ENAM BELAS

3 0 0
                                        

(1) Sesampainya di perpustakaan, Herman dengan cuek langsung mengambil buku-buku pengembangan wilayah. Dilihatnya tutor ekonomi yang sedang menatapnya. “Selamat pagi, Mark,” sapa Herman.

“Selamat pagi, Tuan Herman,” sapa Mark sopan. “Sepertinya Anda sudah kembali ke rumah.”

“Aku akan berkonsultasi denganmu terkait pengembangan wilayah sekarang ini,” ucap Herman tegas.

“Maaf, tapi apa yang harus kami lakukan?” tanya Ayah Teguh bingung.

“Menurut kalian, apa yang dibutuhkan suatu wilayah agar bisa berkembang?” tanya Mark kepada Teguh dan ayahnya.

Teguh dan Ayah Teguh pun kebingungan dengan pertanyaan itu, membuat keduanya saling berpandangan.

“Bagaimana dengan Anda?” tanya Mark kepada Herman.

"Perputaran ekonomi membuat kemajuan suatu wilayah. Jiwa konsumerisme itu sebenarnya bagus," Herman menutup bukunya dan duduk di kursi putih melanjutkan ucapannya. "Sebenarnya, suatu wilayah menjadi makmur karena jiwa konsumerisme masyarakatnya. Mari ambil contoh Mark membeli sepatu, maka si penjual sepatu mendapatkan uang dan harus menyiapkan sepatu baru untuk dijual. Si penjual sepatu, mempekerjakan pembuat sepatu, pembuat sepatu mendapat pekerjaan dan upah. Akhirnya, pembuat sepatu membiayai hidup keluarganya, keluarganya pun bisa membeli kebutuhan pokok yang diperlukan mereka. Jika mereka membeli beras, maka penjual beras mendapatkan laba dan meminta persediaan beras baru dari petani untuk dijual. Transaksi semacam ini memutar alur ekonomi dan memakmurkan masyarakat jika dilakukan terus-menerus."

Mark pun menambahi, “Benar sekali, Tuan Herman. Jiwa konsumerisme masyarakat itu bagus untuk pengembangan ekonomi. Justru penghematan berlebihan tidak membantu memutar alur ekonomi. Munculnya self-reward pada zaman sekarang ini semakin meningkatkan produksi barang-jasa.”

“Self-reward ya… aku pun teringat juga melakukannya,” ucap Herman.

“Benar, saya pun melakukannya, sebagai contoh jika saya berhasil menyelesaikan materi pertumbuhan pasar dengan baik, maka saya akan mentraktir diri saya sebagai hadiah. Hal-hal seperti ini sangat membantu pertumbuhan ekonomi karena memungkinkan industri barang dan jasa yang mendukung konsumerisme akan naik daun juga.”

Melihat Teguh dan Ayah Teguh yang baru tersadar mendengar fakta yang baru dibicarakan, Herman berkata, “Lebih baik mengajari mereka tentang pertumbuhan ekonomi terlebih dahulu! Akan percuma jika mereka tidak mengerti apa yang harus dilakukan nantinya,” perintah Herman kepada Mark.

“Baik tuan Herman, saya mengerti,” jawab Mark.

Teguh dan Ayah Teguh mulai mempelajari banyak hal seputar bisnis dan ekonomi dari Mark. Teguh pun harus bersiap mempelajari etika kelas atas karena ulang tahun Axel yang akan diselenggarakan. Akhirnya, Teguh pun berusaha berlatih selama beberapa hari hingga acara itu.

(2) "Aku memang berlatih keras berlatih untuk menghadapi situasi saat ini, tapi tetap saja ini membuatku sangat gugup," pikir Teguh dalam hati.

Setelah mempersiapkan diri selama beberapa hari, akhirnya acara ulang tahun Axel tiba. Hari ini, Ayah Herman akan mengumumkan kepada publik bahwa Axel yang akan menjadi pewaris keluarga Victrop selanjutnya. Tentunya perubahan ahli waris ini akan mengejutkan konglomerat yang lain. Hari itu merupakan hari yang berat bagi Teguh yang harus berpura pura jadi Herman.

Acara dimulai, Teguh mengenakan kemeja putih berdasi kupu-kupu dengan setelan jas hitam formal dipadukan celana panjang dan sepatu hitam. Mengenakan pakaian seperti itu membuat Teguh merasa semakin gugup. Banyak orang mulai berdatangan ke kediaman keluarga Victrop. Herman dan Teguh yang berada lantai 2 melihat ke kerumunan orang di acara itu.

"Teguh, akan kuhajar kau jika mengacaukan hari penting ini," ucap Herman dengan sedikit mengancam.

"Hah, kau pikir siapa aku, hal seperti mudah untukku," jawab Teguh mencoba bertingkah seperti Herman sambil menyembunyikan kegugupannya.

(3) "Aku khawatir kau akan melakukan sikap aneh sehingga orang-orang curiga terhadapmu," kata Herman.

"Tenang saja aku tidak akan bersikap seperti yang kau pikirkan." Teguh mencoba untuk meyakinkan Herman bahwa tidak akan ada kekacauan seperti yang Herman khawatirkan.

(4) "Baiklah, kalau begitu," ucap Herman.

TUBUH YANG TERTUKAR [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang