BAB 5: Tahu Apa?

163 74 26
                                        

“Jadi, Savannah, bagaimana dia?” tanya Sheriff.

“Tidak baik,” jujurnya, dan di sinilah aku akhirnya benar-benar merasakan keresahannya. Di samping terdengar begitu lelah, perempuan itu juga kelihatan cemas dan amat gugup biarpun yang bisa kulihat hanyalah punggungnya.

“Tidak baik bagaimana?” tanya Sheriff, terdengar dua tingkat lebih serius. Dia mencoba melirik ke dalam rumah melewati bahu ibuku. Mungkin dia berharap menemukan sosokku?

Aku berupaya untuk tetap berada di luar jangkauan matanya, dengan sudah memutuskan untuk mendengarkan obrolan mereka dari dalam kamar mandi. Yang itu artinya, mau tak mau, membuatku memaksakan diri untuk bertahan pada posisi berdiri sedikit membungkuk di dekat pintu dengan menjulurkan tubuh, hingga setidaknya telingaku bisa terus mendengarkan percakapan keduanya melewati pintu kamar mandi yang kubiarkan terbuka.

Model tangga di rumahku yang langsung berhadapan dengan pintu depan, memiliki bentuk memanjang ke atas tanpa belokan, dan tepat setelah itu ada kamar mandi di samping kanannya—seperti yang sudah kukatakan sebelumnya—jadi bukannya tidak mungkin jika sewaktu-waktu Sheriff itu memergokiku dari tempat persembunyianku kini.

“Aku …,” gumam ibuku. Ucapannya terdengar mengambang di udara, kemudian menghilang terbawa angin. Dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan, dan kulihat dia membekap mulutnya, mungkin menyamarkan isakan dari sana. “Aku tak bermaksud membuatnya sampai begini, Tony,” ucapnya makin pelan. “Tidak …. Aku sama sekali tidak bermaksud. Aku bahkan tidak tahu jika akan seperti ini akhirnya.”

Sheriff bertubuh jangkung yang disebut ibuku sebagai Tony kelihatan bingung. Matanya bergulir-gulir memandang ibuku yang menunduk menekuri lantai dengan tangan kanan menangkup separuh wajah, sementara tangan yang lain berada di siku, menopangnya.

“Ada apa? Sesuatu buruk terjadi pada Samantha?” Sekali lagi sepasang mata Sheriff mencari-cari ke dalam rumah.

“Dia kehilangan ingatannya,” jawab ibuku.

“Dia apa?” tanya Sheriff.

Kehilangan ingatan. Aku mengulangi perkataan itu dan menanamkannya di kepala. Samantha kehilangan ingatannya.

Coba bayangkan itu. Kehilangan ingatan. Aku meresapi dua kata itu, dan seketika berpikir jika itu adalah fenomena aneh menggelikan yang memalukan. Bagaimana bisa itu terjadi padaku?

“Dia terjatuh? Terbentur? Atau seseorang memukulnya? Melukainya di kepala?”

Aku mendengarkan segala pertanyaan disertai kecemasan yang dilontarkan Sheriff, dan tanpa sadar berjalan hingga berhadapan dengan cermin di atas wastafel.

Melawan perasaan asing ketika ditatap oleh wajah di cermin, tanganku terangkat untuk meraba kepalaku. Tak ada luka. Sama sekali tak kutemukan benjolan atau rasa sakit saat menyentuh bagian mana saja di kepalaku. Semuanya tampak normal, persis seperti yang dikatakan dr. Lynn.

Aku tidak dipukul. Dan aku tidak terjatuh lalu terbentur sesuatu. Aku tidak apa-apa. Setidaknya, kepalaku tidak apa-apa. Hanya saja memang otakkulah yang menjadi sumber masalahnya di sini.

Alisku berkerut, kemudian yang kulakukan adalah menuding bayanganku di cermin. “Apa, sih, yang sudah terjadi padamu sebenarnya? Lihat ibumu, dia baik, dan lingkungan rumahmu pun menyenangkan. Kehidupanmu kelihatannya … sempurna. Lalu mengapa kau memilih untuk melarikan diri dari semua itu?”

Gadis di cermin memandangku menggunakan mata gelapnya tanpa berkedip, dan kata-kata yang terucap setelahnya nyaris seperti di luar kendaliku, meluncur begitu saja tanpa diriku sendiri sadari. “Kau, Samantha, adalah bocah bodoh menyedihkan.”

Who Killed Ronald Waine?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang