Herman mengambil segelas wine setelah memisahkan diri dari kerumunan, lalu duduk memperhatikan Axel yang seakan hari itu adalah raja. (1) Dia berjalan menuju balkon dan mendapati Hera menunggunya disana. “Ada yang ingin kusampaikan kepadamu,” ucap Herman pelan. Herman memalingkan wajahnya dan memandangi bulan purnama malam itu, lalu kembali menatap kekasih yang dicintainya. “Mari akhiri hubungan kita.”
Mendengar pernyataan itu, Hera membeku tidak berdaya, dadanya terasa sakit seperti habis ditusuk pedang Excalibur. “APA?! APA-APAAN KAU!” Gadis itu menahan tangisnya. “Kau tahu, aku akan tetap mencintaimu meskipun penampilanmu berubah!”
“Aku sangat tahu itu, aku mengenalmu lebih dari siapapun.” Herman mengepalkan tangannya. “Tapi ini rasanya tidak benar! Gadis sepertimu seharusnya mendapatkan semua hal yang terbaik di dunia ini. Kau seharusnya mencari orang yang lebih baik dariku sekarang ini!”
“Herman, kurasa otakmu sedang tidak baik hari ini.” Gadis itu menatap kekasihnya seolah tidak percaya. “Aku anggap tidak mendengar perkataan apapun darimu hari ini. Kau harus segera beristirahat.”
“Terserah kau berpikir ini delusi atau kenyataan. Aku tetap akan mengakhiri hubunganku denganmu, Hera.” Herman berbalik dan meninggalkan Hera sendirian. “Selamat tinggal dan segeralah lupakan aku.”
Herman menepi di sudut ruangan dan Axel datang menghampirinya. Dia memberikan segelas Bourbon kepada kakaknya dan berkata, “Hari ini adalah hari tersial dalam hidupku.”
"Axel, maaf," ucap Herman.
"Tidak perlu meminta maaf. Aku akan mengirimkan uang agar kakak bisa hidup tenang tanpa kekurangan uang." Axel memandangi Herman dengan senyum yang agak terpaksa. "Biar aku yang menjadi pewaris selanjutnya. Ini ide yang bagus bukan? Kak Herman tidak perlu duduk di kursi sialan itu menggantikan ayah. Biarkan aku yang menghabiskan seluruh hidupku untuk hal ini."
Herman mengetahui rasa sakit yang dipendam Axel. Dia tidak ingin adik tersayangnya menghabiskan seluruh sisa hidupnya di kursi yang sama seperti ayah mereka. “Hah… sepertinya aku terbebas dari tanggung jawabku sebagai kakak tertua, tapi adikku yang malang harus menggantikan peranku. Aku sama sekali tidak menyukai ini, Axel seharusnya memilih jalan yang dia sukai dan berbahagia,” pikir Herman.
(1) Terlalu banyak rasa sakit yang dilalui malam ini. Acara tersebut masih berlangsung, tapi Herman ingin segera meninggalkan tempat ini. Saat hendak beranjak keluar, dia bertemu dengan Dimaz dan Syura.
“Haloo… bocah kampung,” sapa Syura mengejek.
“Senang bertemu denganmu lagi,” sapa Dimaz tersenyum.
Herman memperhatikan kedua orang itu, dia pun menundukkan kepala dan berkata, “Selamat malam tuan Dimaz dan tuan Syura. Tuan Axel sedang bercakap-cakap dengan nona Hazel, perlukah saya menemani Anda kesana?”
“Hmm… kau jadi pelayan keluarga ini?” tanya Syura.
“Benar tuan Syura,” jawab Herman tenang.
Herman tidak kesulitan mengganti posisinya, dia terbiasa dengan etika kelas atas dan memahami pembicaraan berat dan monoton yang biasa diperbincangkan sesama konglomerat. Herman pun tidak mengkhawatirkan Teguh ataupun berharap banyak padanya.
“Herman sudah mati, hidup dan impiannya sudah mati,” pikir Herman sedih. “Sekarang, aku harus memikirkan identitas seperti apa yang akan kuambil dan jalani untuk hidupku selanjutnya,”
“Baiklah, semoga beruntung untukmu,” ucap Syura. Mereka pun meninggalkan Herman. Herman merasa terlalu lelah dengan semua hal yang terjadi malam itu, Herman meninggalkan acara itu dan menenangkan diri.
Di lain pihak, Teguh tampak kebingungan dengan semua pembicaraan kelas atas. Beberapa orang datang menghampirinya dan membicarakan banyak hal yang tidak Teguh mengerti. Akhirnya karena tidak mampu mencerna semua pembicaraan monoton itu, Teguh pamit meninggalkan mereka.
“Heii… sungguhkah Herman jadi seperti itu?” tanya seseorang dengan bingung.
“Seperti orang bodoh,” ejek seorang pria muda.
“Tidak heran jika Axel menjadi pewaris selanjutnya…”
KAMU SEDANG MEMBACA
TUBUH YANG TERTUKAR [END]
Teen FictionCerita ini merupakan cerita bersama yang dirangkai oleh beberapa orang; ide yang ada di cerita dibiarkan mengalir dan melatih para penulis untuk mengembangkan kemampuan menulis masing-masing. ---> intro Herman tidak menyangka akan berakhir seperti...
![TUBUH YANG TERTUKAR [END]](https://img.wattpad.com/cover/358232277-64-k599927.jpg)