Ending

1.6K 84 3
                                    






Typo bertebaran.....








.









.













.









" Kaarrinnaaaa........!"











.



.










"Rinn.... Bangun"


" Rinaa, bangun rinn...."




"KARINAaaa....!"












" aaakkhhhhh Winterrr....."









Winter yang di panggil namanya pun hanya bisa terdiam heran menatap kekasihnya yang baru saja tersadar dengan nafas terengah engah. Karina baru saja bangun tidur akan tetapi deru nafasnya terasa begitu berat nan cepat seperti baru saja berlari ribuan kilo meter.

Karina melirikan matanya kearah gadis mungil yang sedang menatap juga kearahnya. Mereka berdua saling bertukar tatap selama beberapa detik saja, Winter menatap Karina heran begitu juga dengan Karina yang lebih tidak habis pikir kenapa Winter bisa ada disini.

"Apa aku sudah mati?" Ucapan yang keluar dari mulut Karina membuat Winter lipatan kulit pada keningnya terlihat begitu jelas. "Kamu ngomong apaan sih?" Ujar Winter menanggapi.

"Aku,, apa aku sudah mati dan berada di surga?" Tanya Karina kembali, Winter hanya bisa memijat pelipisnya mendengar ocehan tidak masuk akal dari kekasihnya itu.

"Maksudmu apa sih..?"

"Sumpah demi apapun aku gak ngerti"

Kini giliran Karina yang sedang merenung memikirkan penuturan kata dari Winter untuk dirinya.

"Giselle mana?"

"Giselle....." Karina menganggukan kepalanya lalu berkata "mana... dimana dia, sepupu gila itu belum mati kan win..?" Winter semakin tidak mengerti dengan apa yang Karina ucapan kepadanya. Kekasihnya itu baru bangun tidur, dan seingat Winter sebelum tidur kepala Karina enggak kepentok apa-apa.

"Rin... ngomong yang bener" ujar Winter kemudian. Karina menatap Winter yang semakin merapatkan tubuhnya kearahnya.

"Aku udah ngomong bener, aku baru aja bunuh diri loncat dari atap rumah sakit, ini alam baka Win... kenapa kamu ada disini..?? Pergi, ini bukan tempat kamu, kamu gak boleh ikut" Karina meraih pundak Winter lalu di goyang-goyangkan secara perlahan. "Pulang win... kasihan anak kamu" ucap Karina melanjutkan perkataannya. Kalimat terakhir itu membuat Winter membulatkan kedua matanya.

"Kamu ngomong apaan sih... gak jelas banget, mati, anak, pulang..?? Siapa yg mati, siapa yg punya anak dan siapa yang harus pulang...????" Winter menurunkan tangan Karina dari pundaknya, lalu membalikan keadaan menjadi dirinya lah yang sedang mengukung tubuh Karina sambil menatapnya begitu dalam.

"Liat aku Karinaa" ucapan Winter nampak seperti mantra sihir yang membuat Karina memfokuskan penglihatan nya pada kedua manik coklat itu.

"kamu gak papa kan?" Karina menggelengkan kepalanya dengan pelan, Winter menghembuskan nafasnya lalu menyerukan kembali suaranya. "Kamu mimpi buruk?" Karina menganggukan kepala sekali lalu menggelengkan kepalanya setelah dirinya menyadari jika itu bukanlah sebuah mimpi.

"Itu bukan mimpi, jika itu mimpi tidak mungkin terasa begitu nyata" ucap Karina sembari menatap wajah Winter yang berada tepat beberapa senti didepan wajahnya. "apakah aku boleh tau,? mimpi apa yang sudah menjadikan kekasihku seperti orang tidak waras" Karina mempoutkan bibirnya tidak setuju dengan perkataan Winter yang mengatakan dirinya orang tidak waras.

OBSSESION (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang