BAB 22: Kado, Kue, dan Penyelamat

115 41 6
                                        

"Tidak mungkin," tawanya. "Tapi Chloe memang pernah bilang kalau kau-yah-seberapa buruk itu memangnya?"

Aku mengangkat bahu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jackson. Kurasakan ujung mataku berair akibat terlalu keras tertawa-sesuatu yang kupikir tak akan pernah terjadi dan kurasakan lagi. "Entahlah. Maksudku, insiden mengenai sepatunya yang tak sengaja terkena muntahanku bukanlah satu-satunya yang kukhawatirkan saat itu."

"Ah, ya, benar. Staf rumah sakit sialan itu salah satunya." Kurasakan Jackson menoleh memandangku sekilas dan tersenyum bertepatan dengan mobilnya yang mulai memasuki halaman sebuah rumah. Rumahnya. "Nah, ini dia. Kita sampai. Tak apa jika kita turun dari sini?"

Aku menunduk ke pangkuanku di mana kotak sepatu yang terbungkus rapi dengan kertas kado bermotif boneka-boneka beruang kecil berada. Aku sudah memikirkan ini, dan memutuskan untuk menghadiahkan sepatu dengan gaya yang kurasa Chloe sekali-berwarna merah muda, berhias pita serta gambar kelinci, dan bisa menyala dengan lampu warna-warni. Sebenarnya keputusanku memilih sepatu sebagai hadiahnya karena rasa bersalahku akan kejadian sore itu, yang sebenarnya jika kupikir kembali, kejadian itu begitu konyol dan lucu. Bahkan Jackson pun menganggapnya begitu sampai-sampai dia tergelak setelah kuceritakan padanya soal itu tadi, walau sebenarnya, aku tak merincikan semuanya padanya. Apalagi mengenai alasan mengapa aku berada di rumah sakit bersama ibuku pada hari itu, karena kupikir dia tak perlu tahu mengenai kondisiku yang sebenarnya.

"Tidak. Tidak apa-apa. Lagipula rumahnya berada tepat di sebelah rumahmu." Kudongakkan kepala dan menyadari bahwa Jackson masih tersenyum padaku, kemudian segera kupalingkan pandangan ke luar jendela, tepat di rumah sebelah milik Jackson.

Sekitar dua puluh sampai tiga puluh anak kecil saling kejar di halaman luas di sana. Berteriak, memekik, tertawa. Balon-balon, pita-pita, serta meja-meja berisi cupcake, permen, dan jus segera terlihat dari pandanganku, membuatku tak kuasa menahan senyum untuk tak terbentuk pada bibirku.

"Ayo," kata Jackson, keluar dan segera berjalan menuju bagian belakang mobilnya.

Menuruti ajakannya, masih kubiarkan pandanganku melihat keriuhan pada halaman rumah Maggie yang kini segera membuat seluruh ketegangan yang menghantui tiap jengkal kulitku mengendur, juga membuat seluruh ketakutan dan kecemasan yang selama seminggu belakangan ini membayangi memudar kemudian menghilang.

Tiba-tiba semuanya terasa tak lagi penting bagiku saat ini, dan satu-satunya yang segera kurasakan adalah ketenangan. Anehnya aku merasa senang. Bahkan obrolanku mengenai Ronnie Hugh kemarin lusa bersama ibuku kini terasa seperti terjadi bertahun-tahun lalu. Setelah percakapan itu terjadi, kami sama sekali tak membahasnya lagi. Dan, kalau boleh kubilang, aku cukup terkejut pada diriku sendiri yang sama sekali tak begitu terpengaruh pada apa yang kudengar darinya setelah malam itu. Seakan perasaanku kini sudah kebas. Amat sangat kebas. Membuatku tak lagi peduli pada apa yang akan terjadi, atau apa yang sudah terjadi.

Toh semua itu sudah berlalu.

Namun, aku memiliki perasaan aneh pagi ini tepat sebelum kedua kelopak mataku benar-benar terbuka. Aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang terjadi, tetapi tak kuketahui apa tepatnya itu, hingga membuatku tak tenang. Jadi dengan harapan bisa melupakannya, pagi-pagi ini kuputuskan pergi ke toko bersama ibuku dan membantunya menyelesaikan pesanan kue untuk acara ulang tahun Chloe.

Lalu mengenai Jackson-yang kini bersamaku-ketika kue Chloe baru saja kumasukkan ke bagasi mobil ibuku lima belas menit lalu, tiba-tiba dia dan mobilnya masuk ke lahan parkir sempit S&S Becker Bakery, dan secara mengejutkan menawarkan diri untuk mengantarkannya.

"Kebetulannya aku sedang lewat," katanya tadi kepada ibuku, sedikit gugup, "dan aku melihat Sam-maksudku, rumah Chloe bersebelahan dengan rumahku. Jadi, apa boleh jika aku saja yang mengantarkan kuenya?"

"Kau saja?" tanya ibuku. Matanya menyipit.

"Aku dan Sam," jawab Jackson cepat-terlalu cepat kalau boleh kukatakan.

"Baiklah. Kau dan Sam." Bibir ibuku membentuk seringai samar.

Aku berpaling dari suasana ramai di rumah sebelah dan melihat Jackson berjalan ke arahku dengan kotak besar di tangan, tersenyum. Kemudian ketika aku akan menanyakan sesuatu padanya, tentang apakah gadis cilik yang berulang tahun ini akan menyukai hadiah yang kubawa atau tidak, teriakan melengking khas anak-anak dari arah halaman sebelah sana menghentikanku.

Aku dan Jackson menoleh bersamaan ke arah sumber suara itu.

"Aaah, kueku! Kueku! Akhirnya kueku sampaaai!" Chloe, dengan tongkat peri berkelip-kelip di genggaman tangan kecilnya, serta mahkota di atas kepalanya, berlari dari halaman rumahnya menuju ke arahku dan Jackson yang kini berjalan bersampingan meninggalkan halaman kediaman keluarga Waine.

Sekejap kemudian Chloe sampai. Dia berjalan mengelilingiku dan Jackson. Matanya berbinar-binar bahagia.

"Kueku!" serunya.

"Ya, Chloe. Kuemu," kataku. "Di mana ibumu?"

Kami sampai di depan rumah Chloe yang sibuk.

"Mama ada di dalam. Ayo kuantar!"

Chloe memimpinku dan juga Jackson sambil sesekali meloncat-loncat riang, melewati dua anak laki-laki yang berlari-lari mengelilingi meja bulat kecil yang dilapisi taplak meja polos merah muda dengan sejumlah cupcake yang tertata pada piring kue bertingkat.

Gadis cilik itu terus memimpin, dan tatapanku segera teralihkan pada meja persegi panjang yang baru kulewati, yang lagi-lagi diberi taplak meja yang sama seperti lainnya. Di situlah, pastinya, tempat di mana kue Chloe akan dipotong nanti.

Di belakang meja itu ada spanduk besar. Warnanya merah muda pucat, sama seperti balon-balon dan juga pita-pita yang menghiasi tiap jengkal halaman rumah Chloe. "IT'S MY 5TH BIRTHDAY PARTY!" adalah yang tertulis di sana, ditambah dengan gambar Chloe yang tercetak besar, tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya, mengisi hampir separuh bagian spanduk. Ada gambar kue, pelangi, balon warna-warni, bintang-bintang kuning dan kupu-kupu yang menambah ramai spanduk itu, kemudian ada tulisan kecil di paling bawahnya, berbunyi, "Jangan lupa kadonya! Dan, jangan lupa juga dengan dress code-nya: peri dan unicorn!"

Pada saat itulah baru kusadari bahwa anak-anak perempuan di sana, yang membentuk gerombolan di dekat pohon yang berhias rumbai-rumbai kertas warna-warni, memakai gaun putri dengan sayap kupu-kupu. Kemudian dua anak laki-laki yang tadi berlari-lari mengelilingi meja cupcake memakai kostum unicorn putih yang lucu.

"Aku sempat khawatir jika kueku tak sampai," kata Chloe.

Saat kami menaiki undakan menuju beranda rumah, Jackson hampir tersandung seorang anak laki-laki berambut pirang yang duduk menangis di undakan teratas, memeluk lututnya. Dia memang terlihat seperti bola kecil dengan topi yang memiliki tanduk unicorn di bagian depannya, dan aku sama sekali tak menyalahkan Jackson yang tak menyadari keberadaan bocah itu. Apalagi dengan kotak berisi kue Chloe yang sedikit menghalangi pandangannya. Aku segera meletakkan satu tanganku pada lengan Jackson, memberikannya sedikit keseimbangan di sana, mencegah kue di tangannya terjatuh ke lantai.

"Maaf," ucapnya pelan, meringis.

"Tak apa," kataku, menarik tanganku darinya dan meletakkan jari telunjukku di depan bibir, kemudian menunjuk Chloe yang terus berjalan sambil mengatakan sesuatu yang tak kuperhatikan di depan kami, memberi tahu Jackson bahwa Chloe tak melihat apa yang barusan bisa saja terjadi pada kuenya.

"Nah, itu dia mamaku. Mama! Mama!" pekik Chloe.

Kami sudah sampai di dapur.

Maggie terlihat akan mengangkat nampan yang penuh dengan gelas-gelas jus dari meja konter dapur, membelakangi kami.

"Badutnya sudah sampai, Sayang?" tanyanya, belum tahu adanya dua orang yang lebih tinggi dari putrinya dan empat orang anak kecil lain yang berada di dapur bersamanya.

Chloe menggeleng. "Belum, Mama. Tapi lihat, kueku sampai!" Chloe membuka tangannya dan menggoyangkannya seperti seorang pemandu sorak. "Ta-da!"

Pada saat itulah Maggie berbalik, dan pandangannya akhirnya bertemu denganku, kemudian dengan Jackson.

"Samantha! Dan, Jackson!" Sesaat Maggie terlihat menahan napasnya. Di samping wajahnya yang terlihat berseri-seri dan sebahagia Chloe, dia tampak begitu kewalahan di jam sepagi ini. Matanya berkaca-kaca, terharu. "Kalian adalah penyelamatku!"

Who Killed Ronald Waine?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang