BAB 21: Berhasil Menyingkirkannya

116 41 16
                                        

“Ronnie Hugh? Siapa dia?”

Ibuku mengabaikan pertanyaanku dengan berjalan melewatiku menuju ruang makan. Dia duduk pada salah satu kursinya dan tak menoleh sedikit pun ke arahku yang secara naluri mengikutinya, duduk berhadapan dengannya.

“Ayahmu meninggal tujuh tahun lalu,” gumamnya pelan sembari menatap jalinan jari-jemarinya di atas meja. “Dia sedang berkendara pulang dari sekolah sore itu—”(ibuku pernah menceritakan padaku bahwa ayahku mengajar mata pelajaran sejarah di Cornery High)“—ketika sebuah mobil menerobos lalu lintas dari arah berlawanan. Kecelakaan itu tak terhindarkan, dan ketika kita berdua tiba di rumah sakit tepat setelah mendapatkan kabar itu … dia sudah tiada.”

Ibuku mendongak menatapku yang terlalu terpegun hingga tak menemukan sesuatu untuk kukatakan lagi. Aku tak mengerti harus menyikapi bagaimana ucapan ibuku barusan. Aku merasa sedih dan bersimpati terhadap apa yang dikatakannya, tetapi itu tak lantas membuatku hingga merasakan kesedihan teramat yang harusnya kurasakan ketika mendengarnya, sebab saat ini aku bahkan nyaris tak mengingat apa-apa tentang sosok pria yang kusebut sebagai ayahku—sosok pria yang tengah diceritakan ibuku.

“Kau begitu terpukul setelah kejadian itu. Kau dan ayahmu sangat, sangat dekat.” Kini ibuku meloloskan tawa kecil, tetapi pandangannya yang kosong menyiratkan kesedihan yang mendalam, seakan hanya dengan menceritakannya, memori mengerikan yang tertanam di kepalanya itu kembali berputar, menerornya. “Ibu pun sama halnya denganmu. Tertekan, terguncang. Ayahmu adalah pria baik dan luar biasa yang pernah kujumpai selama ini, dan kehilangan dirinya sama dengan seperti kehilangan diriku sendiri.

“Beberapa bulan sebelum kepergiannya, kita bertiga memiliki rencana besar yang bahkan jika kini ibu pikir-pikir lagi, ide itu sungguh gila. Tapi rencana itu akhirnya berjalan mulus seperti yang kita bertiga inginkan,” senyumnya penuh kenangan. “Walau pada akhirnya dia tak berada di sini untuk menjalankannya bersama kita …. Dia kerap mengeluh bahwa mengajar bukanlah gayanya, biarpun sebenarnya, bisa dikatakan dia adalah guru favorit dari yang terfavorit. Apalagi di kalangan anak-anak murid perempuannya. Yah, tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ayahmu cukup tampan, Sam, biarpun di usianya yang keseratus sekalipun—kami berdua selalu bercanda soal itu—apalagi waktu itu dia masih berusia tiga puluh satu. 

“Jadi begitulah. Dia sudah memutuskan bahwa pada akhir semester akan berhenti mengajar, dan memilih untuk mulai menjalankan ‘bisnis’nya—setidaknya begitulah dia menyebutnya. Tapi kecelakaan itu mendahuluinya.”

“S&S Becker Bakery,” gumamku.

“Dulunya itu Lew's Bakery,” kata ibuku dengan muram. “Selama empat tahun kita menjalankannya, dan semuanya berjalan normal sekaligus menyenangkan. Cukup sukses kalau boleh dibilang. Tapi kemudian seseorang muncul.”

Dahiku berkerut. “Ronnie Hugh.”

“Ya.” Ibuku menunduk.

“Dia pacar Ibu, kan, ya?” ucapku menyipitkan mata setelah tak lagi kudengar penjelasan lebih lanjut dari ibuku, cukup mengerti dengan perubahan ekspresi pada wajahnya.

Ibuku tetap diam.

“Apa yang terjadi setelahnya?” kataku dengan nada sarkastis, menahan keinginan untuk membalik meja sekarang juga. Aku tak yakin apa yang membuatku begitu emosional. Apakah karena cerita menyedihkan tentang ayahku, atau fakta bahwa sekarang aku merasa seperti seonggok kotoran tak berguna. “Ah, kupikir aku tahu itu. Ibu langsung jatuh cinta padanya begitu saja, kan, ya? Kalian saling jatuh cinta, tapi sebenarnya Ronnie tidak. Dia hanya, apa, memanfaatkanmu? Kemudian memeras seluruh uang kita dari toko atau sejenisnya, tapi kau tak menyadari itu karena kau sangat mencintainya. Dia juga sebenarnya bukanlah pria baik seperti yang kaupikirkan, melainkan seorang bajingan yang hanya menginginkan uangmu. Uangmu. Benarkah begitu?”

Aku bisa merasakan darah di setiap aliran darahku mendidih. Ibuku tetap diam, dan kuanggap bahwa separuh dari yang kukatakan adalah benar karena dia sama sekali tak menyangkalnya. Siapa pun pria ini, aku sungguhan ingin bertemu langsung dengannya dan menampar wajahnya. “Berapa lama Ibu bersamanya?”

Ibuku menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali bertatapan denganku. “Kupikir ibu akan naik dan beristirahat. Hari ini toko cukup ramai.”

“Tidak, Bu. Jangan kabur dari percakapan ini,” kataku, setengah frustrasi, setengah lagi memohon.

Gerakan ibuku yang akan bangkit dari kursi terhenti, tetapi segera dilanjutkannya niatnya untuk naik ke kamarnya setelah menjawab pertanyaanku, membuatku tak memiliki kesempatan untuk mengatakan apa-apa lagi.

“Tiga tahun, tapi jangan khawatir, karena kau berhasil menyingkirkannya. Pertengkaran kita itulah yang membuatnya tak lagi datang kembali ke sini.”

Who Killed Ronald Waine?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang