukan?

Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan mengusap bahuku lembut, memutuskan lamunanku.

“Jangan terlalu memikirkannya,” kata ibuku. Dia berdiri di sebelah kanan-belakangku.

“Sekali lagi,” ucapku, “kenapa Ibu memilih untuk berbohong padaku soal apa yang terjadi pada ayah?”

Ibuku menghela napas panjang sebelum kembali bersuara. Tangannya meremas bahuku, dan fakta bahwa kami sedang tak bertatapan membuat perasaan bersalahku berkurang karena sudah menanyakan itu berulang kali kepadanya, karena bagaimana pun juga, kami pada dasarnya berada di posisi yang sama.

“Ibu tak bisa mengatakan sesuatu yang lebih baik daripada itu supaya membuatmu yakin. Dan, seperti yang telah kukatakan, bahwa seorang ibu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya.”

“Maaf,” kataku lirih, “karena sudah membuat Ibu berada dalam posisi sulit seperti itu.”

“Jangan khawatir. Ibu tak apa. Tapi, Sam, ada satu hal yang ingin kuminta darimu. Apa kau keberatan dengan itu?”

“Tidak sama sekali.”

“Aku ingin kau melupakan tentang hari itu. Bahkan—”ibuku memberi jeda“—lupakan tentang fakta bahwa Ronnie Hugh dan Ronald Waine adalah orang yang sama.”

Kubiarkan perkataan ibuku begitu saja tanpa membalasnya, dan dia terlihat sama sekali tak mempermasalahkannya. Segala perasaan bercampur menjadi satu dalam diriku, dan tak dapat kukatakan apakah perasaan itu akan bisa memudar dan menghilang dalam waktu dekat ini.

“Samantha,” panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari danau sama sepertiku beberapa saat setelahnya. Suaranya datar tanpa emosi. “Apa kau mengenal Ronnie Hugh?”

Aku menelan ludah dengan susah payah sebelum mengangguk dan berkata, “Dia mantan kekasihmu.”

“Lalu, apa kau mengenal Ronald Waine?”

Aku tertegun sebelum akhirnya menjawab tidak. Ketika ibuku akhirnya meremas kembali pundakku untuk kali terakhir kemudian berbalik untuk kembali ke rumah, aku bergumam sambil memandang indahnya langit senja yang menawan, berbanding terbalik dengan suasana hatiku yang kusut, suram, dan mendung. Aku bahkan bisa merasakan adanya badai dan juga kilat tak terlihat sedang menyambar-nyambar diriku saat ini. “Aku hanya mengenal Ronnie Hugh, bukan Ronald Waine.”

Aku hanya mengenal Ronnie Hugh, bukan Ronald Waine. Tanpa sadar aku terus mengulangi kalimat itu seperti kaset rusak di kepalaku, dan pada gumaman ketiga—aku hanya mengenal Ronnie Hugh, bukan Ronald Waine—aku merasakan air mata mengalir di pipi.

Who Killed Ronald Waine?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang