BAB 3: Pria yang Ditarik dari Danau

172 79 33
                                        

"Apa yang sedang terjadi?" tanyaku penasaran, tepat setengah jam sesudah percakapan mengenai ayahku berlangsung.

Beberapa saat lalu, ketika mobil ibuku berbelok ke jalanan yang lebih kecil dan sepi, dengan Forest Street tertulis di rambunya, di mana pepohonan tinggi besar berjajar di sisi kanan jalan, dia bilang jika tak lama lagi akan sampai.

"Di mana danaunya?" kataku tadi, mendesak.

"Setelah ini," tawanya. "Ada belokan, dan rumah kita yang kedua dari sana."

"Rumah kedua," ucapku mengulangi.

Pandanganku masih terpaku pada pepohonan di luar jendela.

Meskipun sekarang masih menunjukkan jam delapan malam kurang, tetapi jalanan benar-benar sepi. Aku tak menemukan sama sekali kendaraan lain yang melaju, seakan-akan ini adalah sebuah tempat terpencil yang terisolasi dari dunia luar. Aku bisa melihat ada beberapa rumah di kiri jalan, tetapi belum melihat satu orang pun di mana pun. Akan tetapi, setidaknya ini jauh lebih baik daripada harus terjebak macet seperti di jalan raya tadi.

"Lalu," kataku lagi, "milik siapa rumah pertama dari belokan?" Aku menoleh kepada ibuku.

"Tuan Butler," senyumnya, dan kurasakan jika mobil berbelok ke kanan.

Aku kembali menolehkan kepala ke luar jendela, dan segera terkesiap melihat pemandangan baru di depanku. Ibuku, yang segera mengerti apa yang sesungguhnya kuinginkan, memelankan laju mobilnya. Inilah danau yang dibicarakannya. Aku menurunkan kaca jendela. Jika saja kehilangan ingatanku menyebabkan sebagian kemampuanku berkata-kata ikut terganggu, aku yakin masih bisa mendeskripsikan panorama menakjubkan di depan mataku kini, setidaknya dengan beberapa kata simpel, tetapi bisa sangat mewakilinya.

Indah. Spektakuler. Tenang. Serta luar biasa.

Dan anehnya, hanya dengan melihat ini, aku segera merasa seperti di rumah.

Pepohonan yang sepanjang jalan tadi kujumpai, kini terlihat seperti pagar yang menutupi satu sisi danau, berjajar beraturan, dan, di sisi seberang danau yang jauh itu, bisa kulihat lampu-lampu rumah dan sesekali lampu kendaraan yang melintasi jalan. Perairannya tampak tenang, dan seketika aku merasa jika bisa tersedot ke kedalamannya kalau saja pemandangan itu tidak secara tiba-tiba berganti menjadi mobil polisi yang terparkir di pinggir jalan, menghalangi indahnya danau yang memantulkan samar cahaya bulan.

Aku menoleh kepada ibuku yang juga kelihatan sama bingungnya denganku, dan baru kurasakan jika mobil berjalan makin pelan daripada sebelumnya.

Ibuku menggeleng, menunjukkan jika dia juga tidak tahu apa yang terjadi sekarang.

Pasalnya, bukan hanya sebuah mobil polisi yang terparkir di sisi kanan jalan. Ada dua mobil polisi, sebuah ambulans, kemudian mobil pemadam kebakaran, yang keempatnya diparkir layaknya mobil-mobil penjemput di pinggir jalan saat waktunya pulang sekolah, berderet memanjang.

Ketika sekali lagi kepalaku menoleh ke kiri kepada ibuku, aku melihat sebuah rumah yang tampak begitu terawat dan menyenangkan. Taman di halaman rumahnya dipenuhi beraneka macam bunga warna-warni yang indah, dan sekilas aku bisa melihat bermacam alat pancing yang tergeletak di samping rumahnya. Pot-pot tanaman, dari yang besar hingga terkecil, disusun begitu rapi oleh pemiliknya. Aku mengernyit. Itukah rumah Tuan Butler? Kalau begitu, mana rumahku? batinku bertanya-tanya, dan aku sudah akan melihat ke depan ketika tiba-tiba ibuku bergumam.

"Oh, musibah." Ibuku memalingkan wajah dan segera fokus menatap depan. Matanya membeliak. Ekspresinya tak tertebak. "Jangan dilihat," katanya.

Namun, persis seperti anak kecil yang dilarang, aku segera kembali melihat ke luar jendela di sebelahku, dan langsung menyesalinya.

Who Killed Ronald Waine?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang