Weeks later, late evening
Blink Arcade, YG Mall
Sudah berminggu-minggu sejak terakhir kali Lisa dan Jennie berbicara satu sama lain. Gadis berambut cokelat itu telah menghindari gadis Thailand itu. Lisa tahu karena dia tidak menghindari si rambut coklat. Faktanya, yang terjadi justru sebaliknya.
Lisa telah berusaha untuk menghabiskan sedikit waktu bersama Jennie. Dia hanya merindukannya. Tetapi bahkan ketika dia sampai di rumah dan menyalakan TV di ruang tamu, Jennie hanya akan menyapanya ketika dia masuk dan kemudian langsung masuk ke kamar tidurnya. Hal-hal itu adalah rutinitas yang sama setiap hari.
Hal ini sangat mengganggu Lisa, Irene mulai menyadarinya. Irene dan Lisa belum resmi menjadi sepasang kekasih, namun teman-teman satu asrama di kampus Irene sudah menganggap mereka sebagai pasangan.
Lisa masih memikirkan perasaan gadis berambut hitam itu. Irene hanya bersikap baik dan mengagumkan kepada gadis Thailand itu. Irene akan mengerahkan segala upaya untuk membuatnya tertawa. Dan karena itulah Lisa tetap bersamanya. Itulah mengapa Lisa memilih untuk tidak percaya dan menunggu Jennie.
Rosé terbatuk-batuk di belakang Lisa, mengagetkannya. Lisa hampir saja menjatuhkan bola bowling yang sedang ia lap ke kakinya.
"Sedang berenang di lautan pikiranmu, Lis?" Rosé menggoda sambil mengambil tempat duduk di samping tempat si bule berdiri, mengambil sebuah bola bowling dan kain lap. Tidak ada pelanggan saat itu, padahal mal akan tutup satu jam lagi.
"Hanya saja... ini sangat tidak adil," tiba-tiba gadis Thailand itu berkata, seolah-olah dia telah menunggu suatu pembebasan karena terkunci dalam pikirannya sendiri. Dan sahabatnya adalah saluran kebebasannya.
"Apa itu?"
Lisa menghela napas sambil merosot di kursi di sampingnya, menatap kosong ke depan ke jalur kosong di depan mereka.
"Aku pikir aku telah melakukan hal yang benar," kata Lisa.
Rosé mengerucutkan bibirnya. "Tapi hatimu menginginkan apa yang diinginkannya, Lis."
Lisa menoleh untuk menatap sahabatnya. Dia ada benarnya. Itu benar. Pikirannya berbicara tentang Irene tapi hatinya justru menyebut nama Jennie.
"Aku hanya... aku hanya sangat merindukannya, Rosie,"
Lisa mengakui. Lengan Rosé melingkari pundak gadis asal Thailand itu dan memberikan tarikan ringan.
"Semua akan baik-baik saja, segera..."
Kemudian Rosé melepaskannya dan meraih bola lainnya.
Lisa tertawa lalu bertanya, "Cukup tentang ku... Bagaimana dengan Jisoo?"
Rosé tersenyum. "It's good... really good. Kami pergi berkencan di akhir pekan... Kami tinggal di apartemen ku hampir sepanjang waktu ...."
Gadis Thailand itu bisa merasakan Rosé ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu. Gadis itu menyeka bagian bola yang sama beberapa kali.
"Tapi?"
Sahabatnya menghela napas kekalahan. "Dia menceritakan kepada ibunya... tentang kami."
Mata gadis Thailand itu membelalak, mengharapkan yang terburuk dilihat dari wajah Rosé.
Rosé melanjutkan. "Ibunya tidak menganggap enteng hal itu... dia mengatakan bahwa Jisoo hanya bingung dengan perspektif..."
Lisa menyela, "Tapi kalian berdua sudah terlalu dewasa untuk mengetahui perbedaan antara apa yang nyata dan apa yang tidak-"
"Aku tahu," jawab Rosé. "Tapi... ibunya menanamkan beberapa pikiran menakutkan di dalam kepalanya. Dan Jisoo bertingkah aneh padaku sejak saat itu, menanyakan berapa banyak perempuan dan laki-laki yang pernah kucumbu sebelum dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind Date Gone Wrong
FanfictionGxG 18+ "Kau pasti bercanda." Itu adalah kata-kata hinaan yang dilontarkan oleh gadis pendek mungil dengan rambut cokelat bergelombang dan mata kucing. Jika saja Lisa mau mengesampingkan nada merendahkan yang tak bisa ia hindari, ia akan mengakui...
