Chapter 5

4.4K 392 14
                                        

The next day, early noon 
Chahee's apartement 

Jennie hampir saja membuat Lisa terkena serangan jantung saat ia berjalan ke dapur. Lisa membuka lemari es dan mencari sebotol air. Jennie tergeletak di lantai, memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan.

"Hangovers are the worst," Lisa berceloteh sambil meneguk air. "Kupikir kau lebih strong dari Whiskey itu sendiri."

"Shut uuup," Jennie mengerang. "Aku seharusnya belajar malam ini. Dan aku bahkan tidak bisa bangun."

Lisa tertawa sambil menawarkan tangannya, membantu Jennie berdiri. Sentuhan itu memicu sesuatu di dalam diri Lisa. Dia kemudian menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya Jennie dan dia saling menyentuh. Kulitnya terasa begitu pas dan lembut di tubuhnya.

Mata Lisa kemudian beralih ke leher Jennie.

Mereka terbelalak karena terkejut.

"Apakah Kai menginap semalam?" Lisa tiba-tiba bertanya sambil membantu Jennie duduk di sofa. Begitu Jennie duduk, Lisa merasa sedikit kecewa karena kehilangan kontak.

"Apa? Kai? Tidak," jawab Jennie, lebih seperti berbisik. "Kenapa?"

"Tunggu, apa kamu melakukan seks dengan Kai?" Lisa bertanya, meskipun ia berharap tidak.

"Apa?! Tentu saja tidak! Ini baru awal tahun ajaran baru dan kau pikir aku akan membiarkan dia memilikiku begitu saja?" Jennie menganggap pertanyaan dari Lisa seperti sebuah penghinaan. Tapi Lisa hanya bertanya karena dia sangat peduli pada gadis berambut cokelat itu.

"Aku tahu, tapi leher mu mengatakan hal sebaliknya."

"Apa?! Kami hanya bermesraan, Lisa!" Jennie menjelaskan sambil menutupi lehernya dengan kedua tangannya. "Lagipula, aku bahkan baru mengenal Kai."

"Ya, Kai tidak pantas untukmu, Jen, kamu tahu itu," kata Lisa, sambil berbalik dan berjalan ke kamar mandi.

"Oh, hentikan nasihat cintamu," Jennie meludah. "Kamu bahkan tidak menyukai pria."

Lisa berhenti di tengah jalan, menyadari bahwa senda gurau yang berbahaya itu telah kembali diantara mereka.

"Aku tidak memang tidak menyukai pria, tapi aku tahu Kai. Dia hanya menargetkan gadis tahun-tahun pertama hanya untuk membawa mereka ke tempat tidur. Aku menyarankan kau harus menyadari hal itu sebelum kau mulai melebarkan kaki mu lebar-lebar untuknya."

"How dare you?!" Jennie meludah. "Kau bahkan tidak mengenalku, Lisa. Berhentilah bersikap seolah-olah kau mengenal orang hanya karena tindakan mereka."

"Oke. Tapi aku tahu Kai .. Dia-"

"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Jennie menghela napas, sambil memijat dahinya. "Kita bahkan tidak berteman."

"Maafkan aku karena peduli padamu, Jennie," desis Lisa. "Hanya saja kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya,"

Jennie memaksakan tawa sinis. "Kemudian apa? Kau pikir kau lebih baik darinya? Jadi aku harus bersama seorang lesbian? Apa karena saat kamu berhubungan seks dengan seorang gadis kamu tidak akan hamil?"

Lisa membeku.

"Ya Tuhan, Jennie, aku tidak akan pernah memintamu untuk menjadi seseorang yang bukan dirimu," kata Lisa, rasa sakit hati terlihat jelas di suaranya. "Dan kamu harus mengatakan itu pada Kai."

"Benarkah? Dan untuk apa semua gesture-mu itu, melirikku saat aku melakukan yoga di akhir pekan? Atau saat aku sedang makan di kantin sekolah? Lisa, kau tertarik padaku, dan karena itulah kamu mengatakan semua hal yang jahat tentang Kai?"

Blind Date Gone WrongTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang