Pukul lima sore ketika toko akan ditutup, lonceng di atas pintu berdenting.
Aku sedang di dapur, membersihkan meja dari bekas tepung, sementara ibuku ada di depan.
Aku memutuskan untuk mengintip dari kaca yang memisahkan dapur dengan bagian depan toko, dan pandanganku terpaku pada seorang perempuan berusia akhir dua puluhan, memasuki toko dengan gaun kuningnya yang melambai-lambai. Dia tersenyum kepada ibuku yang berada di balik etalase, berjalan dengan langkah ringan saat melewati meja-meja bulat yang dikelilingi kursi-kursi, dan sepatu berhak tingginya yang mengetuk-ngetuk lantai menjadi satu-satunya suara selain bunyi-bunyian klakson di persimpangan jalan.
S&S Becker Bakery.
Aku suka toko kue ini. Sangat. Sepuluh menit dari rumahku, dan berada tepat di pusat kota kecil Cornery. Tokonya terletak di sudut perempatan jalan yang bersebelahan dengan toko buku bekas, menghadap ke selatan, dan berseberangan dengan taman kecil. Ada pohon-pohon teduh serta bangku-bangku merah di sana, air mancur, tanaman-tanaman di pot besar, serta dinding bata—yang merupakan bagian luar dari kedai kopi di sebelahnya—yang sekurang-kurangnya selebar 25 meter yang dicat menyerupai pemandangan alam.
Perempuan itu duduk di salah satu kursi tinggi di depan etalase dan menoleh ke belakang, seperti mengecek sesuatu, kemudian menatap ibuku. Ketika dia melakukan itu, anting-anting panjangnya berayun-ayun, hampir menyentuh bahunya.
“Selamat sore.” Suaranya terdengar bersemangat, dan senyuman lebar tetap ditunjukkan di bibir berlipstik merah terangnya. “Aku mau memesan kue untuk acara ulang tahun anakku.”
“Baiklah.” Ibuku meraih buku catatan di dekatnya dan siap menulis.
“Mm, tunggu sebentar.” Perempuan itu mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. “Di mana, ya, ponselku tadi? Nah, ketemu.”
Dia menggulir-gulirkan layar di ponselnya dan tampak serius untuk beberapa saat, kemudian menunjukkan sesuatu kepada ibuku.
“Chloe anakku ingin yang seperti ini. Kuenya bulat bergambar unicorn. Ada pelangi di belakangnya. Tepat seperti ini.”
“Dan,” kata perempuan itu lagi penuh penekanan, “rambutnya harus warna-warni. Rambut unicorn-nya. Karena, aduh, tahun lalu aku juga memesankan kue yang sama untuk Chloe, tetapi dia menangis saat kuenya tiba. Karena, kau tahu, rambut unicorn-nya berwarna hitam! Dia terus mengatakan jika itu adalah keledai. Acaranya hampir batal. Untung saja seorang anak mengatakan jika kuenya akan tetap enak walaupun itu gambar keledai, bukan unicorn. Jadi, tahun ini aku ingin memesankan kue yang benar untuk Chloe.” Perkataannya yang panjang itu diakhiri dengan satu anggukan mantap.
Keduanya meneruskan pembicaraan, mulanya tentang kue serta acaranya, kemudian berganti kepada hal-hal lain, hingga tanpa sadar meja yang harus kubersihkan terlupakan. Entah mengapa perempuan itu memiliki aura yang seakan-akan mengatakan padaku untuk terus melihatnya.
Dia kelihatan seperti jenis anak di sekolah yang senang mengatur, cerdas, tetapi memiliki selera humor yang bagus. Dan, dia juga jenis anak yang disenangi guru, tetapi tak sedikit pula anak-anak lain yang akan dengan senang hati mengikuti ke mana saja dia pergi, seakan-akan semua kehidupan mereka langsung berpusat padanya.
“Aku yakin aku belum mengatakannya, tetapi toko kue ini benar-benar kelihatan nyaman dan sungguh mengagumkan.” Perempuan itu mengedarkan pandangan, menatap terpana seperti gadis cilik. Dia kembali menatap ibuku. “Omong-omong, aku Maggie, dan aku baru di sini. Pindah ke Pine Street dua minggu lalu.”
“Begitukah?” kata ibuku. “Aku Savannah, dan pantas saja aku belum pernah melihatmu, maksudku, yah, Cornery adalah kota kecil. Jadi, aku sudah hampir hafal siapa saja yang datang kemari setiap harinya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Killed Ronald Waine?
Action[ thriller psikologis, drama keluarga ] [ sudah diterbitkan ] Ronald Waine bisa siapa saja. Dia bisa saja adalah jenis orang yang sekali namanya disebut di keramaian, semua akan langsung mengenalinya. Atau, bisa juga dia hanyalah orang biasa di ma...
