“Apa maksudmu, Sayang?” ucap ibuku dengan mata membeliak, meneliti wajahku, mencari-cari kemungkinan apakah aku sedang bermain-main dengan asal melontarkan pernyataan aneh kepadanya. Namun, ketika dia tak menemukan apa-apa kecuali keseriusan pada wajahku, perempuan itu berjalan pelan menuju ke arahku. Dia berusaha meraih pundakku, tetapi kumundurkan dua langkah kakiku hingga tangannya menyambut udara kosong.
“Mengapa Ibu membohongiku?” kataku lagi, kini suaraku bergetar dan mataku memanas. Rahangku mengatup rapat hingga gigi-gigiku yang saling menekan terasa sakit. Aku tahu jika hanya soal waktu ketika air mataku membasahi kedua pipi. “Aku sudah mengetahuinya, dan bagaimana bisa Ibu setega itu dengan menyembunyikannya?”
Ibuku tetap diam di tempatnya, tak menyahuti ucapanku. Dia terlihat bingung, sekaligus … takut? Apa yang sedang dipikirkannya? Apakah akhirnya dia menyesal telah menutupi fakta itu dariku? Sekilas aku melihat teror pada matanya sebelum dia menggeleng-gelengkan kecil kepalanya.
“Ayo, katakan sesuatu,” ucapku kembali ketika perkataanku sebelumnya disambut oleh keheningan. “Katakan sesuatu dan buat aku memercayai omong kosongmu yang lain lagi, Bu! Apa yang kausembunyikan lagi dariku? Pasti ada lagi, kan, ya? Pasti ada.”
Kedua lengan yang seolah melekat rapat pada masing-masing sisi tubuhku menegang ketika kurasakan telapak tanganku membentuk kepalan yang kencang. Bisa kupastikan bahwa kini buku-buku jariku memutih karenanya.
“Ayo, ayo bicaralah. Bicaralah padaku!” Pada akhirnya kemarahan menang atas segalanya, tersembur jelas dari tatapanku yang memandang dengan mata membelalak pada perempuan yang masih enggan bersuara di hadapanku. “Cepat bicaralah padaku! Mengapa kau diam saja? Mengapa? Aku sudah tahu apa yang kausembunyikan. Yang sekarang kubutuhkan hanyalah alasanmu! Sial, apakah bahkan kau ini ibuku?”
“Sam …,” katanya pelan dengan suara parau, sembari terus menggeleng kecil berulang kali. Dia berdeham, berusaha membuat suaranya terdengar lebih jelas untuk kudengarkan. Dan tiba-tiba, satu, dua, tiga, kemudian tak terhitung jumlahnya. Tetes-tetes air mata itu jatuh membasahi kedua pipinya. “Semua ibu di dunia ini hanya ingin melakukan yang terbaik untuk putrinya—”
“Tapi yang kaulakukan adalah berbohong padaku.” Bibirku bergetar saat menyela ucapannya, dan setelahnya tahu-tahu mataku yang mulanya memanas mulai kabur, tertutupi air mata yang segera keluar dari sana. Emosi yang tercampur aduk pada diriku terekspresikan lewat isakan yang keluar dari mulut. “Aku tak mengerti mengapa Ibu berbohong padaku soal itu. Mengapa tak berterus terang saja? Lalu—”pikiranku menerawang“—kalau begitu apa yang menyebabkan hilangnya ingatanku? Kejadian menakjubkan apa yang kulalui pada hari sialan itu? Apa yang terjadi?”
“Samantha, ibu tidak—”
“Jangan berpura-pura lagi!” potongku, kembali meledak. “Mengapa Ibu tak langsung saja mengatakan apa yang terjadi pada hari itu, karena jelas Ibu sudah membohongiku tentang alasan pertengkaran kita!” Kuberikan jeda sejenak untukku menarik napas, berupaya untuk meredam amarahku. Punggung tanganku menyeka pipi. “Ayahku sudah tiada …. Dan—dan Ibu berbohong padaku dengan mengatakan bahwa pertengkaran kita terjadi sebab aku ingin membawanya kembali ke kehidupan kita. Mengapa Ibu mengatakan hal semacam itu?”
Saat itu juga kurasakan segalanya berjalan lambat di sekelilingku, hingga bunyi detik jarum jam yang terus berputar terdengar seperti lima kali lipat lebih pelan di telingaku. Dan pada saat yang sama, kusadari sedikit perubahan pada wajah ibuku, tetapi tak bisa kukatakan jelas ekspresi apa yang kini dibuatnya.
Melihat bahwa ibuku belum juga menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkannya, kudahului itu dengan berujar, “Aku tak butuh ucapan maaf darimu. Yang kubutuhkan hanyalah jawaban dari mengapa kau membohongiku, serta apa yang sebenarnya menjadi penyebab pertengkaran kita hari itu.” Langit sudah gelap sepenuhnya, dan aku tak yakin apakah bisa pergi tidur dengan nyenyak nanti di mana ibuku yang tidur berseberangan kamar denganku ternyata berbohong padaku selama ini.
“Sayang—”
“Tolong jawab saja.”
Ibuku mendesah, tahu bahwa tak ada yang bisa dilakukannya lagi. “Itu karena aku, sebagai ibumu, hanya ingin melakukan yang terbaik dan apa yang benar untuk kulakukan untukmu seperti yang kukatakan tadi. Lalu ….”
“Lalu?”
“Ada seseorang ini yang kita ributkan pada hari itu.” Kedua matanya menerawang saat mengatakannya, melihat jauh ke sebelah kanan-belakangku, tempat di mana dapur berada.
Jantungku mencelus. “Siapa?”
Matanya bergulir untuk kembali menatapku, dan wajahnya yang tirus dan kelelahan terlihat dua kali menyedihkan dengan pipi yang basah. “Ronnie. Ronnie Hugh.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Killed Ronald Waine?
Acción[ thriller psikologis, drama keluarga ] [ sudah diterbitkan ] Ronald Waine bisa siapa saja. Dia bisa saja adalah jenis orang yang sekali namanya disebut di keramaian, semua akan langsung mengenalinya. Atau, bisa juga dia hanyalah orang biasa di ma...
