A week later
Chahee's Apartement
"SHIT, I'm sorry!" Lisa menjerit saat dia tiba-tiba membanting pintu kamar mandi. Tapi itu sudah terenkripsi ke dalam otaknya, bayangan telanjang Jennie yang indah. Lengannya yang lembut, payudara yang berbentuk sempurna dan perut yang tegas serta lekuk tubuh yang ramping dari punggung ke bawah.
Lisa menelan gumpalan di tenggorokannya saat ia berbalik dan menuju ke lemari es, mengambil sebotol air. Ia menghela napas setelah meneguk hampir setengah botol. Pikiran Lisa masih menguasai dirinya. Sudah lama sekali dia tidak melihat Jenie telanjang. Dan memasukkan gambar itu lagi ke dalam kepalanya tidak akan membantunya untuk pulih. Si rambut coklat itu masih memiliki efek itu pada si gadis Thailand.
Ketika Jennie keluar dari kamar mandi dengan handuk berwarna krem, Lisa langsung meminta maaf. "Maafkan aku, Jen. Aku tidak tahu kalau pintu kamar mandinya tidak dikunci. Dan aku tidak mendengar suara air-"
"Tidak apa-apa, Lisa. Itu salahku. Aku lupa mengunci pintu... Aku juga sedang terlambat," Jennie buru-buru berkata dan bergegas menuju kamar tidurnya, meninggalkan Lisa yang kebingungan.
---
same day, early evening
Blink Arcade, YG mall
"Ayolah, Lis, apa yang menghentikanmu sekarang?" Rosé bertanya. Lisa sedang mereparasi mesin arcade yang rusak. Rosé sedang melayani para pelanggan di luar gerainya. Taehyung sedang berada di arena bowling saat ini. "Aku benci mengatakan ini, tapi kau dan Irene sudah tidak cocok lagi setelah dia berkencan dengan rekan labnya."
"Irene berkencan dengan seseorang?" Suara Lisa tidak terdengar kecewa. Malah, ia senang Irene sudah move on, gadis Thailand itu merasa jauh lebih baik dan tidak terlalu merasa bersalah sekarang.
"Ya, tiga hari yang lalu, Seulgi memberitahuku," jawab Rosé sambil memberikan satu ember penuh token kepada dua anak kecil. "Dan tidak ada Ten lagi diantara kalian."
Lisa menghela napas. "Jika kau belum menyadarinya, aku menunggu Jennie untuk mengkonfirmasinya. Dia belum memberitahuku tentang perpisahan mereka. Dan dia bahkan tidak memberitahuku bahwa dia melamar sebagai barista di kedai kopi. Sepertinya kita sudah tidak berteman lagi, Rosie. Dia menjauh dariku."
---
The next day
Coffee shop nearby
"Hei," Lisa menyapa Jennie yang sedang sibuk.
Gadis berambut cokelat itu masih terlihat begitu cantik bahkan ketika dia hanya mengenakan kaos abu-abu di balik celemek putih besar.
"Hai, Lisa! Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu di sini," jawab Jennie, hampir dengan ragu-ragu. Gadis asal Thailand itu mengira ia telah mengejutkan gadis berambut cokelat itu. Lisa tidak pernah benar-benar mengunjungi Jennie di tempat kerjanya sejak dia bersama Irene. Ada sesuatu dalam diri Jennie yang tidak dapat dipahami oleh Lisa. Apakah mereka perlahan-lahan menjauh?
Lisa bergegas untuk menjawab. "Baiklah, aku hanya akan membeli kopi."
"Kamu tahu kita punya kedai kopi di dalam universitas, silly? Kenapa harus berjalan jauh-. anyway, apa yang bisa ku buatkan untukmu?" Jennie menyunggingkan senyuman. Lisa pikir itu tampak dipaksakan.
"Oh, just a cappuccino to go... dan aku... aku sedang dalam perjalanan ke... suatu tempat..." Lisa gagap. Kenapa dia gagap? Tak bisa dipungkiri, ia merasa gugup di depan si rambut coklat.
Gadis berambut cokelat itu berjalan di sepanjang konter sambil menulis nama Lisa di cup.
Untung saja orang Thailand itu adalah satu-satunya yang mengantre saat itu, jadi dia bisa memulai percakapan dengan lambat. "Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau mulai bekerja di sini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind Date Gone Wrong
FanfictionGxG 18+ "Kau pasti bercanda." Itu adalah kata-kata hinaan yang dilontarkan oleh gadis pendek mungil dengan rambut cokelat bergelombang dan mata kucing. Jika saja Lisa mau mengesampingkan nada merendahkan yang tak bisa ia hindari, ia akan mengakui...
