Warning: 18+ (terdapat kekerasan dalam cerita, mohon tidak untuk ditiru)
And just like before, i can see that you're sure.. you can change him but I know you won't.
The devil doesn't bargain..
He'll only break your heart again
It isn't worth it, dar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍁
Kamis pagi.
Hana datang terlambat 25 menit kali ini, membuat Karin yang melihatnya sedikit menaikkan alisnya. Karena tidak biasanya wanita itu terlambat sampai lebih dari 10 menit dengan wajah lesu dan tidak bersemangat.
Renata yang baru datang setelah memfotokopi berkas hampir menyapa Hana kalau saja Karin tidak segera menariknya dan mengkode gadis berambut pendek itu untuk tidak menganggu Hana. Kedua orang itu sepertinya sedikit paham bahwa sang rekan tidak dalam kondisi yang baik.
"Han, sorry ya yang kemaren."
Hana yang baru saja duduk dikursinya langsung mengadah. Menatap Arya yang akhirnya wajahnya terlihat setelah seharian kemarin bekerja di luar kantor untuk survey ke beberapa tempat.
Pria dengan wajah kelinci itu tersenyum manis, dengan tidak pekanya mengajak Hana berbicara duluan dengan nada ceria. Karin yang duduk disebelah kanan Hana lantas berjalan cepat menuju kirinya dan memukul pelan lengan Arya yang bergelayut pada bilik Hana.
Tetapi karena memang tidak pandai membaca situasi, pria itu hanya mengaduh sejenak, lalu menggeser Karin untuk tetap menatap Hana. Menunggu jawaban dari wanita 27 tahun itu.
Hana menghela nafasnya. Menyadarkan diri untuk bersikap professional dan perlahan sudut bibirnya naik. Menampilkan sebuah senyum manis dengan beribu pecahan kaca menusuk dibaliknya. Terlihat cantik, namun menyakitkan bagi sang punya senyum.
"Santai, Ar. Aku juga engga tahu kalo ternyata kamu harus survey lapangan. Tahu gitu aku kasih Dimas aja."
"Si Dimas mah mana selesai kalo dikasih gituan. Kerjaannya juga telat terus." Cibir Arya sambil terkekeh.
Hana jadi tertular senyuman manis itu, sehingga Karin yang masih berdiri kaku disebelah Arya ikut terkekeh canggung. Melihat Hana yang sudah membaik, mungkin ia sedikit terlalu berlebihan karena nyatanya wanita itu baik-baik saja.
"Kamu ngapain sih berdiri disebelah Arya gitu." Tanya Renata yang sudah menyebulkan kepala dari biliknya.
Berbeda dengan Karin, Renata berusaha untuk terlihat biasa saja karena ia bisa dengan cepat membaca situasi bahwa Hana tidak mau memperpanjang apapun yang tadi sempat membuatnya sedih.
"Iyanih. Kenapa sih tumben banget deket-deket. Biasanya aja amit-amit terus kalo aku godain. Kangen ya enggak ketemu seharian kemaren?" Arya menyampingkan tubuhnya, sambil menyilangkan kedua lengannya di dada, pria itu menatap percaya diri kearah Karin yang kini sudah mendengus sebal.
Mulai lagi.
Padahal Karin sempat bahagia di hari Rabu kemarin karena Arya harus kerja diluar kantor sehingga tidak ada orang yang menggodanya. Karena berbeda dengan Dimas yang hanya ber-omong kosong, satu kantor tahu bahwa Arya benar-benar suka dengannya.