BAB 16: Tidak Waras

122 45 14
                                        

“Sebenarnya ada seorang anak bernama Amanda yang sepertimu. Yah, tidak bisa dikatakan sama, sih. Hanya mirip,” kata Polly beberapa saat setelahnya.

“Dia mengalami amnesia sepertiku?”

Polly menggeleng dan meringis. Sesuatu pada sorot matanya memutuskan bahwa bercanda bukanlah hal yang tepat untuk saat ini.

“Kita hanya suka menyebutnya begitu karena, yah, begitulah dia.” Polly mengangguk-angguk. “Sebagai contoh, pada hari Senin, akan ada berita jika Amanda mengencani Tyler. Semua orang memang melihatnya mencium laki-laki itu di koridor. Namun, pada hari Rabu, ada seseorang yang mengatakan jika semalam melihatnya bersama Luke di pinggir jalan, berciuman di mobil. Lalu, hal serupa terjadi pada hari Jumat, di mana seorang gadis menangis di kamar mandi, mengatakan jika pacarnya berselingkuh dengan Amanda. Begitu terus seakan-akan Tyler, Luke, Mike, Justin, Cole, dan siapa pun itu tak pernah ada dalam kehidupannya. 

“Kita selalu menganggap bahwa Amanda pastilah punya masalah serius dengan otaknya. Seperti kerusakan permanen atau sejenisnya yang membuatnya tak bisa mengingat siapa pacarnya. Terlebih lagi, setelah dia putus dengan mereka, dia seperti menunjukkan wajah tak bersalah.”

“Kedengarannya sinting.”

“Sangat. Dan sepanjang musim panas ini kudengar dia berusaha mendekati Jackson.” Gadis itu mendesah, seakan-akan kejengkelannya kepada Amanda sudah berada di pucuk kepalanya, tetapi kemudian muncul seringai di bibirnya. “Ini adalah usaha terlamanya untuk membuat seorang laki-laki berciuman dengannya. Yah, Jackson, walaupun dia adalah seorang kapten basket—tampan, memang, kelihatan agak arogan, tetapi sebenarnya kebalikannya—untungnya masih memiliki secuil kewarasan. Jadi, dia tak begitu saja tergoda dengan Amanda sekeras apa pun anak itu berusaha.”

Dahiku berkerut samar sepanjang Polly bercerita. “Apa maksudmu adalah Jackson Waine?” tanyaku akhirnya.

Polly terkejut. “Kau tahu Jackson? Maksudku, kau mengingatnya?”

Aku mengangkat bahu. “Sempat bertemu dengannya kemarin.”

“Ah, ya. Itu dia orangnya. Menarik, ya, kan?”

Aku menghindari kontak mata dengan Polly, dan sebisa mungkin tak mengeluarkan tawa canggung ketika ingatanku kembali lagi pada ungkapan Jackson yang mengatakan jika dia menyukaiku kemarin pagi.

“Lumayan.”

Kulihat Polly menyeringai menatapku.

“Ngomong-ngomong,” kataku cepat, sebelum dia mengatakan apa pun dari kesimpulan yang dibuatnya setelah melihat ekspresiku. “Siapa nama Amanda ini sebenarnya? Maksudku, nama lengkapnya?”

Polly mengedikkan bahu, dan dia sedikit cemberut. Jelas dia ingin percakapan tentang Jackson terus berlanjut.

“Siapa peduli? Orang-orang selalu memanggilnya begitu, tetapi kurasa Amanda adalah nama tengahnya. Tunggu sebentar. Biar kuingat-ingat.”

“Oke.”

Setelah itu Polly bergumam-gumam, menggeleng-gelengkan kepala, menggosok berulang kali dagunya dengan jarinya. Berpikir keras.

“Kurasa nama belakangnya Anderson,” gumamnya akhirnya, kemudian mengangguk yakin. “Nama belakangnya Anderson. Leslie Amanda Anderson.”

“Leslie?”

Aku nyaris menatap Polly tanpa berkedip untuk beberapa saat ketika gadis itu mengangguk.

Leslie. Ingatanku kembali pada anak perempuan di taman kemarin.

Kini giliranku yang menyeringai menatap Polly, yakin bahwa Leslie itulah yang dimaksudnya, tetapi aku tak mengatakan apa-apa yang membuatnya memandangku aneh.

“Jadi, apa yang kemarin kaubicarakan dengan Jackson?”

“Eh, apa?”

“Ayolah, jangan pura-pura bodoh. Katakan saja.” Polly mengedipkan sebelah matanya.

“Tak ada sesuatu yang penting,” kataku. Bayangan tentang Leslie berganti dengan sesuatu yang dikatakan Jackson selain ungkapan rasa sukanya, yang segera bergema di kepalaku seakan-akan dia mencoba untuk berbicara dari ujung terowongan. Seringai samar di wajahku segera menghilang.

Dia cuma keparat gila.

Pria itu tak pernah tahu kapan harus berhenti menyakiti ibuku.

Dia selalu memukulnya, memakinya.

Aku membencinya.

Aku bersyukur dia mati.

“Tidak seru, ah. Kau membosankan,” kata Polly memutus lamunanku, tetapi aku tahu dari caranya bicara dan mencebikkan bibir bahwa dia tak sungguhan dengan ucapannya. Itulah caranya supaya aku membongkar semuanya padanya.

“Yah, baiklah,” kataku akhirnya, mengikuti keinginannya.

Polly memekik. Matanya berbinar-binar. “Katakan. Cepat.”

Katakan? Bagian apa? Ungkapan Jackson bahwa dia tak merasakan sedikit pun kesedihan saat ayahnya ditemukan tak bernyawa? Atau … ungkapan Jackson ketika menyatakan perasaannya padaku? Mungkin opsi kedua lebih baik.

“Jadi, Jackson mengatakan jika dia menyukaiku.”

Polly melebarkan mata. “Kan, apa kubilang!” Dia meloncat dari kasur dan berjalan bolak-balik di depanku, tangannya bergerak-gerak seperti tokoh kartun yang bersemangat. “Ya, ampun, Sam. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Hilang ingatan sialan.” Tiba-tiba dia mengumpat, tetapi bukannya membuatku tersinggung, aku malah tertawa mendengarnya.

Polly kembali ke tempat tidurku, dan duduk berhadapan denganku.

“Dengar. Selama ini aku selalu mengatakan padamu bahwa Jackson mestilah memiliki perasaan padamu, tetapi kau selalu mengabaikan omonganku. Bodoh sekali. Kuberi tahu padamu bahwa Jackson dulunya tak seperti bagaimana dia terlihat sekarang.”

“Dulunya?”

“Iya.” Polly memutar mata. Sepertinya hilang ingatanku benar-benar sialan baginya. “Kita bertiga—kau, aku, Jackson—selalu bersekolah di sekolah yang sama semenjak TK, tetapi kau dan aku memang nyaris tak pernah mengobrol dengannya sebenarnya. Dia dulunya pendiam, sangat. Dan menyedihkan. Dia itu pemurung, penyendiri, dan semua anak bahkan nyaris yakin kalau dia adalah anak aneh yang tak akan pernah berbicara. Hingga, kutekankan padamu, pada awal sekolah menengah—di mana aku mulai menyadari bahwa anak itu kerap melirik-lirikmu di kelas-kelas dan kantin—dia berbeda. Dia menjadi seratus persen berbeda dan berubah menjadi sangat-sangat wow. Mengerti wow yang kumaksud di sini?”

“Menarik?” kataku, mengutip perkataan Polly tadi.

Polly mengedipkan sebelah matanya.

“Dia tampan, sangat. Kupikir poin terpenting yang mengubahnya adalah rambutnya. Dulu rambutnya cepak sekali, nyaris botak. Dan yang paling kentara, adalah postur tubuhnya. Dulu dia kurus, kerempeng, tetapi tinggi sekali yang membuatnya terlihat seperti belalang—”Polly mengernyit, kemudian kembali berbinar-binar“—tetapi sekarang … ya ampun ….” Polly sengaja tak meneruskan perkataannya ketika pandangannya menatap ke sudut kamarku, setengah melamun sambil tersenyum-senyum, seakan di sanalah kini Jackson berada.

“Oh, Polly,” kataku meringis, tetapi setengah memandangnya geli. “Tolong sudahi saja.”

“Tidak! Jadi, apa lagi yang dikatakannya? Kalian resmi berkencan?”

“Apa? Tidak. Dia hanya mengatakan bahwa dia menyukaiku. Sudah. Titik. Selesai.”

“Apa-apaan!” Polly kembali memekik, kali ini reaksi tidak terima. “Yang benar saja. Sekarang aku akan menarik perkataanku yang mengatakan bahwa dia masih memiliki secuil kewarasan tadi. Karena jelas, dari yang kauceritakan, dia sudah tidak waras.” Bibirnya melengkung ke bawah dengan alis berkerut, menunjukkan ekspresi jijik. “Dia sinting.”

Who Killed Ronald Waine?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang