“Bu … apa dia …. Oh—oh, tidak.” Aku berjalan berputar-putar, satu tangan di kepala, sementara yang lain menutupi mulut.
Ibuku memanggilku dengan suara pelan, kemudian lebih keras. “Sam ….” Dia bangkit berdiri dan berjalan ke arahku. “Tak apa. Tak apa. Kau aman di sini.” Ibuku mengecup kepalaku berulang kali sambil masih terisak. “Kau aman di sini.”
“Bagaimana … bagaimana dengan Ronnie?”
“Ronald,” koreksinya. Dia menyeka air mata yang turun ke pipiku dengan ibu jarinya, kemudian menuntunku untuk duduk di kursi. “Tunggu di sini sebentar.”
Ibuku berjalan menjauhiku dan dengan hati-hati menghindari pecahan kaca di lantai ketika jarak antaranya dan tubuh tak bergerak pria itu makin dekat. Dia berjongkok, menjulurkan dua jari ke leher si pria, mencari denyut nadi di sana. Namun, ketika dia menoleh menatapku beberapa saat setelahnya dengan ekspresi tertentu di wajahnya, aku tahu sesuatu buruk sudah terjadi.
Aku berjingkat dari kursi dan kembali berjalan berputar-putar. “Tidak, tidak.” Kelopak mataku berkedut. “Apa yang sudah kulakukan? Apa yang barusan kuperbuat?”
Ibuku kembali menghentikanku, kali ini dengan memelukku. Dia menangis tertahan. “Sam. Sssh. Diamlah. Tenanglah.”
Pandanganku kosong, penuh dengan air mata.
“Tidak. Aku … aku harus … sebentar,” ucapku mulai melantur. Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya, tetapi gagal. “Aku harus menelepon polisi, Bu, sebentar. Menelepon Sheriff Mueller dan … dan mengatakan apa yang baru saja terjadi.”
“Tidak!” jeritnya. Menangis makin kencang. “Kau tak akan melakukan apa pun, Sam. Tak akan.”
“Lalu bagaimana?” tanyaku, balik menjerit padanya. “Aku sudah membunuhnya!”
“Tidak!” Ibuku melepaskan pelukan dan memandang tepat di mataku. “Kau—tak melakukannya. Dia terjatuh. Terpeleset. Terbentur.”
“Aku mendorongnya.”
“Kau tidak melakukan apa-apa.”
“Aku harus berbicara pada polisi.”
“Kau takkan melakukannya.”
“Dan mengatakan pada mereka bahwa aku membunuh seseorang.”
“Sam—”
“Semua orang akan tahu jika aku adalah pembunuh!”
“Sam!” Ibuku menyentakku. “Kau takkan melakukan apa-apa, oke? Dengar—”dia menarik napas panjang“—aku takkan membiarkan sesuatu terjadi padamu …. Karena aku menyayangimu.”
Aku mengangguk berulang kali, tahu bahwa tenggorokanku yang kini terasa sakit tak mampu mengatakan apa-apa lagi, dan kurasakan air mata yang panas terus bergulir ke pipi.
“Sekarang,” katanya lagi, “bantu ibu mengeluarkannya dari sini.”
“Apa yang akan kita lakukan?” tanyaku ketika ibuku berbalik membelakangiku.
“Kita akan menyembunyikannya.”
“Di—di mana?” ucapku takut-takut.
Ibuku menoleh menatapku melalui bahunya. “Kau tahu jika ibu menyayangimu, kan?” katanya, yang kubalasi anggukan seperti sebelumnya. “Ibu akan melakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk membuatmu tetap aman karena aku adalah ibumu.” Untuk sesaat ibuku memandang danau yang gelap melewati jendela di ruang makan, kemudian menatapku. “Kita akan membawanya ke sana. Sekarang, ayo bantu ibu melakukannya. Sebelum matahari terbit.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Killed Ronald Waine?
Action[ thriller psikologis, drama keluarga ] [ sudah diterbitkan ] Ronald Waine bisa siapa saja. Dia bisa saja adalah jenis orang yang sekali namanya disebut di keramaian, semua akan langsung mengenalinya. Atau, bisa juga dia hanyalah orang biasa di ma...
