(1) Beberapa hari setelah acara itu, Axel dan Hazel memandangi Teguh dan ayahnya yang bersantai di taman sambil menikmati makan siang. Dengan tatapan penuh rasa kesal, Hazel meminta kepada ayahnya agar kedua rakyat jelata itu segera diusir dari rumah.
Hazel mengerutkan keningnya. "Mereka tidak seharusnya tinggal di sini. Mereka bukan bagian dari kita."
Ayah Herman memandangi kedua orang tersebut dengan santai, “Hazel, kenapa kau ingin mengusir mereka?”
“Mengapa tidak? Mereka tidak berguna dan hanya numpang hidup dengan kekayaan kita.”
“Baiklah, ayah mengerti, mereka akan segera dikembalikan ke pemukiman mereka.”
Setelah Ayah Herman berbicara dengan Ayah Teguh, akhirnya dia setuju untuk membawa Teguh kembali ke rumah kumuhnya. Ayah Herman tidak lagi punya alasan untuk membiarkan mereka tinggal, bagaimanapun dia sudah berusaha keras mencari cara membalikkan tubuh mereka, namun tidak pernah menampakkan hasil.
Teguh merasakan keberatan meninggalkan kediaman Victrop, tempat dia belajar dan mengalami banyak hal. Namun, dengan penegasan dari Ayah Herman, Teguh bersiap untuk kembali ke pemukiman kumuhnya.
Dengan perasaan berat hati, Teguh meninggalkan kediaman Victrop. Dia sudah terbiasa mendapatkan semua yang dia inginkan sewaktu berpura-pura menjadi Herman, namun kini Teguh harus kembali ke hari-harinya yang sulit dan penuh kerja keras.
“Ayah, aku akan pergi ke pemukiman kumuh itu untuk menepati janjiku kepada Dimaz dan Syura.” Herman menatap ayahnya dan berharap mendapatkan izin darinya. “Aku harus menepati janjiku.”
“Baiklah, setelah urusanmu selesai, kembalilah ke rumah,” jawab Ayah Herman.
Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Axel dan Hazel. Herman, Teguh, dan Ayah Teguh kembali ke pemukiman kumuh itu. Mereka ditemani orang kepercayaan Herman, Mark. Herman masih tidak terbiasa menjalin hubungan dengan Teguh. Meskipun begitu, dia sudah menerima kenyataan bahwa takdirnya begitu jelek sampai bertukar tubuh dengan seorang rakyat jelata, hal yang masih dia sesalkan.
Setelah perjalanan yang panjang, mereka tiba di pemukiman kumuh tersebut. Mark yang menyertai mereka terlihat terkejut melihat kondisi rumah Teguh yang cukup sederhana. Namun, Herman segera memberikan instruksi pada Mark.
"Hentikan ekspresimu, Mark. Jangan sampai mengeluh atau menunjukkan ketidaknyamananmu di sini," ujar Herman dengan tegas.
Mark mengangguk memahami, mencoba menahan reaksi terhadap kondisi pemukiman kumuh itu. Teguh yang berdiri di sampingnya terlihat senang dan bahagia bisa kembali ke tempat asalnya dan berteriak kegirangan.
(4) "Ahh… rumahku, aku rindu rumahku yang disana dan nenekku juga," ucap Teguh.
"Bisa-bisanya kau hidup di sana, aku hampir mati tinggal disana," ujar Herman sambil tertawa kecil.
"Tinggal di sini memang tidak semewah di rumahmu, Herman," kata Teguh dengan canda.
"Ya, kita tidak bisa selalu hidup dalam kemewahan seperti di rumah Victrop, Teguh. Kita harus terbiasa dengan kenyataan," balas Herman sambil tersenyum.
Ayah Teguh berusaha memberikan penjelasan kepada Mark, "Maafkan kondisi rumah kami, Mark. Kami akan melakukan yang terbaik."
Mark merespons dengan ramah, "Saya mengerti, Pak. Tidak masalah."
Mereka kemudian masuk ke dalam gubuk tua yang merupakan rumah Teguh. Herman berusaha menunjukkan sikap yang penuh semangat, mencoba membiasakan diri dengan keadaan yang jauh berbeda dari rumahnya. Dia terlihat senang karena akhirnya bisa menepati janjinya untuk membantu pemukiman kumuh itu berkembang lebih baik.
(6) Setelah memikirkan hal yang akan mereka lakukan. Akhirnya, Herman, Teguh, dan Ayah Teguh, mempunyai rencana untuk mendirikan perpustakaan di daerah kumuh itu. Mereka juga sedikit merenovasi sekolah-sekolah di daerah itu dan memperbaiki jalan-jalan yang rusak untuk meningkatkan mobilitas daerah itu.
(1) Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang dia pelajari dari kediaman Victrop, Herman mulai memimpin upaya-upaya pengembangan.
Walaupun awalnya merasa ragu, masyarakat kumuh mulai membuka diri dan bekerja sama dengan Herman.
Herman berpikir bahwa pendidikan dan infrastruktur jalan penting untuk meningkatkan peluang di masa depan. Akses pendidikan yang mudah dicapai masyarakat dapat meningkatkan sumber daya manusia di daerah itu. Pembangunan jalan dan sarana transportasi juga meningkatkan akses masyarakat ke berbagai kebutuhan.
“Anda sudah melakukan sebaik mungkin,” ucap Mark kepada Herman sambil memandangi daerah yang mulai dibangun kembali. “Selanjutnya, mereka yang harus memaksimalkan semua perjuangan Anda.”
“Aku tidak bisa mengubah masyarakat, tapi aku berharap bisa menggerakkan hati mereka untuk menjadi lebih baik dengan membantu pembangunan dan perbaikan di wilayah ini,” kata Herman bangga.
“Saya senang mengenal Anda, tuan Herman.”
“Senang mengenalmu kembali, Mark.” Herman melepaskan topinya dan membiarkannya tertiup hembusan angin. “Urusan kita di sini sudah selesai, mari pulang.”
Teguh berlari menghampiri Herman dan Mark. “HEI… tunggu aku,”
“Ada apa?” tanya Herman bingung.
“Apa kalian sungguh akan pulang?” tanya Teguh.
Mendengar pertanyaan itu, Herman dan Mark saling berpandangan. Lalu, Mark berkata, “Benar, tuan Teguh. Kami akan segera kembali.”
“Lalu bagaimana denganku?” tanya Teguh sedih.
“Maksudmu?” tanya Herman bingung.
Mark berkata, “Tuan Teguh, Anda akan baik-baik saja disini.” Dia menatap Teguh dengan saksama. “Anda mendapatkan pengalaman berharga selama belajar di kediaman Victrop yang harus Anda ingat baik-baik.”
“Tapi… A-Aku…”
“Meskipun penampilan Anda berubah, saya yakin hidup Anda akan baik-baik saja.”
Herman menambahi, “Harusnya kau berbangga hati mendapatkan tubuhku secara gratis. Tubuh yang kurawat selama 17 tahun dengan baik.” Herman mulai melangkah menjauhi daerah itu. “Kita akan kembali sekarang.”
“Baik, tuan Herman.” Mark menghadap Teguh dan mengucapkan salam perpisahan. “Sampai bertemu jika ada kesempatan berikutnya, tuan Teguh.”
“Tolong jaga diri dirimu dan keluargamu dengan baik,” ucap Herman sambil berjalan menjauh.
“Aku mengerti, terima kasih Herman,” ucap Teguh sambil melambaikan tangan kepada mereka. “Jaga dirimu!”
Teguh berdiri di tengah-tengah pemukiman kumuh, menyaksikan Herman dan Mark menjauh. Ada sedikit kesedihan dalam dirinya, namun dia juga merasa bersyukur atas pengalaman berharga yang telah dia dapatkan.
Dengan tekad yang bulat, Teguh merangkul masyarakat setempat untuk bekerja sama, membagikan visinya tentang masa depan yang lebih baik untuk daerah kumuh tersebut.
Selama proses tersebut, Teguh bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi pemukiman kumuhnya. Meskipun telah kembali ke kehidupannya yang sebenarnya, dia merasa memiliki kewajiban moral untuk membantu masyarakat setempat tumbuh dan berkembang.
Di tengah perjalanan membangun daerahnya, Teguh sering kali teringat pada masa-masa di kediaman Victrop, belajar banyak hal tentang kehidupan dan pengalaman berharga. Dia bertekad untuk menggunakan semua ilmu dan wawasan yang didapatkannya untuk kebaikan bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
TUBUH YANG TERTUKAR [END]
Novela JuvenilCerita ini merupakan cerita bersama yang dirangkai oleh beberapa orang; ide yang ada di cerita dibiarkan mengalir dan melatih para penulis untuk mengembangkan kemampuan menulis masing-masing. ---> intro Herman tidak menyangka akan berakhir seperti...
![TUBUH YANG TERTUKAR [END]](https://img.wattpad.com/cover/358232277-64-k599927.jpg)